Ruang Aksara

Dongeng Dari Tuhan

Malam ini aku gelisah, jadi aku terus-terusan meregangkan kaki dan tangan, bolak-balik badan. Gelisah, hingga tak kunjung memejam, mengerjap dengan sesama, mencoba menangkap suara di luar sana.

Lalu sebuah bisikan datang, tak lama setelah kulantunkan asma-Nya, menarikku dalam dekap-Nya yang luas, namun sesampai di sana hanya dipersilahkan untukku, pula hangatnya bagai selimut.

“Mengapa kau tak memejam wahai kasih Hawa?”

“Aku tak mampu menjelaskan, hanya bisa ku jawab dengan entah wahai Kasih Semesta.”

“Oh, gundahnya…mau ku temani sampai petang ini?”

“Tidakkah Anda sibuk? Tidakkah Anda sedang berjaga?”

“Apa dan siapa yang perlu ku jaga?”

Aku berpikir sejenak, kemudian mengerjap, “manusia? hewan? Bumi? Semesta?”

Ia menatapku dalam, “emm…masih perlukah ku jaga? Manusia dengan gagah berkata padaku tak lagi butuh bantuan, karena sudah bisa saling menjaga… Bumi? Pula manusia telah sanggupi menjaga bunda pertiwinya dengan penuh kasih. Semesta?… Akulah semesta! Haha!”

Aku terkekeh hingga seluruh tubuhku bergoyang.

“jadi…katakanlah, malam ini aku menganggur sekali…dan ku lihat kamu sama menganggurnya.”

“hihi…baiklah, anda saya izinkan berdesakan di rumah saya ini. Jadikah Anda berdongeng?”

“Oh ya!” Sejenak Ia berpikir, kemudian berdehem, “ehm…biar saya pikirkan dongeng apa yang cocok agar kamu bisa terpejam dalam kehangatan…emm….ku kisahkan saja tentang dongeng terjadinya kehidupan?”

“Oh ya, ya! Akan ku dengarkan dengan seksama!”

“Suatu ketika, sebuah perdebatan terjadi ketika sedang ku putuskan fungsi makhluk hidup. Ku hela napas yang saaaaaaaaaaaangat panjang ketika akhirnya ku bagikan tugas pada sepasang Adam dan Hawa, si perempuan dan si pria, si jantan dan si betina. Pada kalian, ku persembahkan perbedaan, yang di antara segala perdebatan akan selalu membuat kalian berjabat tangan, karena sekalipun kalian akan saling caci, tetap saling membutuhkan.Dan lalu…bumi pertiwi kekasihku. Alam, tumbuhan, apapun di dalamnya, pada kalian ku sertakan malaikat…sebentuk ibu yang mampu memberi apa yang kalian butuhkan di dunia. Ibu akan turut serta mengasihi, membimbing, bernyanyi lewat semilir angin,…jagalah ibu, karna bahagianya adalah bahagiaku, namun pula murkanya adalah murkaku.

Yang agak sulit, ku titipkan pada kalian kehidupan.”

“Kehidupan?”

“Ya…kehidupan…nantinya akan membuat kalian saling paham mengapa ku ciptakan beda untuk kalian. Karena untuknya, kalian akan saling bahu-membahu, saling menjaga, saling melengkapi, demi menciptakan kehangatan untuknya. Ku buat kehidupan sedemikian luar biasa, agar tak satupun dari kalian mampu menolak kehadirannya.”

“Bagaimana bisa?”

“Telah ku ciptakan lingga dan yoni pada kalian masing-masing. Keduanya hanya mampu berfungsi dengan segala keindahannya berdasarkan rumus cinta dan kasih. Berpadu dalam kesakralan ruang, dimana kalian akan saling meyakinkan dan memperjuangkan, kebersamaan ini tidaklah percuma. Tepat ketika cinta dan kasih bertemu, jiwa menyerpih bersamaan dengan darah yang membaur dalam jalinan nadi. Paduannya, seketika memilin banyak pembuatan partikel dan dzat…hap, hap! kehidupan….”

Ia menjentikkan jemarinya dan seketika sebuah cahaya berpendar. “Kehidupan?….”. Ia mengangguk bangga.

“Jadi kerjasama yang baik antara makhluk yang Kau ciptakan menciptakan kehidupan lain?”

“Yah!” Ia mengangguk antusias.

“Lalu?”

“Lalu dengan formula rahasia, telah kusediakan sebelumnya gua kehangatan pada tubuh Hawa.”

“Menumpang? Tidakkah Hawa terganggu?”

“Tidak….sesekali Hawa hanya akan merasa geli. Namun banyak kali akan membuat Hawa bahagia, sesekali pula kecemasan…keduanya akan saling membahagiakan, saling menjaga. Dan pula Adam…demi keduanya, ia tak akan memejam selama ruang belumlah aman. Matanya yang setajam elang mengamati sekitar dengan tubuh siaga. Bersama, mereka akan baik-baik saja. Lihatlah.”

“Ih! Itu jelek sekali! Masak itu kehidupan?!”

“Hey! Tiadalah yang jelek, karena ku ciptakan segala dengan kasih dan sayang. Lihatlah dengan seksama…”.

“Bagaimana kalau ketika besar kehidupan itu akan diejek karena…lihatlah, ia memejam selalu. Lihat jari-jarinya…bagaimana kalau tak seorangpun mencintainya?”

“Lihat….lihatlah….dengan bahagia kehidupan disambut, tangis kecemasannya berbalas pelukan dan tawa serta tangisan syukurlah kau baik-baik saja, menangislah! Katakan pada dunia bahwa tangis ini bukan tangis ketakutan, ini tangis kekuatan.

Lihat Adam…”

“Ia tampak takut.”

“Yah, pertama kali, ia akan ketakutan. Takut membuat kehidupan terluka dan menjadi enggan berada dalam pelukannya. Tapi tahukah kamu? Ia akan menjadi pria pertama yang jatuh cinta pada kehidupan. Terkadang bisa sangat agresif dan posesif, tapi tak mampulah ia memaki, karena menyakitinya akan membuat Adam begitu sedih dan pula melukai dirinya.”

Aku terlelap rupanya…belum pula selesai Ia berkisah…tak apalah, aku mengerti kini bahwa aku akan baik-baik saja. Esok aku akan menuju cahaya, menangis sekeras-kerasnya. Tiap hari tak akan sekalipun ku lupa haturkan terima kasih pada Hawa, karenanya, aku bisa santai menghisap jari-jari keciku. Pada Adam yang tak memejam, demi menyambutku.

Pada akhirnya, sekalipun dunia begitu kejam dan penuh kebencian, bersama mereka aku akan baik-baik saja. Di saat dunia tak lagi ada cinta, mereka akan menjadi dunia tempatku berpulang, mereka akan selalu menjadi sumber cinta, kasih dan sayang yang tak ada habisnya. Tuhan…aku siap….

 

Sebuah kisah, ketika tetiba Tuhan mengajak berbincang. 🙂

Salam kehangatan, salam kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s