Racauan Nyai'

Ketabuan Tuhan, Bulan-bulanan Generasi Urban

Hari ini bangun kelewat siang jadi hukumannya bangun-bangun dijejeli kisah kematian Uje yang diputar berulang-ulang. Sangat menyedihkan bagi saya…seorang yang begitu bersahaja yang sudah pasti sangat ikhlas dan suka cita menerima kematiannya yang disambut pula dengan kehangatan di alam sana oleh Yang Maha Kuasa; tapi oleh media, kematian dan nostalgia keberadaannya dijadikan objek perdagangan.

Memperlihatkan betapa tipisnya perbedaan antara ketidak-ikhlasan dan keikhlasan lewat air mata dan kalimat keharuan serta kata ‘yang sabar ya’ atau ‘yang ikhlas ya’, diucapkan oleh sanak keluarga dan kawan-kawan. Seolah-olah kematian seseorang itu sangat menyiksa dan akan menimbulkan air mata kesakitan yang luar biasa bagi siapa yang mengalaminya. Manusia kini yang suka terima jadi pasti akan menerima pesan dengan klise, kemudian Tuhan menjadi tujuan permintaan dan keluhan seperti biasa…

“Mengapa kau ambil si ini Tuhan? Apa salah dia? Apa salah saya?”, “mengapa Kau biarkan dia meninggalkan saya Tuhan?”, “Tuhan saya belum mau mati…”…

“TUHAN, SAYA INGIN HIDUP 1000 TAHUN LAGI!”

lalalala…

Sambil sedang sedih, pikiran saya melayang-layang, putar-putar..teringat kembali pertanyaan saya pada diri sendiri (lagi-lagi), mengapa kini bertanya, memulai perbincangan mengenai Tuhan dan agama menjadi tabu? Seolah Tuhan dan agama menjadi momok dalam masyarakat sosial, ketabuan yang menggantikan seks yang kini diperbincangkan dengan lugas dan seronok. Pun mengucap nama puji-pujian kepada Tuhan, kerap kali dijadikan bahan ejekan atau sindir-sindiran seperti: “tumben nyebut”, “tumben inget Tuhan”, “sok agamis deh”.

Ketika ingin bertanya mengenai agama, keyakinan, atau Tuhan pada seseorang, seolah saya telah berbuat rasis dan akan dicap ‘nggak asyik’, kepo, nyebelin, untuk selama-lama-lama-lama-lamanya. Saya dianggap sok agamis, sok paling tahu tentang Tuhan…

Dan masih seolah-olah, ada sebuah pernyataan tak tertulis… “jangan ‘ber-Tuhan, ber-agama, berkeyakinan’ kalau kamu mau dicap orang syik dan cool”.

Dan bisa jadi mungkin ini adalah fenomena yang disebabkan semakin maraknya orang-orang agamis yang berteriak Allahu Akbar dengan merusak alam, merusak tatanan sosial sampai menghalalkan kematian. Atau mereka yang bergelar agamis wara-wiri di televisi tak ada bedanya dengan selebritis, memperlihatkan isi rumah, bercerita tentang kehidupan sehari-hari, bermesraan dengan keluarga…bla..bla..bla…sampai main iklan dan sinetron… #aduhdek

Atau barangkali media yang menjadikan mereka seperti itu, agar masyarakat semakin tidak peduli dan membenci hal-hal berbau Tuhan, maka diperlukanlah sosok kambing hitam yang dengan rela diperdagangkan dan dibully dan dikamuflasekan sebagai dihormati, dipuja dan dipuji. Sama halnya seperti Syurga di telapak kaki wanita, jadilah dipertontonkan betapa Syurganya wanita dari ujung rambut sampai ujung kaki, sentuhlah dan rasakan kira-kira beginilah rasanya Syurga. Atau ketika leluhur dan makhluk tak kasat mata yang keberadaannya di dunia menjadi bulan-bulanan dalam film horor erotis atau acara menantang keberadaan para makhluk alam lain yang kadang tak beruntung tertangkap kehadirannya.

Seperti halnya juga kematian…media membuat kematian begitu menyayat-nyayat, menyakitkan, membuat manusia terjebak dalam ketidak-ikhlasan, tentanglah kematian, kita masih punya hak dalam kehidupan…lagi-lagi Tuhan jadi bulan-bulanan. Bencilah kamu pada Neraka, pertanyakan kasih Tuhan padamu, begitu tega menjerumuskanmu dalam Neraka kelak.

Beberapa bulan lalu sebuah suara, lagi-lagi sosok penuh kasih berbincang santai sembari minum teh…

“Dalam film, dalam cerita cinta, dikatakan bahwa manusia tidak punya alasan untuk mencintai seseorang. Namun mengapa, untuk mengasihi Tuhan manusia membutuhkan keberadaan Syurga dan pahala? Tidakkah semulia-mulianya kasih manusia pada Tuhan, selayaknya kasih pamrih manusia pada sesama, ikhlas dan pasrah akan keberadaan dosa, amarah, pahala, ganjaran hingga Syurga dan Neraka? Sedih…sungguh sedih…”.

Katanya kemudian bersedih hati, air mata berkubang…dan saya rasanya menjadi begitu malu karena lagi-lagi saya begitu jauh, masih sangat jauh dan belum layak menyandang gelar almarhum, pula bertegur sapa dengan leluhur dan kematian. Belum selesai tugas saya, belum selesai kewajiban, belum ikhlas saya menghadapi kehidupan…

Salam tanya,

NAD

Iklan

2 thoughts on “Ketabuan Tuhan, Bulan-bulanan Generasi Urban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s