Racauan Nyai'

Harga Dari Kebebasan adalah Kematian

Ingat makna kebebasan versi operator selular 3 mengenai kebebasan? Kebebasan yang disertai embel-embel tapi…bla bla bla…

Kebebasan adalah pergerakan yang diawali oleh pemuda/i yang sedang mencari jati diri. Berontak melawan peraturan, larangan, nilai yang ada dalam tatanan sosial. Seolah yang namanya larangan, nilai, peraturan adalah sesuatu yang mematikan, menyiksa sampai mati. Terlebih hal-hal itu dikaitkan dengan yang namanya tradisi dan budaya.

Sejak beberapa minggu lalu saya berpikir…harga yang harus dibayar dari kosa-kata atau ilusi bernama kebebasan adalah SAYA. Saya yang terlambat menyadari fungsi dan kodrat sebagai perempuan, saya yang terlambat menyadari kalau moral adalah harga mahal, saya yang terlambat menyadari bahwa Tuhan selalu mengisi pada rasa, jiwa dan laku saya, saya yang terlambat menyadari bahwa peduli terhadap sesama adalah cara untuk menghargai kehidupan, saya yang terlambat menyadari bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk menyakiti budaya dan tradisi sehingga saya lupa berbagi ilmu dan pengetahuan, saya yang terlambat menyadari bahwa saya adalah korban dari kebebasan yang selalu dielu-elukan. Matinya moral dan kewajiban.

Saya yang dulu menjunjung tinggi emansipasi tapi masih bergantung pada laki-laki. Malunya saya pernah bersuara membenci laki-laki, untuk kesetaraan gender, keengganan untuk berada di dapur, termakan isu sekedar melayani suami. Sampai akhirnya saya tersadar, bahwa saya tidak mencintai diri saya sendiri untuk mengakui bahwa saya perempuan. Saya tidak menyadari betapa Tuhan mengasihi saya, untuk itu menciptakan pandamping bernama pria, agar kelak dengan bersama bisa menciptakan dan membangun kehidupan dengan saling melengkapi. Agar ketika saya mengandung kehidupan ada yang mampu menggenggam tangan saya dan ikut dalam euforia, sakit serta keharuan. Agar ketika ia terlahirkan, bisa memahami bahwa perbedaanlah yang melahirkan ia ke dunia.

Saya yang menyepelekan moral sukses menyakiti orang-orang di sekeliling saya dengan menyepelekan. Berbuat sesuka hati seolah dunia milik sendiri. Saya yang jauh dari kata moral menjatuhkan orang lain demi menjadi pemenang, namun kemudian saya hanya memiliki kekosongan. Saya yang selalu menilai benar dan salah, melupakan, bahwa untuk bermoral hanya ada logika, dengan rasa yang harus dikesampingkan. Saya menjadi sosok iblis yang bahkan iblis menganggap saya mengerikan.

Saya yang mencari keberadaan Tuhan, marah mengapa Ia tidak memberikan apa yang saya minta. Sampai suatu ketika saya menyadari, kesendirian adalah saat saya berhenti percaya bahwa Tuhan mengasihi saya, bahwa Ia selalu ada dalam jiwa, pikiran, rasa, serta membimbing laku saya. Sekalipun Ia tidak pernah melepaskan. Namun balasan yang saya berikan adalah, saya tidak menghargainya dengan menyepelekan kasih dari orang-orang di sekitar saya. Betapapun kepedulian mereka, saya terus menyakiti diri sendiri. Menyalahkan orang lain atas apa yang telah saya perbuat. Pun merasa saya yang paling tersakiti, saya yang patut dikasihani, saya yang paling membutuhkan pertolongan dan ketika saya menampar diri saya sendiri…di dekat saya, begitu banyak mereka yang menderita kelaparan, disakiti, dilukai, dibunuh harga dirinya, tapi masih mengulurkan tangan untuk saya, membantu membawa beban saya, mengasihi saya.

Saya yang menyandang gelar sebagai pelajar, sebagai mahasiswa, sebagai orang berpendidikan. Menganggap diri punya kuasa, meremehkan sesama. Memandang sebelah mereka yang saya sebut ‘tidak setara’. Ternyata mereka jauh lebih berilmu dan berpengetahuan dari saya. Mereka yang saya sebut orang kampungan, ndeso, mengajarkan sebuah ketenangan dengan cara yang lebih sederhana, berbagi…keikhlasan dan kepasrahan yang jauh lebih berharga dari kebebasan yang hanya digembar-gemborkan. Saya yang mengaku berpendidikan menyepelekan tradisi, budaya dan sejarah yang saya sebut kuno, tidak cocok dengan kekinian saya. Saya yang mengaku berpendidikan ini menyepelekan kerja keras nenek moyang selama ribuan tahun yang dibuat demi kesejahteraan saya, menyepelekan peluh pedagang kaki lima hingga bapak becak. Saya yang berpendidikan ini sok berbicara tentang kekuasaan pada ibu pedagang sayur, bicara demokrasi pada petani, bicara tentang memberi pada adik pengamen.

Harga yang harus saya bayar dari kebebasan adalah matinya kemanusiaan, keiblisan, ke-Tuhanan pada diri saya. Kemudian saya menjadi sosok keegoisan yang tunggal.

Saya secara sadar telah menjadi korban dari kebebasan yang pada akhirnya telah melukai diri saya sendiri. Dan setelah menyadari apa yang saya lakukan?

Salam kasih nan kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s