Ruang Aksara

Rosemary Si Penyihir

art-fairytale-halloween-ida-rentoul-outhwaite-illustration-Favim.com-435040

“Dahulu kala, dalam istana kerajaan di negri antah-berantah, tinggallah seorang penyihir muda kepercayaan Raja. Penyihir tersebut sudah berusia ribuan tahun, turun-menurun menjadi penasihat serta tabib Raja. Sepenuh hati ia mencintai Raja dan keluarganya layaknya keluarga. Demi menjaga keluarga satu-satunya, penyihir rela merasakan derita berabad-abad tanpa kematian, harga yang harus diterima dari sebuah keabadian.

Suatu ketika, penyihir yang jarang memperlihatkan diri tengah merawat taman mawarnya yang indah. Tak disadarinya, pangeran yang sudah beranjak dewasa menyusup ke dalam tamannya, dan jatuh cinta pada sang penyihir, bukan lantaran si penyihir berwajah cantik, tapi kasih yang terpancar dari matanya ketika menyirami tiap mawar.

amazing-flowers-beautiful-boy-cute-floral-Favim.com-265501

Maka tiap menjelang malam, sang Pangeran selalu menyusup ke taman, memperhatikan gerak-gerik si penyihir yang namanya tak pernah disebutkan oleh seisi istana. Suatu hari si penyihir menyadari. Ada sosok yang selalu menemaninya, mengawasinya tanpa suara. Ia pun mulai menyelidiki, waspada mungkin saja mata-mata dari negri sebelah yang sering kali membuat ulah.

“Tidakkah Tuan bosan hanya memperhatikanku dari kejauhan? Apa Tuan begitu takut padaku yang hanyalah seorang wanita?” Rayuan dengan nada ejekan dilontarkan sang penyihir.

pangeran tercekat. Tak menyangka kalau tempat persembunyiannya sudah diketahui.

Perlahan Pangeran keluar dari tempat persembunyiannya. Memandangi wanita bertudung hitam yang membelakanginya. Beberapa menit, wanita tersebut membuka tudungnya, kemudian menoleh pada Pangeran yang sudah terlanjur dimabuk kepayang.

“Siapakah engkau wahai wanita yang tak sekalipun seisi istana menyebut sosokmu?”

“Benarkah? Berarti sudah seharusnya pula Pangeran tak mengetahui tentangku yang bahkan tak seorangpun di istana yang menyebut atau mengakui keberadaanku?”

“Tak sopan! Bagaimana bisa kau menjawab pertanyaan pangeran dengan pertanyaan?!” Pangeran mulai bersikap angkuh, yang sebenarnya untuk menutupi kegugupannya.

“Oh…maafkan saya Pangeran. Saya hanya berpikir, tak pantas bagi anda untuk berbicara dengan saya yang rendah ini. Maafkan…ada baiknya saya menyingkir dan membiarkan Pangeran menikmati kecantikan taman mawar ini.”

“Tidak! Tunggu…”.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Eng…siapa namamu?”

Penyihir terdiam. Ia dirundung kesedihan, menyadari selama ini ia telah diasingkan oleh orang-orang yang dikasihinya sepenuh hati.

“Pangeran!” Sosok perempuan muda tiba-tiba berlari ke arah Pangeran. perempuan muda tersebut terkejut melihat si penyihir, “ih! Kenapa ada sosok yang hina itu berani muncul di hadapan Pangeran?!” Ujarnya ketus.

“Putri! Itu tidak sopan!” Menyusul suara seorang pria tua yang amat dikenal si penyihir. Penyihir pun membungkuk memberikan tanda penghormatan. Namun ketika mata keduanya saling bertemu, saat itu pula keduanya saling melemparkan pandangan, berusaha menjaga kegugupan.

“Maafkan kami yang telah membuat bising taman mawarmu yang indah. Segera kami akan meninggalkan nona, dan tak akan saya biarkan lagi Pangeran ceroboh kami menggangu kegiatan anda.”

Pangeran menyadari ada rahasia di istana ini. Ada rahasia yang disembunyikan seisi istana. Pangeran yang selalu ingin tahu mulai menyelidiki. Setiap petunjuk ia ikuti, dan ditemukanlah sebuah rahasia yang mengarah pada tiap Raja di kerajaan ini dan pada si wanita bertudung hitam yang ditakuti penghuni istana. Wanita itu disebut penyihir, penjaga istana.

Alkisah, seorang wanita muda pemberani mengorbankan hidupnya demi kerajaan yang diambang kematian. Wabah penyakit menyerang kerajaan dan rakyat menderita kelaparan serta kesakitan. Sang wanita adalah rakyat jelata biasa namun amatlah baik hati sehingga raja begitu memujanya. Suatu ketika datanglah seorang yang amat misterius, menawarkan penawar wabah pada sang raja. Namun dengan satu syarat. Ia harus mengorbankan orang yang paling dikasihinya untuk menjadi budak orang tersebut. Raja yang kebingungan dikagetkan oleh keputusan wanita yang amat dikasihinya,

“bawalah saya, dan saya mohon kasihanilah kerajaan kami. Berikanlah kesembuhan pada rakyat dan seisi istana kami.”

