Racauan Nyai'

Perempuan dan Emansipasi, Wacana Ketidak-puasan yang Digembar-gemborkan

Sebagai perempuan, di usia muda belum mencapai kepala dua, saya menjadi begitu berkobar dengan yang namanya emansipasi perempuan. Akibat mendengar cerita, entah dari media massa atau kisah kawan yang mengharu-biru memperjuangkan emansipasi atau kesetaraan gender. Yang ketika saya sadari belakangan ini, saya tidak paham sebenarnya apakah emansipasi merupakan sebuah keharusan bagi saya yang terlahir sebagai perempuan? Apa kalau saya tidak ikut memperjuangkannya maka saya durhaka terhadap perempuan lainnya?

Well, saat ini saya berusia 23 tahun, dan bagi saya, bagi rasa saya…emansipasi menjadi sebuah ketidak-puasan perempuan akan keperempuanannya, yang dialami oleh beberapa kemudian dipropagandakan pada jiwa-jiwa perempuan lainnya, dihegemonikan sebagai sesuatu yang wajib diperjuangkan oleh segenap perempuan di seluruh dunia. Dan lagi-lagi, emansipasi dan segenap teorinya berasal dari Eropa dan Barat. Oh dear…cerita lama yang dikemas ulang, yang hingga kini masih menjadi wacana dengan nama lain omong kosong tanpa solusi.

Apa mungkin saya yang terlalu menikmati peran saya sebagai perempuan? Tahulah…Tuhan saya yang Rock n Roll pandai betul membagikan tugas pada makhluk hidup ciptaan-Nya. Sebagai perempuan saya diberikan sebuah tanggung jawab besar yang indah, yaitu menjadi ibu, membawa Syurga di bawah telapak kaki saya, pun dilabeli sebagai syaiton nirojim. Anugrah pula diberi kekuatan mendampingi dan didampingi makhluk kategori pria. Di dalam imajinasi saya Tuhan begitu penuh kasih hingga membagi-bagikan fungsi manusia agar bisa saling bahu-membahu, agar tak memikul beban berlebih sementara yang lainnya ongkang-ongkang.

Maka itu, kalau perempuan bertugas menjaga rahimnya untuk rumah bagi kehidupan makhluk kecil berjulukan bayi, maka pria bertugas menjaga bibit calon bayi agar sehat kelak. Kalau perempuan bertugas membawa bayi selama 9 bulan dan kemudian melahirkan, maka pria bertugas mempersiapkan tempat teraman agar perempuan dan bayi mendapatkan kenyamanan dan keselamatan. Kalau pria bertugas berjuang di luar sana demi menjaga kestabilan fondasi rumah tangga, maka perempuan bertugas menjadi penopang dan pendamping pria agar tetap kokoh. Dan sebagainya…

Ketidak-adilan terhadap perempuan belum pernah saya rasakan, tapi membuat diri saya mengalami ketidak-adilan karena saya lengah dan kurang introspeksi sering sekali. Atau mungkin saya malu teriak emansipasi lagi karena ternyata saya sangat menikmati berbagi tugas dengan si pria, saya menikmati kehadiran mereka, menikmati kasih sayang mereka. Atau mungkin saja saya lelah mengurusi permasalahan yang berawal dari negara nun jauh disana…Atau saya lebih sedang sibuk menjadi manusia? Mencari tahu apa sebenarnya peran saya di dunia ini setelah tahu ternyata alam jauh lebih hidup dan jauh lebih bisa menjaga diri?

Dan saya malah bertanya, lagi…

Selamat malam ajudan ibu pertiwi, salam kasih,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s