Racauan Nyai' / Ruang Rupa

Akibat salah gaul, menemukan cinta untuk diri sendiri

eks I

Setiap orang memiliki ground battle-nya masing-masing, salah satu yang dimiliki oleh sebagian kecil; sebagian besar; kalian; dan tentu saja saya adalah kecantikan, kepercayaan diri terhadap fisik. Ini bukan lagi hal baru, pun tidak hanya dialami oleh perempuan tapi juga pria. Tapi saya hanya mampu membicarakan dari sisi saya, atau sedikit dari mereka yang menceritakan kisahnya pada saya, perempuan-perempuan yang pernah; sedang ataupun masih berada dalam ground battle kecantikan.

Jabaran tentang perempuan cantik masih terus bergema di kepala saya. Beberapa tahun lalu saya cukup PD dengan wajah saya, tapi tidak dengan tubuh saya. Tapi setelah mengalami yang namanya fase depresi saya kerap menghujat seluruh penampilan saya mulai dari dalam hingga luar.

Saya tidak pernah memenuhi standart kecantikan di masyarakat; saya tidak pernah memiliki kulit putih mulus, rambut indah tebal ala bintang iklan shampoo dan pemain sinetron, kaki mulus jenjang ala girlband korea, alis tebal ala beauty blogger, wajah mulus nyari tanpa pori-pori, atau tubuh semok sintal atau ramping aduhay seperti model catwalk. Sepertinya saya selalu menjadi kebalikan dari jabaran cantik itu sendiri; kulit kadang kuning langsat kadang coklat kadang butek, alis botak yang mitosnya mampu melihat alam ghoib, dahi lebar bak lapangan gold, rambut tipis selembar kertas minyak yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah memanjang akibat saya yang menjadi pecandu potong rambut dan menjajal babershop lokal, jerawat yang hobi tumbuh akibat kedatangan bulan yang hanya dua bulan atau tiga bulan sekali, tinggi yang tidak lebih dari mesin ATM (sungguh ini saya pernah ngukur), kaki yang terdapat lukisan abstrak setelah bercumbu dengan aspal intinya kulit saya nggak ada mulus-mulusnya.

Dulu, walaupun saya nggak pernah PD memakai pakaian yang memperlihatkan ketiak dan punggung, saya cukup percaya diri dengan penampilan fisik saya. Yah, maklum… muda, dan saya sering disebut awet muda. Dulu…sebelum akhirnya beban makin merajalela :)). Depresi melahap banyak sekali kepercayaan diri saya, apalagi kalau mengingat-ingat ucapan orang terdekat saya: “ih jelek banget rambut pendek”, “kamu jelek banget sih, nggilani gendut gitu”-ini adalah ketika saya sempat menggemuk dan saya super happy menikmati kemontokan namun ada orang terdekat yang menganggap saya gemuk itu menjijikan, atau ketika saya kurus: “toketmu kok cilik seh koyok lanang”, “wedok opo nggak nduwe susu”, “kamu jangkis ya?”, dll. “Jidatmu loh Nad, koyok lapangan golf”, “idungmu loh pesek”, “kelekmu loh nad”, “jerawatmu loh Nad”,….mungkin dari ujung rambut sampe ujung jempol saya nggak ada yang sedap dipandang. Tapi saya tahu, kalau saya oprasi plastik saya juga bakalan tetep di bully, dibilang tidak menghargai pemberian Tuhan, nggak bersyukur, atau nggilani lapo seh?

Dulu saya pura-pura kuat, dan menutup tubuh saya supaya tidak memancing hujatan. Efeknya saya jadi suka ngiri kalau ada yang PD pakai pakaian yang memperlihatkan tubuh mereka. “Ih PD banget selulitnya kemana-mana”, “ih pd banget keteknya item gitu loh”, “ih pd banget punggungnya jerawatan nggilani”, dan hujatan-hujatan lainnya yang intinya sebenernya saya iri kok bisa mereka sePD itu dan sangat menikmati dirinya, bisa cuek walaupun mereka ngerti kalau sedang dicibir dan dinilai.

Ada beberapa penyebab saya sekarang mulai berani melawan ketakutan saya terhadap cibiran, penilaian tentang fisik saya. Saya bertemu dengan lingkungan yang membuat cara pandang saya berubah, yang menularkan ke saya untuk menikmati diri sendiri, mencintai diri sendiri, tidak apa-apa kamu mau pakai tank top hotpants atau apapun walaupun banyak yang bilang merusak pemandangan. Saya memang mengalami depresi, tapi Syukur Alhamdulillah saya bertemu orang-orang yang tepat, yang merangkul saya, yang mendengarkan saya, yang tidak menganggap saya gila kamu harus masuk rumah sakit jiwa.

Dari pertemuan saya dengan mereka, saya mulai berani mencoba hal-hal yang sebelumnya saya urung lakukan karena takut dengan penilaian banyak orang. Salah satunya tattoo. Bagi saya tattoo juga menjadi penyelamat saya. Beberapa tattoo ini mengingatkan selalu mengingatkan saya tentang momen, tentang fase menyedihkan dan menyenangkan, tentang kekuatan yang ada dalam diri saya, mengingatkan saya untuk memperlakukan diri saya seperti manusia dan membiarkan diri saya untuk menikmati perasaan-perasaan yang manusiawi sampai yang kata orang negatif sekalipun; Bahwa segala sesuatu itu tidak pernah benar-benar hitam ataupun putih, tidak pernah benar-benar salah ataupun benar, tidak pernah benar-benar buruk ataupun baik; terkadang kita malah bisa menemukan keduanya tergantung dari sudut pandang mana kita mau melihat, mendengar atau merasakannya. Juga mengingatkan saya bahwa saya masih hidup, layak untuk hidup. Bahwa tubuh, pikiran, perasaan dan jiwa ini adalah rejeki dari Tuhan untuk saya; pahamilah, rasakan, cintai, hiduplah dengannya.