“Tidak! Tidak ada yang akan berkorban!” Seru Raja.

“Pilihlah…satu darah dikorbankan, atau kerajaan ini akan bermandikan darah.”

Seminggu waktu yang diberikan bagi Raja untuk memilih. Dan wanita tersebut, kekasih yang akan dinikahinya, terus membujuk.

“Tidakkah kau bersedih hati melihat rakyatmu menderita Rajaku tercinta?”

“Apalah artinya aku dibandingkan kesejahteraan kerajaan ini?”

“Aku akan mati tanpamu.”

“negri ini akan mati tanpa pengorbananku.”

Dan jadilah keputusan yang amat berat dibuat. raja harus berpisah dengan kekasih yang amat dicintainya. Kerajaan dan rakyat pun sembuh dalam sekejap. Yang dituntut kemudian adalah raja cepat menikah dan menghasilkan keturunan yang akan melanjutkan tahta kerajaan. Jadilah dengan berat hati raja meminang putri dari negri sebelah. Putri jelita yang sedikit angkuh perilakunya. Namun begitu, rajah selalu memikirkan pujaan hatinya yang entah berada dimana.

Putri yang tengah hamil muda menjadi cemburu karena Raja kurang perhatian padanya. Diam-diam ia memerintahkan seorang pesuruhnya untuk mencari wanita yang dicintai raja, dengan titah, bunuhlah dan bawa tubuhnya kepada Raja. Katakan kalau penyihir jahat telah membunuhnya dengan kejam.

Si pesuruh datang ke lembah sihir dan menemukan si wanita masih hidup dan menjadi pesuruh orang misterius yang ternyata seorang tabib tua. Ia diperlakukan dengan baik, bahkan diajari cara meramu obat. Ketulusan hati si wanita membuat tabib mengijinkannya untuk pulang. Namun si wanita enggan pulang sebelum menguasai ilmu pengobatan agar kerajaannya nanti aman dari segala penyakit.

dream-art-colors-colourful-Favim.com-527237Favim.com-26760

Si pesuruh berpura-pura menjadi petualang yang tersesat. Si pesuruh yang licik berusaha membunuh si tabib dan si wanita, namun si wanita berhasil melarikan diri sementara si tabib mati terkena hunusan pedang si pesuruh. Ia terus berlari memasuki hutan yang kelam. Hutan kelam yang dihuni banyak makhluk mengerikan membuat si wanita harus mencari akal untuk bertahan hidup. Ia pun teringat, si tabib memberikan sebuah buku kecil sebelum menjelang ajal.

art-beautiful-black-black-and-white-blonde-Favim.com-402118

“Larilah ke dalam hutan kelam. Pelajarilah ilmu magis ini, lindungi dirimu. pergilah! Akan ku hadang pria jahat itu. jangan menengok ke belakang!”

Menangisi kemalangan hidupnya, si wanita pun mempelajari ilmu magis. Ia pun menerima harga yang harus dibayarnya dari sebuah kesaktian. Keabadian. Terlebih penderitaan yang akan dialaminya selama ia masih terus hidup. Hanya ini satu-satunya cara agar ia dapat bertahan hidup di hutan kelam dan kembali pada negri kelahirannya. Dengan kesaktiannya ia akan dapat melindungi orang-orang yang dicintainya.

Sekembalinya ke negri kelahirannya. Ia mendapati tudingan sebagai penyihir jahat yang telah membunuh si tabib. Bahwa ialah yang telah mengirimkan wabah penyakit, berpura-pura berkorban untuk mencuri hati Raja. Si wanita tak menyangkal. baginya, penyangkalan adalah sebuah pembuktian kalau dirinya memang bersalah. Dengan penuh kasih, walaupun dihina dan dimaki, ia melindungi kerajaan. Mengobati beragam penyakit hingga namanya terkenal sampai ke negri sebrang.

Sedikit demi sedikit rakyat mulai bersimpati. Tak terkecuali raja yang sebenarnya tak pernah percaya kalau wanita yang dicintainya bisa berbuat keji. Di hatinya yang terdalam, ia selalu mencintai si wanita.

Raja semakin tua, ratu tak henti membenci si wanita dan menjulukinya dengan penyihir. Namun raja tetap berusaha melindungi si penyihir, termasuk dengan membuat perjanjian. Si penyihir diharuskan tinggal di dalam istana, mengabdi untuk istana, tak sekalipun menggunakan sihir kecuali untuk melindungi negri. Si penyihir menyanggupi, karena ini adalah satu-satunya cara ia dapat menunjukkan kasihnya pada raja.

“Lihatlah aku yang menjadi tua termakan usia, dan kamu yang tetap saja muda.”

“Berbahagialah kamu rajaku…suatu saat penderitaanmu dari duniawi ini akan diakhiri. Sementara aku, akan selalu melihat ribuan perang dan kejahatan di muka bumi ini.”

