Ruang Aksara

Pembunuhan Rubi

“Gimana? Udah beres? Udah kamu usir pelacur itu dari sana?!”

Saya menggeleng.

“Oliiiivvvveeee!!!!!!!” Lena memekik gemas. Sahabat saya ini gampang sekali naik darah. “Trus kamu ngapain aja tadi ke tempatnya?! Ngeteh? Ngegossip?! Iya?!”

“Len…kamu…”

“Apa Liv? Kamu iba sama pelacur macam dia?! Luluh kamu denger cerita bohongnya?! Please! Udah banyak cerita pelacur jadi simpenan! Alasan ekonomi, ngebiayain keluarga, bokis Liv! Bokis!”

Saya menggeleng lagi, kali ini lebih kencang, seiring air mata mulai mengalir. Saya tidak dapat menjelaskan pada Lena apa yang saya rasakan saat ini. Di kepala saya…di mata saya…masih melihat gadis belia beranjak perempuan dengan mata meminta iba. “Tolong saya…tolong saya…”. Namun itu dikatakannya tanpa suara. Sudut bibirnya tersisa luka, sedang sudut matanya mulai melukiskan legam membiru. Seketika ia menundukkan kepala setelah pembantu di rumah itu mengatakan padanya siapa saya…seolah kehadiran saya di sana adalah percuma baginya, kemudian ia pergi ke dalam kamarnya.

Saya memandang sekeliling pada pembantu rumah yang menua, pada dua pria bertubuh tinggi besar, pada satpam yang tergopoh masuk yang baru saja menghadang saya agar tak masuk ke dalam rumah besar ini, pada tukang kebun yang berdiri di sudut pintu…Mereka kemudian tertunduk tanpa penjelasan.

“Liv…Olive!” Lena mengibaskan tangannya di depan mataku. “Malah bengong! Besok aku temenin kamu ke sana!”

“Nggak Len…”. Ku genggam tangan Lena erat, membuatnya tak jadi berbicara panjang lebar, “aku…aku mencintai pria gila.”

Kepalaku terjatuh di dada Lena. “Bi…”. Lena memeluk saya erat tanpa tanya lagi. Saat inilah Lena tahu, kata-kata tak akan berfungsi semaksimal pelukan hangat seorang sahabat.

 

***

 

“Selamat datang, Tuan Evan sudah menunggu, silahkan…”.

Aku mengenal rumah makan mewah ini. Aku pernah berada di dalamnya dengan suasana yang berbeda. Dulu, kawan baikku yang orang tuanya kaya raya pernah mengadakan private dinner di restaurant kelas atas bernama Velvet ini. Dulu, suasana kehangatan keluarga menyeruak dari sini. Sedang saat ini, lampu-lampu yang sengaja disetting temaram membuat separuh jantungku ketar-ketir meminta segera pergi. Namun itu bukan keputusan terbaik kalau aku tiba-tiba berbalik meninggalkan tempat ini,…tak akan ada lagi tempatku pulang.

“Silahkan duduk, Tuan Evan sedang menerima telepon sebentar.”

Aku mengangguk. Evan…tak ku sangka akan jadi serumit ini.

“Ah…Rubi! Selamat ulang tahun! Selamat datang di dunia kepala dua!”

“Terima kasih Evan. Tapi saya tidak bisa lama di sini.”

“Oh tenang saja, aku sudah minta izin sama orang tua kamu…mama kamu terutama, and she said okay. So we can spend this night with no worry.”

Jantungku makin ketar-ketir. Ku putar cincin di jari manis kiriku, cemas…tak ku pingkiri ruangan ini terasa menakutkan.

“Kamu…masih pakai cincin dari pria pengecut itu? Come on Rubi…move on…”.

“Evan….”

“Oke, oke…aku tidak akan merusak malam ini.”

“Walaupun mamaku bilang kamu bisa keluar sama aku dengan bebas, aku tetap akan pulang cepat, aku nggak bisa tidur malem-malem.”

“Ehm…don’t worry, i wont let you sleep tonight.” Evan menyeringai. Seperti dalam episode penjahat psikopat yang bersiap menyantap korbannya.

Makan malam temaram dengan hidangan mewah tak terjangkau ini membuatku Aku tidak mual. Aku tidak bisa berlama-lama dalam hawa yang menggerogot ketenanganku ini. Jarum jam terasa lambat bergerak…Tuhan…mohonkan iba pada waktu…

“You don’t eat a lot Rubi…you need it, energy…”.

