Racauan Nyai'

Yang Datang dan Pergi…

It’s been soo long… 😉

Mungkin banyak kawan yang tahu saya kini sudah menyandang gelar Nyonya…hehe…resmi sejak 30 Juni 2013 lalu saya menikah dengan yang sekarangpun asya masih anggap pacar. Saya mohon maaf untuk teman-teman yang tidak saya undang, bukan karena tidak mau, karena akad nikah kemarin diperuntukkan bagi kerabat dekat, dan Inshaallah resepsi akan digelar bulan November mendatang.

 

Banyak kawan yang kaget katanya, mengingat saya keluarpun tak banyak membicarakan tentang pernikahan, kecuali mereka yang benar-benar dekat dengan saya. As always, tertimbunlah sebuah gossip lucu yang saya anggap doa kalau saya menikah karena hamil. Tapi Alhamdulillah saya menikah karena kepingin hamil…hehe…Dan lucunya, ketika saat ini saya belum hamil banyak yang menyangka saya menunda-nunda kehamilan. Yah…mau dikata apa…saya berhadapan dengan mulut.

 

Gonjang-ganjing pernikahan ya sudahlah. Tapi kalau boleh beralasan…memang pernikahan ini yang menjadi satu hal lalainya saya memposting. Proses sebelum dan sesudahnya itu membuat saya harus cepat beradaptasi…alasan kedua adalah…modem yang kesamber petir –“…karna saya dan suami sepakat mau ngontrak akhirnya kita nunda pasang internet sampai dapat kontrakan. Tinggal di kontrakan maksudnya bisar kami belajar mandiri, sekaligus menanti sampi dapat rumah yang sehati. Doakan saja…Keputusan saya ini mau tidak mau mengorbankan hati papa saya… ;( saya memang dekat banget sama papa saya yang super oke itu.

 

Papa adalah keegoisan saya pada Tuhan yang paling besar. Emmm…saya pernah meminta sama Tuhan, jangan ambil papa sebelum saya menikah. Dan kini saya menikah, saya minta lagi sama Tuhan, jangan ambil papa sampai saya punya anak. Entah sampai kapan saya akan terus meminta… ;(… Saya masih tinggal di Malang, tidak terlalu jauh dengan rumah papa, toh Malang sempit…tapi saya pikir dengan semakin sering bertemu saya malah akan semakin berat…karena pada akhirnya kami harus sama-sama saling merelakan. Kami harus belajar untuk tidak posesif saling memiliki…

 

Oh…banyak juga yang tanya, kenapa saya menikah muda? Emm, saya menikah di akhir usia 23 setelah lulus kuliah, STANDAR!! :)) Rencana kami memang menikah tahun depan, tapi keluarga mendesak menikah secepatnya. Saya dan suami pun menganggap diri kami bukan diusia terlalu muda untuk menikah. Toh, tujuan kami sejak sekitar setahun lalupun menikah. Kami sudah sepakat ingin mulai dari 0 seperti yang dilakukan orangtua saya dan orangtua suami saya, memulai dari awal, membangun fondasi ‘rumah’ dari keringat kami. Tidak munafik, kedua orangtua pun masih membantu, memberikan jalan, tapi membiarkan kami berjuang.

 

Lalu bagaimana bisa saya yakin untuk menikah dengan suami saya? Jadi…dulu saya meminta sama Tuhan, minta jodoh yang bisa menerima keluarga saya dan teman-teman saya juga saya beserta impian dan ambisi saya, pun orangtuanya. Dan suami saya memiliki kualitas itu! :)) Lengkaplah sudah permintaan saya. Saya yang dari dulu pingin punya adik perempuan pun dikasih adik kermbar! Hihi…

 

Saya teringat sebuah diskusi dengan sahabat saya, sebelum saya menikah…Kesimpulannya, saya sudah tidak lagi dalam kondisi mencari, tapi memperjuangkan, hal tersulit dalam sebuah proses. Bahwa saya bisa saja mengejar seseorang yang saya dambakan, yang sesuai tipe saya yang dulu saya gembar gemborkan, tapi apa orang itu bisa menerima saya sepaket dengan mimpi+ambisi+keluarga+lingkungan saya? Saya yakin menjawab tidak ada yang bisa melakukan sebaik suami saya. Saya yang multi-tasking ini suka mengerjakan banyak hal dalam satu kesempatan, kelemahan saya adalah kurang teliti dengan detil, dan hadirlah suami saya yang bisa mengingatkan. :3

 

Lalu bicara mengenai setumpukmimpi dan ambisi saya. Suami saya adalah pria satu-satunya yang pernah saya pacari atau dekat dengan saya yang tidak pernah mengatakan tidak mungkin. Malah dia menyanggupi mendampingi saya setelah mengalami proses 2 tahun penjajakan. Impian sayapun tidak bisa sepenuhnya saya pahami dan dalami kalau saya tidak memiliki keluarga saya sendiri.

 

Hebatnya…menikah membuat saya lagi-lagi berada dalam posisi belajar membaca ruang. Ada mereka yang datang dan pergi. Mereka yang merasa saya pantas didampingi dan mereka yang merasa saya tidak pantas untuk diperjuangkan, dan sayapun merasakan dua hal tersebut. Saya yang sadar lagi-lagi berada dalam ruang yang membuat saya melupakan impian dan ambisi, banyak berkumpul tidak bermanfaat dan malah merugikan orang lain.

 

Saya…minta maaf pada kalian yang pernah saya sakiti sengaja ataupun tidak. Kalian yang membenci saya dengan atau tanpa alasan, maaf. Untuk para kawan yang pernah hadir…kasih saya pada kalian tidak pernah ada batasnya, tidak pernah kadaluarsa. Kalian adalah realita yang saya miliki dalam isi kepala. Saya tidak ingin lagi bicara sembunyi-sembunyi, mari sini…katakan, sampaikan, kalau di belakang saya tidak dengar.

 

Ah…saya terlalu lupa apa yang ingin saya sampaikan hihi…

 

Salam cinta sampai tua,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s