Tattoo ini seperti sebuah pelukan dari diri saya untuk saya sendiri. Seolah menjadi keberanian bagi saya untuk mengakui, iya, saya depresi, saya lemah, saya menangis sendirian dan menghujat diri saya sendiri, saya marah, iri, saya membenci. Tapi tidak apa, rasakanlah amarahmu, kebencianmu, lukamu, sakitmu, sedihmu, menangislah selama apapun yang kamu ingin sampai kamu tertidur. Esok kamu bangun, kamu hidup, kamu dan jiwamu, ternyata mampu untuk melewatinya. Selamat! Kamu naik kelas! Selamat! Lihat, mereka yang mencintaimu karena kamu seutuhnya menunggumu, menyisakan segelas kopi susu dan surya untuk dinikmati bersama. Menunggumu menceritakan kisahmu. Menunggumu memeluk mereka.

Saya mulai berjalan di tengah kerumunan orang yang menghina saya lantaran saya memakai pakaian yang memperlihatkan paha, atau lengan, ketiak, atau belahan payudara, atau punggung, atau kaki, atau dengkul, atau mereka yang bergosip bahwa saya lesbian, saya buci, Nadia telat nakal, Nadia sekarang nggak bener, Nadia salah gaul, tuek gumbul arek cilik yo ngono kelakuane, wes rondo ra nggenah, perempuan tapi pacakane ngono sopo sing arep ngerabi. Terus menerus saya suguhkan sampai mereka lelah nyinyir.

Ini yang setiap hari selalu saya ingatkan untuk diri saya sendiri: Kamu tidak hidup untuk supaya dinikahi seorang pria, kamu tidak berdandan untuk menyenangkan orang, kamu tidak melakukan ini atau melakukan itu supaya dinilai baik oleh orang lain, kamu melakukan ini atau tidak melakukan ini bukan untuk dinilai WOW oleh orang lain, kamu melakukan atau tidak melakukan untuk dirimu; menyenangkan dirimu, untuk kenyamananmu, kamu tidak hidup untuk memuaskan orang lain. Kamu adalah milikmu, Tuhan memberikannya untukmu, jangan biarkan orang lain untuk menguncimu atau memberhakkan dirinya atasmu atau menguasai apalagi memanipulasimu.

Ketika saya mulai menikmati, menerima diri saya sendiri; saya mulai melakukan hal-hal yang saya inginkan, saya belajar bertanggung jawab atas pilihan saya melakukan ini dan itu, saya mulai belajar berkata tidak, saya mulai memandang orang lain dengan berbeda…saya mampu melihat kecantikan dalam diri orang lain. Saya belajar untuk berhenti menilai orang lain dari kemasan, saya belajar melihat sebuah hal dari berbagai sisi, saya belajar mendengarkan orang lain, saya belajar berempati, saya belajar menghargai proses, saya belajar untuk tidak menyepelekan orang lain, saya berhenti meninggalkan komen-komen yang menyakitkan di kolom komen selebriti dan lainnya :)) Saya menjadi lebih fokus dengan hidup saya, karena itu tanpa sadar hanya ada sedikit ruang bagi saya untuk mengurus hidup orang lain, mengatur hidup orang lain, menilai orang lain, menghina orang lain, membenci orang lain.

Saya mulai memanusiakan diri saya sendiri, dengan begitu saya mampu melihat orang lain sebagai manusia. Pandangan tentang kecantikan dan ketampanan yang saya miliki telah berubah. Saya tidak lagi membuat diri saya menarik untuk digoda pria, menarik perhatian pria. Saya tidak lagi menyamaratakan pria, bahwa pria hanya tertarik dengan perempuan lantaran fisiknya saja, bahwa ada hal-hal lain yang melebihi itu. Bahwa priapun dapat memandang perempuan bukan sekedar objek, sekedar untuk memenuhi birahi, sekedar untuk menandai kekuasaan atas perempuan. Saya belajar untuk tidak memandang kecantikan atau ketampanan dari sekedar fisik.

Saya bersyukur saya mengalami ketelatan nakal atau salah gaul ini, saya bertemu dengan kawan-kawan kolektif yang mengajarkan saya untuk lebih mandiri, melakukan apa yang bisa saya lakukan, untuk saling menghargai, saling support. Khususnya kawan-kawan kolektif perempuan, Kolektif Betina, yang mungkin telah memeluk banyak perempuan lainnya, dan semoga saya bisa memeluk kawan-kawan lainnya.

Pun saya bersyukur mengalami depresi, akhirnya menyadarkan saya untuk menerima diri saya dan memperlakukan diri saya sebagai manusia.

Ah…cerita yang membosankan…

Tsun sayang buat mas mas gondrong bersahaja dimanapun, MMMUUAACH!

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s