Precious of Me / Racauan Nyai'

Bukan untuk Satinah

Hampir setengah tahun saya ndak pernah ‘eksis’ di blog, haha! Tapi entah kenapa hal-hal mengenai kampanye yang di ‘komporin’ dengan beragam kasus membuat jiwa nyinyir saya kembali! “acungkan kepalan

Hal yang menarik hati kali ini adalah permasalahan mengenai pro kontra Satinah. Sudah pasti nyerempet ke Tenaga Kerja Indonesia lainnya dan sedikit merepet ke human trafficking. Mafia-mafia ‘agency’ tenaga kerja yang bergerak bebas, masyarakat desa yang pola pikirnya semakin materialistis (thanks to perkembangan teknologi, media dan internet). Iming-iming sejahtera membuat para penghuni desa yang dulu dikenal ramah-tamah, sederhana, bersahaja seperti tinggal sejarah…masa lalu…semua ingin mengecap yang namanya pundi-pundi emas dan eksistensi. Merasakan kejamnya ibu kota, atau mengemis pada negara lain…apa bedanya dengan masyarakat kelas urban?

Runtuhnya kejayaan Nusantara, bagi saya apabila bangsanya lupa sejarah dan budaya, lupa bermimpi dan bangun esok hari demi memperjuangkan mimpi, takut berkarya, dan yang lebih menakutkan adalah ketika petani dan masyarakat desa mulai percaya bahwa hidup dalam kesederhanaan adalah sebuah kemiskinan… 😦 dan kemudian berbondong-bondong pontang-panting menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negri, atau pendidikan bertaraf internasional, dan petani menjadi tanpa regenerasi…tanpa tenaga muda dengan mudahnya dikalahkan pilar-pilar beton…

Sayangnya,..ini adalah bagian dari sejarah yang harus saya kisahkan pada anak dan cucu saya. Namun ketika kisah ini saya ceritakan pada mereka, saya pastikan bahwa generasi pejuang telah lahir kembali! Bahwa akan selalu ada haarapan dimana keseimbangan desa dan kota kembali…bahwa akan selalu ada regenerasi, bahwa kami, orangtua-nya masih berjuang dan akan tiba saatnya titah itu berada di pundak mereka.

Rasa-rasanya seperti mimpi belaka bukan? Namun saya bangga menyebut diri sebagai pemimpi, dan bertekad untuk menjadi penjaga mimpi! Biar kini saya dibilang pembual, penjual bualan, omong besar…saya tidak peduli karena saya keras hati! Hahahaha…

Kalau kawan-kawan ada yang mengikuti saya via Twitter pasti tahu baru saja saya berkoar mengenai Satinah. Dan beberapa hari lalu saya juga membaca sebuah artikel mengenai keberadaan para buruh di luar negri. Miris…saya tidak bisa menyalahkan tidak bisa juga membela. Karena di dalam perjuangan dan cinta demi menjadi sejahtera selalu akan ada yang lupa dengan tujuan awal mereka.

Saya tidak melarang kawan-kawan yang bermaksud menolong Satinah, tidak bermaksud pula menyinyiri. Namun satu hal yang mungkin terlupa…bahwa akan selalu ada Satinah Satinah lainnya sampai bangsa ini benar-benar berdiri bangga di atas kakinya sendiri. Bahwa selain membantu Satinah hari ini, HARUS ada yang mencegah terjadinya/keberadaan Satinah-Satinah lainnya di masa depan.

Membangkanglah pada industri pendidikan kawan! Mereka mau menjadikan kita kacung! Mengemis kesejahteraan pada negara lain, membiarkan kita terjajah dengan senang hati!

Tidak akan ada Satinah esok kalau kita mau bahu membahu saling mensejahterakan, dan kita tidak harus menunggu sampai Pemerintah mau ikut berpartisipasi! Beli produk kawanmu! Kalau kualitasnya tidak bagus katakan padanya di hadapannya lalu bantu ia meningkatkan kualitasnya!

Jangan berteriak kamu selamatkan Satinah atau kamu benci pemerintah, coba tengok berapa persen produk luar negri yang kamu konsumsi setiap harinya? Kepada siapa kamu bekerja mengucurkan peluh? Untuk apa kamu membanting tulang? teori siapa yang kamu elu-elukan dalam berpendidikan? ideologi siapa yang kamu perdebatkan dalam ngopi hari ini? Rokok mana yang kamu hisap?

Kita jangan bicara lagi soal Satinah, kita bicara anak cucu kita…kebanggan apa yang akan kamu kisahkan pada mereka? Tentang kamu yang mensejahterakan dirimu sendiri? tentang kamu yang berhasil terkenal di luar negri namun bangsamu hampir mati? tentang betapa perkasanya kamu ketika membakar hutan? atau mengajarkan mereka cara memaki alam karena sudah seenaknya menimbulkan gempa? mengajarkan cara memaki pemerintah lantaran sudah bayar pajak sambil buang sampah sembarangan? mengajarkan mereka menghina sekelompok orang yang masih percaya pada mimpi?

Selalu ada pilihan, selalu ada pertanyaan, dan selalu ada jawaban.

Siapakah kamu kawan?

NAD.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s