“I’m not hungry, i just wanna go home soon.” Ku coba menjejalkan sesendok kecil cheese-cake. Camilan yang biasanya tak mampu ku tolak, karena harnya mampu menguras kocek terlalu dalam.

Aku ingin cepat pulang, namun firasatku mengatakan…itu tak akan terjadi.

“Bisa kita pulang sekarang?”

“You just can’t wait, huh?”

 

Aku memang tidak pernah berhasil menghapal jalan-jalan di ibukota. Tapi aku tahu betul ini bukan jalan menuju rumah. “Pak…kayaknya salah jalan deh, rumah saya bukan lewat sini.”

“Saya tahunya lewat jalan ini Non…”.

Jantungku kembali ketar-ketir. Tidak ada Evan di sampingku tetap membuat isi hati dan kepalaku berdebat  panjang kali lebar. Ku bongkar isi tas, mencari-cari handphone yang aku ingat betul ku letakkan di dalamnya. Shit! Evan!

“Pak saya turun di halte depan aja.”

“Wah, maaf non…mas Evan suruh saya antarkan sampai rumah. Bahaya kan non malem-malem perempuan sendirian di jalan.”

“Nggak papa pak, saya biasa ngangkot malem-malem sendiri kok!” Ujarku bohong. “Tolong pak…turunin saya di sini aja.” Ujarku kini agak memelas.

Pak sopir memandangku lewat kaca, ada cemas dan iba di wajahnya. “Maaf non…tapi saya nggak berani, mas Evan udah perintahkan saya bawa non pulang.”

“Tapi rumah saya nggak lewat sini pak…ini bukan ke arah rumah saya…”.

“Anu…non nantik bicara sama mas Evan sendiri saja, saya ndak berani nentang…maaf ya non…”.

Aku akhirnya duduk diam. Menunggu kemana supir ini akan membawaku. Harusnya tadi aku pulang sendiri…harusnya aku memohon Restu untuk menjemputku…sekali ini saja ia pasti bisa membantuku, terakhir kalinya.

Supir membawaku ke sebuah perumahan elite. Dapat dipastikan, sepi layaknya kuburan. Perumahan seperti ini sering dijadikan candaanku bersama teman-teman. “Kenapa nggak sekalian aja nih orang-orang beli lahan kuburan? Sepinya sama!” Kemudian tergelak karenanya. Mentertawakan orang-orang lucu yang membeli rumah singgah tanpa nyawa. Tiap bangunan seperti kaku dan dingin. Maka itu pemiliknya kerap mencari kehangat di luar rumah, sedang para pembantu bisa bercengkrama sembari menonton serial Korea, atau sekedar menelepon ke kampung halaman.

“Ini rumah siapa pak?”

“Rumah singgahnya mas Evan non…”.

“Kita mau ngapain di sini?”

“Saya ndak tahu non…cuma disuruh aja antar non ke sini.”

“Pak saya boleh pinjam handphone-nya?”

“Waduh, nggak ada non…saya dilarang bawa hp sama mas Evan tadi.” Mobil berhenti di pekarangan depan. “Silahkan turun non…”.

“Emm…pak…bisa tolong hubungi teman saya? Tolong pak…”.

“Emmm….saya coba mbak…”.

Ku tuliskan nomor handphone Restu. ” Namanya Restu pak, bilang saya minta tolong banget.”

“Rubi! Welcome home!”

“Evan aku bilang aku mau pulang.”

“But this is home…”

“Ini bukan rumah aku! Aku nggak mau masuk! Aku mau pulang, kalo kamu nggak mau anter, aku bisa pulang sendiri.”

“Go ask your mom where’s your home now. Barang-barang kamu udah ada di dalem.”

“Maksud kamu?”

Evan tak menjawab, tapi memberi kode pada dua pria bertubuh besar untuk membawaku dengan paksa masuk ke dalam rumah.

“Evan aku bisa lapor polisi…”.

“Silahkan…atas dasar apa?”

“Ini pemaksaan, penculikan!”

“Haha…”. Lagi-lagi Evan mengeluarkan seringai itu. “Kamu datang sendiri ke Velvet kan? Di anter sama abangmu? Dan aku punya bukti mama kamu ngijinin aku bawa kamu ke sini.”

“Terserah, pokoknya aku mau keluar dari rumah ini…”.

Dua penjaga tadi tiba-tiba menarikku. “Lepas! Apaan sih! Lepasin!”

