Racauan Nyai' / Ruang Pamer / Uncategorized

Trend Menjadi Tuhan

Entah kenapa akhir-akhir ini saya mudah tersulut di dunia maya, Facebook terutama. Yang tadinya mau mengusir kebosanan sebentar sebelum kembali menjadi kuli, malah berubah jadi esmosi :)).

Sekarang yang lagi booming adalah isu LGBT. Berbondong-bondong masyarakat yang mengikrarkan diri sebagai kelas Agamis mengeluarkan komentar-komentar hujatan tralala trilili, dengan dalil sesama umat Muslim harus saling mengingatkan. Lalu menyebutkan serentetan dalil, ayat dan sejarah. Semuanya diserukan berbarengan dengan ‘kalimat kasar’, yang padahal dalam agama yang mereka anut katanya mengajarkan kebaikan, dan yang mereka lakukan demi kebaikan.

Saya dibesarkan dari keluarga Islam yang notok jedog, saya sendiri masih berproses mempelajari Islam. Saya menemukan kasih sayang di dalamnya, kesabaran, bahwa apa yang saya yakini, Tuhan yang saya percayai dengan ajaranNya adalah sebuah cermin bagi saya. Bahwa tidak mudah untuk memahami Isi di dalam kitab suci, Al-Qur’an yang hingga sampai saat ini saya belum khatam. Lantaran ngotot ndableg mau paham bukan hapalan, tapi…jeng jeng! Bagaikan membaca sederet kalimat super sastra yang seksinya kek Legolas waktu ngomong bahasa peri! Memahami sastra dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa yang diterjemahkan saja otak saya yang agak kecil ini kurang mampu, ini bahasa asing-bahasa Arab yang diterjemahkan. Bahkan kawan-kawan saya yang berdarah Arab dan bisa bahasa Arab lancar aja sangat takut sembarangan mengartikan, sangking halusnya, sangking indahnya, sangking semuanya berdasarkan kasih sayang.

Mangkanya kisah yang saya dengar tentang para Nabi dan Rasulullah adalah Beliau-beliau yang sangat super penyabar dan penuh kasih sayang. Nah para orang-orang besar ini juga kerap disebut-sebutkan oleh para penghobi hujat.

Kemarahan saya yang saya ketuskan di jejaring sosial dianggap banyak orang saya Kafir, menjatuhkan agama sendiri. Padahal yang saya ketuskan adalah attitude, cara kita sesama Muslim saling memperlakukan dan cara kita memperlakukan non-Muslim. Yang saya ketuskan tidak pernah Islam-nya tidak pernah Tuhan. Dan bagaimana saya mau mengkritik kawan-kawan atau agama lain kalau 10% aja belum ada tuh paham-pahamnya. Saya cuma sesekali membaca tulisan dan mendengarkan tentang agama lain.

Tiap orang bebas beragama, percaya pada apapun yang ingin dipercaya, membenci apapun yang ingin dibenci. Tapi dengan membawa-bawa sesuatu yang pula diyakini orang lain sebagai sebuah keindahan dan kebaikan, disandingkan dengan kebencian paksaan dan amarah; bagai momok menjijikan buat saya.

Ini bukan perkara LGBT dan pro-kontranya semata, Agama yang saya anut ini sedang diberhalakan oleh manusia-manusia yang begitu angkuh ‘HANYA KARNA DILAHIRKAN SEBAGAI ISLAM’, yang memuja muji Tuhan demi pahala semata, demi Syurga semata, yang rajin sekali beribadah dan beramal materi luar biasa melimpah. Kita ini seperti ibu-ibu yang suka ugal-ugalan dijalan yang mungkin bapak-bapak penunggang moge aja minggir sambil sujud nangis ketakutan minta dikasih perlindungan sama Tuhan, lantaran katanya Syurga ditelapak kaki ibu jadinya maybe it’s okay to ugal-ugalan di jalan bahkan sampai mencelakakan orang lain sekalipun. Atau para pelaku trend hijab yang hobi nongkrong di ruang kelas atas menyapa Assalammu’alaikum sebelum akhirnya kembali lagi bergunjing. Atau para pengutip ayat, sabda, yang suka komentar di akun orang orang famous di Instagram “Astaghfirullah kelakuannya seperti perek”, atau sembari avatar akunnya menggendong buah hati dengan penampilan pakaian santun nan Syar’i menuliskan “anak lonte”.

Katanya sesama Muslim wajib saling mengingatkan, menegur. Entah mengapa dari sekian banyak teguran dengan cara yang sangat luar biasa humble dan penuh kasih sayang yang dipilih adalah makian, kebencian. Ketika diserang balik, melakukan pembelaan “jangan hina gama atau hijab atau sorban atau jenggotnya dong, masih mending kita menutup aurat, masih mending kita shalat 5 waktu, masih mending kita udah khatam Al-Qur’an seribu kali.”

Pada akhirnya hanya menjadi perbandingan siapa yang pahalanya paling banyak, siapa yang lebih pantas masuk Syurga dan dengan seenaknya menunjuk siapa yang layak masuk Neraka, siapa yang paling tidak suci.

Pernahkah kawan-kawan berdialog, berbicara dengan mereka yang kalian hina, yang kalian dosa-dosakan? Pernah kalian berusaha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam proses kehidupan mereka? Apa pernah kawan-kawan berusaha melakukan pembicaraan antar manusia sejenak keluar dari segala kotak perbedaan?

Sering kali saya berpikir, ini bukan perkara dosa atas dasar agama, ini bukan perkara keburukan yang dilakukan. Namun semata ketidakpuasan atas pilihan hidup dan terlalu takut mengakui dan menghadapi, lalu mencari sosok untuk dikambinghitamkan. “Tuhan aku telah melakukan kesalahan, tapi dia melacur, dan dia telah meniduri banyak perempuan, tukarkan posisi Syurga mereka untukku, aku cuma menghina si banci itu.”

Atau sekedar karena ia yang kita hujat begitu bebas memilih, memiliki apa yang kita inginkan, bahagia dengan hidupnya. Hingga kita dikuasai iri, sambil denial bahwa diri ini menganggap hidup yang tengah kita jalani jancuki luar biasa.

Tuhan memberikan kita dua mata, dua telinga, satu mulut, otak yang unlimited, hati yang sempurna untuk saling melengkapi. Beberapa orang mendamba bisa bicara untuk sekedar berkata sayang pada ayah dan ibu, dan mereka yang memiliki kesempatan bicara memilih mempergunakan suaranya untuk menebar kebencian.

Salam kesedihan, kalo kebelut pup jangan ditahan. Piss love and stay Fangki.

:*

Iklan

One thought on “Trend Menjadi Tuhan

  1. 😊 kita tidak tahu akhir hidup seseorang akan menjadi seperti apa, belum tentu kita akan lebih baik daripada dengan orang yang dihina saat ini. Akhlak yang buruk juga bisa menjadi penyebab masuk neraka setelah syirik. Lebih baik mendoakan daripada mencela/menghujat. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan meniru akhlak Rosullulloh sallallahu’alaihiwassalam. Aamiin 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s