Racauan Nyai'

Tamparan Spirtual Lewat Temu dengan Orang-orang Hebat!

Saya jujur aja bingung mau kasih judul apa di tulisan saya ini…mungkin bertemu orang-orang hebat? Emm…ada juga beberapa orang yang…ergh, menyebalkan. Tapi memang lebih menggiurkan untuk bercerita mengenai orang-orang hebat yang saya temui sekitar seminggu ini.

Tanggal 17 Februari lalu saya menjadi MC untuk acara Encompass Awards 2013. Bertemu dengan remaja-remaja yang dengan kepolosannya memandang dunia, tapi tidak menutup rasa ingin tahu mengenai apa yang terjadi di dunia ini. Semangat mereka yang bukan hanya berkarya dan menikmati kesenangan di gaya hidup ala urban, tapi juga ingin tahu mengenai proses yang terjadi dalam kehidupan. Dan lagi, saya bisa bertemu lagi dengan pak Jati, yang lagi-lagi membuat saya menangis ketika berbicara tentang leluhur, kebangsaan, budaya… 😉

Kata-kata  bagus datang dari Abi, partner MC saya. Atasannya pernah bertanya, “Abi, hal apa yang paling penting dalam hidup ini?” Abi menjawabnya dengan “cinta”. Si atasanpun berkata, “maybe it’s love, tapi itu bukan yang saya maksud. Yang saya maksudkan adalah respect… Tanpa kamu saya tidak bisa melakukan pekerjaan saya, begitupula sebaliknya, tanpa saya kamu tidak bisa melakukan pekerjaanmu.”

Kita saling membutuhkan, maka itu sudah sepantasnya kita saling menghargai…

Membahagiakan adalah tak lama setelahnya saya dan sahabat yang jarang saya temui melakukan temu kangen. Sahabat saya yang bernama Lusy ini telah mengajarkan saya banyak hal dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang hebat pula, yang dengan kesederhanaannya tapi mampu memberikan saya pandangan luas dan belajar mengenai ketulusan dalam hubungan antar manusia. Walaupun berada dalam satu kota, saya dan Lusy memiliki kegiatan yang sama-sama agak sulit untuk diciptakan sebuah kekosongan. Jadilah sejak beberapa tahun ini kami selalu mengusahakan quality content ketika bertemu…merangkum banyak hal yang terjadi ketika bertemu.

Bertemu kali ini kami membicarakan beberapa kejadian yang tadinya kami anggap masalah tapi pada akhirnya justru menjadi hikmah yang lagi-lagi membuat kami semakin bersyukur. Misalkan saja mengenai urusan hubungan dengan lawan jenis. Kami sama-sama berkesimpulan, “kita bukan lagi pada posisi dan keadaan mencari, tapi kita sudah seharusnya belajar untuk memperjuangkan apa yang kita miliki.”

Yap, ketika beberapa tahun lalu saya ngoyo ingin menikah muda dan menyatakan kesanggupan menjelma sebagai istri dan ibu, Tuhan malah mempertemukan saya dengan orang-orang yang membuat saya jatuh dan berpikir, “apa ada yang salah dengan saya?”. Ternyata saya hanya belum cukup ikhlas dan pasrah, saya memaksakan diri untuk siap menjadi sosok yang sebenarnya belum saya sanggupi. Tapi setelah saya mulai berpikir untuk membangun kembali ‘kondisi dan keadaan’ keluarga saya, menstabilkan diri, pada prosesnya saya bertemu dengan calon teman hidup saya yang sekarang. Yang entah dari mana pada suatu titik saya memiliki keberanian untuk memutuskan, bahwa pencarian saya telah berakhir, dia adalah calon teman hidup saya. Saya dan dia pun memutuskan untuk berjuang bersama agar selalu ada kita, mempersiapkan dan membangun fondasi untuk menuju ke arah sana. Walaupun saya dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi memang yang namanya perjuangan dibutuhkan waktu selamanya, sedangkan sisanya adalah ikhlas dan kepasrahan pada Beliau Sang Pencipta.

Kata-kata hebat lainnya yang datang dari Lusy adalah, “hidup ini memang serba tentang pilihan. Makanya jangan melakukan kalau belum siap sama resiko serta tanggung jawab atas apa yang kita lakukan.”

Segala sesuatu itu memang harus ada keyakinan saat menjalaninya. Kalau kita memilih untuk tidak stabil terus, goyah terus ya hasil yang akan kita terima ya segitu…makanya apapun yang kita lakukan kita harus punya pegangan, salah satunya adalah mengenai Sang Kuasa yang kita yakini. Ini bukan hanya mengenai sembahyang, dan sebagainya yang adalah (lagi-lagi) pilihan yang diyakini tiap manusia, bagaimana cara mengasihi Yang Maha Kuasa; ini bagaimana cara kita bersyukur sebagai manusia…

Seperti yang dikatakan Profesor tempat saya melakukan terapi, “bersyukur itu harus dirasakan dan dilakukan. Kalau cuma sholat njengkang-njengking, menyebut nama Allah, melantunkan puji-pujian dan semacamnya tapi ketika ada pengemis masih meremehkan itu berarti syukurnya belum dilakukan dan dirasakan, baru sekedar disebutkan.”

“Yang namanya sakit itu datangnya dari Yang Kuasa, Beliau bebas mau melakukan apa saja, wong Beliau yang menciptakan kita. Gusti Allah itu nggak butuh disembah, nggak butuh dipuji, apa yang Dia miliki sudah cukup, apa saja ada. Yang Dia inginkan adalah kita ini, ciptaannya saling menghargai, saling mengasihi, saling membantu. Jadi percuma kalau sakit memohon-mohon meminta kesembuhan, tapi tidak diiringi rasa syukur, kepasrahan dan keikhlasan. Caranya? ya bantu itu sesama.”

:)…sayapun pernah mendengar seorang besar hati berkata pada saya, “wong Gusti Allah tidak pernah memberikan yang lebih pada kita. Yang kita sebut lebih itu hanya titipan,…nah, ujiannya, apakah kita memiliki keberanian dan keikhlasan untuk menyampaikan pada mereka yang berhak menerimanya? Ikhlas, pasrah ndok…Gusti Allah itu selalu memberikan apa yang kita butuhkan, kalau kita ini sudah siap baik raga, rasa maupun jiwa. Karena apapun yang kita miliki sekarang ini pasti ada tangung jawabnya…Bagaimana Gusti Allah mau memberikan yang besar kalau dikasih yang kecil saja sudah mengeluh?”

Subhanallah….

Mungkin tulisan saya kali ini lebih mengarah pada spirtual,…hubungan kita dengan Gusti Allah, dengan Dzat Yang Ghoib ini memang berbeda. Yang membedakannya bukan hanya sebutan atau panggilan, tapi juga pilihan kita terhadap cara mengasihi-Nya…. 🙂

Salam santai salam kece samalam damai,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s