Pada akhirnya mereka memang melepaskanku, tapi aku sama sekali tidak bebas. Sekarang aku malah terkunci di dalam kamar. “Evan bukan pintunya!” Ku gedor pintu. “Evan!” Ku perhatikan sekeliling, mencari celah, entah jendela, lubang apapun.

Aku sama sekali tak menyangka pertemuanku dengan Evan enam bulan lalu dapat seketika menghancurkan kehidupanku yang berangsur membaik. Persiapan pernikahanku dengan Restu terhenti di jalan…Restu…

 

***

“Maaf bi, aku nggak bisa…ini terlalu berat.”

“Tapi…kita kan bisa keluar kota Tu? Kita bisa kabur…”.

“Kabur? Trus gimana orang tuaku? Kamu tega ninggal orang tua kamu? Please Bi ngertiin aku…dia nggak bakal biarin kita keluar dari sini.”

“Tapi…kalo kamu ninggalin aku,…tiga bulan lagu Tu….tiga bulan…”,

“Maaf Bi…tapi…masalah ini kamu yang buat. Maaf, tapi…bukan cuma karna masalah ini…”.

Selanjutnya…selesai. Tapi tidak untukku…

“Kok lo tega sih, Bi? Gwe tahu Evan tuh lebih segala-galanya dari Restu…gwe tahu Restu pernah ngelakuin salah selingkuh sama Karis, tapi lo kan udah bilang maafin dia?”

“Gila Bi, tiga bulan lagi Bi…tega lo Bi!”

“Gwe nggak pernah semarah ini sama lo Bi!”

….bla, bla, bla…

***

“Sebulan, dua bulan…tidak ada seorangpun datang. Tidak ada yang bersedia mendengar ketika tolong ku jeritkan, hingga hanya menjadi bisik. Lalu dengan bebas mereka menyebutku gundik.

Gundik tidak punya rumah. Pelacur tidak punya suara. Aku dipenjara atas pilihanku, akhirnya.”

 

Gemuruh tepuk tangan mengisi ruangan malam itu. Tangis dan jeritanku ini sudah biasa kujadikan tontonan gratis. Toh tak ada yang berpikir itu benar jeritanku. Mereka berpikir selangkanganku ini mengapit harta, jadi jeritan minta tolong itu bagi mereka adalah lenguh rintihan keenakan. Persetan! Toh aku memang gundik…lakon drama lacur.

“Gitu ya, kalo aslinya emang gundik, menjiwai! Hihi…”. Suara cekikikan di luar bilik tempatku berdiam.

“Iyalah! Siapa yang nggak mau jadi simpenannya seorang Evan?”

Aku! Aku! Sertakan aku dalam pembicaraan itu! Aku! Aku!…Aku mau bertukar tempat dengan kalian!

Tapi…ku katakan tanpa suara.

“Kalo gwe jadi Olive, udah gwe sewa snipper, gwe suruh tembak mati perempuan yang ngerebut suami gwe!”

Aku! Aku!…Aku mau ditembak mati! Aku! Tembak mati aku di sini!

Tapi…ku jeritkan tanpa suara.

Karena setelah tepuk tangan itu, tak seorangpun menyapa.

 

“Bisa saya kebiri mulut-mulut orang-orang seperti mereka non.”

“Tidak usah, toh saya memang gundik, simpanan Evan. Toh ini resiko, saya yang menjual kegundikan saya demi tepuk tangan di dalam tadi.”

Mori, penjaga saya. Dia baik, tapi tak cukup baik mendengar dan melihat jerit dan eranganku selama setahun di penjara. Mori, Basil, dua penjaga yang tak ku tahu nama asli mereka. Ada di sisiku, siap siaga, dengan mata iba, tapi dengan pula ketidak-mampuan membiarkanku berlari dari penjara. Tidak ada pula yang membawaku lari dari rutinitas menunggu tuan besar Evan yang meminta senggama liar hampir setiap harinya.

“Tadi mas Evan telepon, katanya ibuknya non mau datang…”.

“Beneran pak? Evan bilang nggak mamaku datang mau apa? Mau bawa aku pulang? Ya pak? Tugasku udah selesai berarti ya? Ya kan, pak?”

Ini aku pertanyakan sembari senang. Mamaku setahun tak ada suara, tak ada sosok. Mamaku pasti rindu memarahiku, atau memukulku, pasti! Pasti dia akan membawaku pulang! Dipukul berapa kalipun aku tak akan menangis lagi, menurut saja ketimbang disenggamai Evan setiap hari! Aku capek harus melenguh keenakan terus, capek mendesah-desah saat anu-nya Evan yang besar itu mondar-mandir dalam tubuhku. Rasanya lebih sakit dari awal dia bertamu dulu.

