Ruang Aksara / Ruang Pamer

Alkisah Sebuah Kutukan

Rekam imaji awal

Aku yakin tidak pernah menatapnya dalam-dalam, atau mata kami saling pandang begitu lama hingga mampu menghasilkan gelombang getaran, pula ku yakin ia tidak pernah menyentuhku dengan kemesraan, memandangku dengan keinginan terdalam. Kami hanya saling kenal, saling menyapa dan pada tahun-tahun berikutnya bahkan tak ada sapa.

Namun baru ku sadari, bahwa aku telah jatuh cinta sejak kali pertama bertemu, dan tanpa pertemuan entah sudah berapa banyak kerinduan yang menumpuk menggunduk. Aku tidak mengenalnya dan aku tetap jatuh cinta. Kami tidak saling menyapa, dan disitulah celah tempat kerinduan tumbuh subur.

Kami pernah bertemu suatu ketika, aku ingin memandangnya dalam, mencari-cari bagian mana darinya yang membuatku salah tingkah hanya dengan ia menyebut nama. Aku hampir melupakan wajahnya tapi tidak dengan bagaimana cara ia memandang, atau aroma tembakau yang ia hembuskan bagai asap candu.

Ya, kini ia adalah candu padaku…

Ketika malam, aku menyambut bahagia rasa kantuk, karena ketika memejam ia akan bertandang mengetuk pintu jelang mimpi. Kami tidak saling diam, kami berada dalam perbincangan. Berulang kami saling jatuh cinta, mengatakan tidak akan lagi saling mengacuhkan, bahwa jarak bernama diam telah menjadi luka tersendiri yang kerap mengisi hari-hari. Kalaupun kami akan menjalani hari dalam kerinduan, ia akan selalu tau jalan pulang kepada Tuan.

Maka menjelang pagi, fajar datang, aku menjadi benci. Mengetahui ketika terbangun kamu dan cintamu beserta balasan rindumu adalah ilusi. Bahwa bukan kamu yang ada di sisiku ketika ku ucapkan selamat pagi.

Suatu ketika, dalam doa, ketika dadaku begitu sesak akibat banyak-banyak menghirup rindu, aku berbincang begini pada Tuhan, “Tuhan, mengapa kau pertemukan, menggerakkan rasa yang berujung kerinduan tanpa tujuan? Mengapa begitu menyesakkan? Mengapa tidak bisa ku sampaikan padanya perihal rindu dan hatiku yang berkonspirasi menyebutnya sebagai takdir hidupku? Ya, ya…aku sudah tahu jawabannya, bagaimana ruang salah dan benar amat rancu, Kamu tahu kan Tuhan, aku hanya ingin bertanya…mungkin sedikitnya mencari-cari alasan untuk tidak menyalahkan diri sendiri ataupun ia. Jadilah Kamu ku jadikan sasaran. Oh Tuhan, cintaku begitu besar dan tak termaafkan, maka biar kerinduan tanpa pertemuan menjadi siksaku berkepanjangan.”

Kutukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s