Racauan Nyai'

Menjadi Orangtua

Mungkin dari judulnya terkesan sok tahu karena saya sendiri belum punya anak walaupun sudah menikah. Dulu karena menikah ‘dengan kesan terburu-buru’ banyak yang bergunjing sama hamil duluan, sekarang giliran sampai setahun menikah belum punya anak banyak yang sepertinya merasa terganggu dengan alasan saya. Saya pribadi bukan maksud ingin punya momongan, di awal pernikahan saya malah kepingin cepat punya anak, tapi memang belum rejeki. Saya dan suamipun memutuskan untuk menunda.

Alasan menunda ini langsung ‘dihajar’ puji-pujian Tuhan sampai sebutan dosa. Tapi saya dan suami santai, karena kami menikah memang bukan untuk menjadi mesin berkembang biak dan melestarikan keturunan. Kami menikah ingin saling melengkapi, menjadi fondasi kuat bagi rumah yang nantinya akan dihuni oleh langkah langkah kecil para pemimpi ulung. Karena ingin membesarkan para pemimpi ini kami harus terlebih dahulu melangkahkan beberapa kaki, hidup berdampingan dengan mimpi, supaya kelak kami bisa menunjukkan kepada calon calon pemimpi kami kalau di tengah dunia yang kejam dan semakin menggila ini mimpi adalah salah satu hal yang mampu menyelamatkan umat manusia! Hihi…ini guyonan yang serius!

Saya banyak mendengarkan kisah sekaligus untuk mempersiapkan diri sebagai orangtua, karena kini peran orangtua semakin bias sama halnya dengan keluarga. Seperti yang kawan saya katakan “susahnya berkawan dengan keluarga tapi begitu mudah berkeluarga dengan kawan”. Kalimat itu telak! Tidak banyak orangtua dan keluarga yang mau saling menerima apa adanya, ada beberapa jargon seperti : DURHAKA!, tidak tahu sopan santun!, kehormatan keluarga, dan lain sebagainya. Tiap bagian keluarga mengalami disfungsional karena masing-masing hanya mencintai apa yang disebut kebaikan dan menghardik mati-matian apa yang disebut masyarakat ‘keburukan’ ‘kesalahan’. Seperti kebanyakan hanya mencintai Tuhan karena takut dosa, karena ingin masuk Syurga. Semua ingin imbalan.

2bf8f166934d526161b2b574f4c16a6f

“Untuk menjadi orangtua, berarti untuk menjadi ikhlas jiwa dan raga. Bagaimana bisa? Bayangkan saja, oleh Tuhan kamu pria dan wanita, dititipi sebentuk jiwa. Perempuan bahkan membawanya kemana-mana hingga sembilan bulan lamanya, lalu melahirkannya ke dunia dengan hampir mengorbankan nyawa tapi tetap harus mengikhlaskan bawa sebentuk bayi mungil tersebut bukanlah miliknya. Pula pria yang harus meneteskan peluh demi memenuhi kebutuhan istri dan si jabang bayi, harta yang ditumpuk bertahun-tahun semakin terkikis dan rambut semakin memutih, semua demi jiwa yang tidak pernah akan menjadi milik. Namun, sayangnya hanya sedikit yang bisa mengikhlaskan…mereka bermain-main dengan apa yang sudah ditetapkan Tuhan, malah menjadi bayi-bayi kecil tersebut sebagai jaminan masa tua. Mengelu-elukan bahwa Syurga berada di telapak kaki ibu, Ridho orangtua adalah ridho Allah SWT, ketika anak melakukan kesalahan keluarlah serapah DURHAKA! ANAK TIDAK TAHU BALAS BUDI! ANAK TAK TAHU DIUNTUNG!. Kesalahan dianggap mencoreng nama baik keluarga. Bahwa menjadi orangtua berarti menjadi selalu benar dan anak adalah segumpalan dosa yang pantas dihamba sahayakan.”

“Menjadi orangtua, bagai menjadi pemimpin. Sebelumnya kamu bisa berkampanye merayu Tuhan, aku ingin menjadi orangtua aku sudah mapan aku telah terbiasa merawat anak aku berjanji akan membahagiakannya dan bla bla bla. Setelah kamu menjadi yang terpilih, godaan untuk menjadi lupa akan janji-janji bagaikan ilusi gemerlap. Kamu akan dengan mudah tersulut emosi, sombong atas pengalaman hidup, membuat banyak peraturan, memenjarakan jiwa anak. Ada yang menjauhkan anak dari kesalahan, ada yang membiarkan anak terus-terusan melakukan kesalahan atau berpura-pura bahwa si anak adalah simbol kesempurnaan. Kasih yang berlebih, ego yang berlebih, ketakutan yang berlebih, menjadi bumerang.”

“Jangan gelimangkan anak dengan harta, tapi bukakanlah jalan baginya, ajarkan ia berjalan lalu lepaskan biarkan ia terjatuh atau bahkan tersesat. Jangan suruh anakmu mengejar gelar pendidikan setinggi mungkin, ajari ia memahami ilmu dan menerapkannya. Jangan pisahkan ia dari mimpi-mimpinya, ajari ia hidup berdampingan dengan mimpi-mimpinya. Jangan suruh ia bekerja demi kemapanan, ajarkan ia tentang petualangan, bahwa setinggi mimpinya ia akan menemukan jalan dan kawan-kawan untuk bersenang-senang dan memahami kehidupan. Ingat, untuk menjadi orangtua, selami kembali dirimu, temukan jiwa anak-anak yang selama ini kamu pendam, merekalah yang akan membantumu berbicara bahasa kasih pada anak-anakmu kelak.”

Itu nasihat yang benar-benar saya pegang dan akan saya pelajari, mensia-siakan dan memanjakan anak sama mengerikannya. Saya pernah menjadi anak dan akan terus menjadi anak bagi orangtua saya, dan kelak akan menjadi orangtua. Saya ingin menerima seburuk dan sebaiknya anak saya. Saya tidak ingin anak anak saya sembunyi-sembunyi melakukan hal yang tidak disukai orangtuanya, saya ingin menjadi orang pertama yang tau, tidak untuk memarahi atau menilai tapi untuk memastikan bahwa yang dia lakukan atas kesadarannya dan dia akan menanggung resiko baik dan buruknya.

HAKUNA MATATA

NAD.

Pic : Pinterest

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s