Racauan Nyai'

Bincang Dengan Aku Di dalam Aku Dan Kawan

Pernahkah kamu berbincang dengan sosok lain dalam dirimu layaknya seorang kawan lama? Atau seorang kakak? Saya menyebutnya konco lawas…Kira-kira begini apa yang dipesankannya pada saya:

“Arek-arek ayu saiki mbuh opoo senengane ngerusak awake dewe. Lek kon duwe konco ngunu, kene kasihen aku, tak bantu ngerusak.”

“Lek koncomu dirusak, ojok kesusu nggolek sing ngerusak, ojok kesusu ngamuki sing ngerusak. Takoken koncomu sek, opoo gelem dirusak, opoo ngekeki peluang gawe dirusak? Lak podo-podo rusake.”

“Ngelakoni kesalahan iku manusiawi, lek berkali-kali iku pilihan, lek ngelakoni kesalahan sing podo terus iku jenenge doyan! Kon ojok melok doyanan loh, Nad!”

“Wong sing temenan dirusak ae kepingin nggak risak, pingine ngulang mbiyen-mbiyen sebelum dipekso rusak…tapi yo ancen wong sakit jiwane saiki macak terhormat kabeh.”

Lalu ini saya sampaikan pada sahabat kasat mata saya, sahabat yang jarang saya temui, yang kami jarang bisa bercengkrama, tapi tiap pertemuan selalu menghasilkan percakapan berkualitas.

pertanyaanku malam itu adalah, “Lus, kenapa orang-orang suka menyakiti dirinya sendiri?”

Lusy-ku sayang terkekeh, kemudian tersenyum penuh arti… “menurutku, mereka adalah orang yang tidak memiliki pegangan dalam hidupnya, kehilangan sosok panutan, sosok yang dituakan.”

Saya menganggung-angguk. Masih jelas betul karena baru saja terjadi sekitar sejaman lalu percakapan ini. Rasanya amarah, kesedihan, iba, entah menjadi satu…

“Keuntunganku, keuntunganmu, mungkin karena aku ketemu kamu, kamu ketemu mas Baidi, mas Budi, keluarga di sini, sosok yang sederhana yang sudah mengalami apa yang kita alami.”

“Nah…kita tidak kehilangan sosok panutan kan? Mereka sudah mengalami jauh, lebiiihhh dari apa yang kita alami, mereka telah berproses.”

Lalu berlanjut pada, “apa aku terlalu naif ya Lus?”

“Siapa yang bilang begitu?”

“temen-temenku..”

“Naif yang bagaimana?”

“Ya..keinginanku, apa yang aku lakuin, ambisiku…mereka bilang itu hal yang sulit, hal yang susah dilakukan, bahkan tidak bisa.”

Lusy tersenyum lagi… “menurutku kenaifanmu, kenaifanku adalah ketika kita memikirkan orang lain secara berlebih tapi orang tersebut bahkan tidak berpikir tentang dirinya, tidak berpikir sedalam yang kita pikirkan tentang dirinya atau diri kita.”

“Makanya…sekarang ini aku membatasi orang-orang dalam hidupku, mana yang sahabat dan mana teman sekedar say hello. Menentukan pilihan…”

Ya…pilihan mana orang-orang yang dapat ‘diselamatkan’ yang dapat ‘disayangi’, dapat ‘dipikirkan’ dengan dalam. Tidak semua orang pantas untuk mendapatkan kasih yang seperti itu, atau aku akan lagi-lagi mengalami kesia-siaan.

**

Dan kadang kala sosok lain dalam diri saya ini ikut berandai-andai. Andai saya nanti menjadi orang tua… menjadi sosok yang pada akhirnya menjadi sumber dari proses terbentuknya kehidupan baru. Mengingatkan diri saya ini, agar jangan sampai mengucapkan hal-hal yang akan saya sesali seumur hidup saya kepada anak-anak saya nantinya. Mengingatkan saya agar jangan sekalipun saya ‘membodoh-bodohi, mentolol-tololi’ kepada anak saya, karena itu adalah doa yang semerta-merta nantinya akan menjadikan anak saya bodoh di mata saya sendiri. Saya tidak akan menjadikan anak saya kuat dengan kebencian, tapi menjadikannya kuat dengan dan dalam kasih sayang.

Ini adalah sebuah pilihan. Pilihan yang nantinya akan membawa anak saya pada kehidupan yang sedikit banyak pernah saya alami. Pun pilihan saya untuk menjadikan anak saya berilmu atau berpindidikan atau mengenyam keduanya. Karena hal-hal kecil yang akan saya tanamkan pada kepala, jiwa dan hatinya akan menentukan…apakah nantinya dia akan merusak dirinya, merusak orang lain, membiarkan orang lain merusak dirinya, atau kesemuanya dilakukan.

***

Lusy dan sosok dalam diri saya ini selalu mengingatkan saya tentang tanggung jawab. “Ketika kamu melakukan sesuatu, yakinkan dulu apa kamu sanggup menaggung resikonya. Jangan mengeluh, hadapi, jalani, ikhlas, pasrah, bersyukur. Sakit ataupun bahagia, itu kamu sendiri yang rasakan. Ketika sakit, jangan harapkan orang lain untuk iba apalagi berharap mereka akan selalu ada untuk kita. Saat bahagia pastilah energi positif akan menyertai sekeliling kita.”

“Berpikir bijak dewasa ini memang bukan sesuatu yang keren, ketika prinsip dan pedoman dirasa sebagai sesuatu yang bukan kebebasan, dimana yang tidak bebas itu bukan hal keren dan bukan pemuda. Tapi hanya berjalan dengan ego tidak akan membawamu pada akhiran, hanya akan membawamu pada terbukanya pintu-pintu lain yang memaksamu bersiap…jatuh.”

“Bermain, bersenang-senanglah…tapi jangan bermain dengan jiwa, pun Yang Kuasa di atas sana. Kamu tahu akibatnya kan? Sudah siap?”

Berpikir mengenai percakapan saya dengan sosok-sosok di atas tidak akan membuat kalian keren. Tapi mungkin sedikitnya bisa membuat kalian mencari tahu, adakah sosok lain dalam diri kalian? Adakah sosok di sisi kalian yang pernah berbincang rasa? Berbincang mengenai dunia yang bukan hanya sekedar benar-salah, menang atau kalah? Jika ada, peluklah dia atau mereka, dan katakan betapa kamu beruntung memiliki mereka.

Selamat malam, salam kece,
NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s