“Cepet pulang pak!”

Aku bisa lihat pak supir sumringah. Dalam setahun ini tak sekalipun ada sumringah di wajahku. Mori dan Basil iku tersenyum simpul, senyuman yang sama saat keduanya berhasil menemukan cincin pertunanganku dan Restu yang dibuang Evan di halaman belakang dulu.

 

“Mama!”

Aku menghambur keluar mobil dengan sumringah. Mamaku ya begitu itu, judes wajahnya. Katanya aku anak sial jadi tidak pantas dikasih senyuman.

“Mama pasti mau jemput aku, kan?! Iya kan? Papa pasti suruh juga! terakhir jenguk papa, papa bilang bakalan suruh mama jemput aku! Papa udah sembuh kan? Ya ma? Aku siap-siap dulu, nggak usah tunggu Evan kita pulang aja, sekarang!”

“SSSSSTTT! Berisik! Nggak ada yang mau bawa kamu pulang, wong ini rumahmu. Bikin repot kalo kamu di rumah! Di sini enak kan kamu jadi Ratu, tinggal buka selangkangan.”

“Papa bilang aku boleh pulang kalo nurut sama mama…”.

“Tsk! Papamu sudah nggak ada, dua hari lalu sudah dikubur, mama lupa bilang sama kamu. Papamu sudah nggak ada jadi ya rumahmu tetep di sini….”.

Kalau sudah hancur berkeping, mestinya hati itu tidak bisa sakit lagi kan?

“Tapi ma….aku janji nggak ngerepotin di rumah, aku nggak bakal minta apa-apa. Pukulin aku sesuka mama, tapi aku pulang…ya ma?”

“Rubi! Lepas!” Mama mendorong tubuhku. “Jangan kayak anak kecil deh! Kalo kamu pulang, trus siapa yang mau biayain makanmu?! Trus yang biayain makan mama? Mau ngapain kamu? Kerja? Bisa apa? Baca puisi? Jualan tangis?”

“Sudah, mama pulang! Mama udah kasih tahu Evan tempat papa kamu dimakamin, nggak tahu kapan dia mau ajak kamu kesana.”

“Mah…mama….aku ikut pulang….ya ma?” Mama menghardik ku dengan pukulan-pukulan seperti dulu. Karena aku pantas mendapatkan pukulan, mungkin aku juga pantas dibawa pulang.

Ku ikuti mama. Kali ini aku tak minta dibelikan mainan, aku tidak butuh mainan. Tidak ada mainan yang membutuhkan mainan. Mama jangan ikut tak mendengar, aku tahu mama punya telinga! Mama!

“Mama!” Ku pukuli jendela mobil mama, “mama!”

“Lepas!” Mori memegangiku, sama seperti dulu ketika ia menempatkanku dalam kamar tempat Evan biasa menyenggamaiku.

Mobil mama berlalu, tergantikan dengan seorang wanita cantik berkulit putih menatapku. Ia perempuan, apa bisa ia menjawab tolongku? Tidak…manusia manapun tidak bisa…mereka cuma bisa menonton, bersorak, bertepuk tangan, menjadikannya bahan obrolan makan siang, lalu mentertawakan. Hidupku adalah bahan gunjingan, karena aku gundik simpanan Evan. Evan anaknya pengusaha besar yang usahanya banyak disokong pejabat koruptor, mafia pengkhianat negara, budak kolonial. Evan yang kemauannya tidak pernah ditolak. Karena dulu aku menolak, aku dihukum dengan menjadi gundiknya, dengan tidak jadi menikah dengan Restu, dengan papaku yang sakit. Ya sudah.

“Evan tidak ada di sini.”

Perempuan cantik itu memaku di sana. Ku tinggalkan masuk ke dalam rumah.

“Aku tidak tahu siapa dia, Buk Mira layani saja, mungkin temannya Evan. Aku tunggu mama di kamar, pasti dia ke sini jemput aku.”

“Anu non…ini Nyonya Olive.”

“Oh…kalo kamu mau bunuh aku silahkan, aku ada di kamar.”

 

***

 

“Apa maksudnya tadi? Selama ini Bu Mira kerja di sini?” Tak ada jawaban. Saya tatap semua orang di dalam ruangan. “Apa maksudnya?! Kenapa tidak ada yang jelaskan sama saya?! Kenapa? Takut sama Evan?!”

“Nyonya…sebaiknya pulang…kalau mas Evan tahu, nanti kita kena amukan.”

“Tidak! Selama ini…selama ini saya menumpahkan dosan pada perempuan itu….kalian tahu? Saya memakinya! Saya ikut…memaki dia,…menyebutnya gundik, pelacur…jalang….”.

Tubuh saya bergidik dikucuri air mata. Entah rasa apa. Saya merasa seperti menjadi bagian dari tindakan kriminal, tindakan pembunuhan. Dengan korban gadis belia seusia adik perempuan saya. Hancur…jiwanya hancur…dan saya adalah salah satu pembunuhnya.

“Kalian…berapa lama Evan menyekapnya di sini?”

“Nonya…”

“BERAPA LAMA EVAN MEMPERKOSA DIA?! BERAPA LAMA IBUNYA MENJUAL DIA PADA EVAN?! BERAPA LAMA?!”

“Setahun lebih…nyonya…”

“Setahun….setahun seorang perempuan dibunuh perlahan di depan mata kalian,…kalian diam saja?” ku pandangi tiap wajah yang tertunduk di sana. “kenapa diam saja?! kenapa?! Takut sama Evan?! Tidak takut dengan dosa yang kalian perbuat?!! Bagaimana….bagaimana kalau itu terjadi pada perempuan yang kalian sayang?!! Bagaimana?!”

“Bu Mira….Bu Mira….dia seusia putri ibu…seusia adik saya…”.

 

Nama saya Olive Hadi Djayanti. Saya adalah saksi pembunuhan dari seorang gadis berusia 21 tahun bernama Rubi Ajeng Rumiya. Saya….saya pelaku pembunuhan…

 

***

 

“Aku Rubi. Nama panjangku Rubi Ajeng Rumiya. Aku ingin melakukan pembunuhan. Yang ku bunuh adalah gundik pelacur simpanan Evan.”

Malam ini aku membunuh seorang gundik, pelacur simpanan Evan.

 

Dulu…seseorang kawan pernah bertanya padaku, “dibayar berapa sih lu sama Evan?” tanyanya sambil tertawa, karena hidupku adalah lelucon.

aku tak menjawabnya, karena pelacur tak punya suara.

aku tak menjawab, karena ketika ku minta kebebasan pada Evan, ia membunuhku. Evan yang datang di kala petang, sejak pertama tak pernah henti melucuti kulitku. Menjerit dan meronta, percuma saja, ia menyukainya, menikmatinya dengan terus memasukkan anunya yang besar ke dalam tubuhku. Hingga suatu saat aku lupa meronta dan menjerit, aku menikmatinya.

Sayup-sayup aku mendengar pertanyaan, “kenapa sih Rubi nyerah sama hidupnya?”

Aku! Aku! Aku jawab! Aku yang jawab! Karena aku gundik, pelacur simpanan Evan! Aku Rubi, Rubi Ajeng Rumiya. Karena ketika aku menangis dan menjerit, aku menjadi tontonan gratis. Toh tak ada yang berpikir itu benar jeritanku. Mereka berpikir selangkanganku ini mengapit harta, jadi jeritan minta tolong itu bagi mereka adalah lenguh rintihan keenakan. Persetan! Toh aku memang gundik…lakon drama lacur.

namaku Rubi, gundik yang sudah mati.

 

***

Suara mobil suami saya tercinta. Suami saya yang selalu sibuk hingga berbulan-bulan lupa menyetubuhi saya hingga harus saya setubuhi sendiri diri saya.

“Halo Van…gimana kantor?”

“Halo sayang, lebih cepat selesai, kencan yuk.”

“Emm…tumben…”

“Aku kangen istriku.” Bisiknya di telingaku.

 

Nama saya Olive Hadi Djayanti. Malam ini terjadi pembunuhan, dan saya sedang melenguh disetubuhi dengan liar oleh suami saya.

 

***

Gadis gila tak lagi gadis, ia baru saja melakukan pembunuhan,

setelah bermalam-malam terdiam di sudut pojokan kamar, siaga ketika majikannya pulang.

Gadis gila menggenggam sebilah pisau buah,

majikan datang dilepaskannya, karena tiba waktunya bermain di atas majikannya.

gadis gila gundik pelacur simpanan majikannya,

dibayar dengan kematian.

gadis gila sudah mati.

 

– Dalam Kisah Perempuanku

NAD

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s