“Maafkan aku…aku pria pengecut yang tidak bisa melindungimu.”

“kamu adalah raja yang melakukan apa yang harus kamu lakukan. Dan aku adalah rakyat yang melakukan apa yang harus dilakukan. Kita semua membuat pengorbanan dan mendapatkan hasil karena itu.”

Tak lama raja pun meninggal dunia. Tahtanya digantikan oleh pangeran belia. Seolah mewarikan benih cinta pada putranya, turun temurun tiap raja pasti jatuh cinta pada kebaikan hati sang penyihir yang menutupi sosok kelamnya. Namun tak seorangpun diizinkan menjadikan sang penyihir sebagai ratu. Akan menjadi hal yang tak pantas bagi raja apabila beristrikan seorang penyihir, bukannya putri yang jelita.

Dan selama berabad-abad, si penyihir memutuskan untuk tak sekalipun memperlihatkan diri. Demikian pula seisi istana yang berikrar tak akan menyebut namanya atau mengakui keberadaannya, agar tak terus berulang kisah cinta terlarang. Namun takdir berkata lain. Ada saja caranya untuk mempertemukan tiap putra mahkota dengan si penyihir. tetap, tak ada jalan untuk mempersatukan mereka.

“Akan ku lepaskan tahta ini demi kamu.”

“Maafkan saya pangeran…kalaupun anda melepaskan tahta, anda harus meninggalkan negri ini. Dan saya telah terikat janji pada kerajaan ini. Mengabdi adalah satu-satunya pilihan saya dan yang saya inginkan.

“Rosemary.”

Sang penyihir tercekat. Hanya Raja terdahulu yang menyebutnya dengan nama aslinya. Sebuah nama yang dipanggilnya dengan penuh kasih. Bahkan raja-raja terdahulu yang juga jatuh cinta padanya tak pernah tahu namanya.

“Rosemary…namamu…Mary…namamu. Buyutku selalu mengatakan kamu secantik mawar. Maka ia memanggilmu Rosemary. Dipendamnya cinta padamu begitu lama hingga mendarah daging pada tiap garis keturunannya. Ia telah mengutuk keturunannya sendiri! Dan tiap-tiap mereka tak sekalipun memiliki nyali untuk mengubah keadaan termasuk ayahku!”

“Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan adalah dengan mengakhiri hidupku. Akhirilah hidupku yang telah amat menderita ini.” Sang penyihir mengiba dengan berurai air mata.

Pangeran berdiam. Tak sanggup menggores sedikitpun wanita yang telah menyerahkan hidupnya demi negri yang bahkan tak mengakui keberadaannya. Dalam diam dan penuh penderitaan, sendiri, ia menjadi pelindung bagi negri dan kerajaan ini.

Di sudut lain, Raja bersembunyi, menahan isak tangisnya. ia begitu menyesali perbuatannya dan ayah serta buyutnya yang begitu tega membiarkan seorang wanita sepertinya menderita. Menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggungannya sebagai seorang raja. Pria macam apa yang bersembunyi di balik punggung wanita? Ia bahkan tak memiliki kehormatan layaknya Raja yang sesungguhnya.

“Atas nama Raja, ku perintahkan kamu, penyihir, untuk meninggalkan negri ini!”

Keputusan yang amat mencengangkan yang juga membuka kembali rahasia kerajaan dan negrinya yang selama ini dilindungi oleh penyihir wanita.

“Oh Raja…kemanakah aku harus pergi? tak seorangpun ku miliki di dunia ini…”.

“Bawalah aku sebagai budakmu. Anggaplah ini bayaran atas siksa yang telah negri ini berikan padamu.”

“Pangeran!” Sang ibu histeris mendengar kata-kata putra kesayangannya.

“Kerajaan ini memiliki empat calon putra mahkota yang sama hebatnya. Kehilangan satu bukanlah musibah. Kepergianku bukan demi negri yang berabad-abad menyiksa seorang wanita, tapi karena aku begitu mengasihi wanita yang kalian sudutkan dengan panggilan penyihir. Penyihir yang menanggung beban layaknya seorang Raja!”

“Hentikan Pangeran! Tak seorangpun bersalah…sayalah yang memilih berkorban demi negri ini. Sayalah yang akan pergi.”

Dengan berat hati si penyihir meninggalkan negri kelahirannya. Kerajaan yang selama bertahun-tahun menjadi rumah untuknya. Tapi dengan keras kepala si pangeran terus mengikuti. Seketus apapun penyihir menolak, pangeran tak pernah berada jauh darinya. Satu-satunya pangeran yang mengubah takdir, dan rela berada di sampingnya.

Kepergian pangeran menimbulkan kesedihan mendalam bagi Ratu. Pula putri yang telah dijodohkan dengannya. Maka ia pun berencana jahat. Menyuruh pengawal jahatnya untuk meracuni raja dan ratu kemudian menuding si penyihir. Raja tak percaya dan menuduh pasti ada dalang lain di balik kejahatan ini. Namun Ratu yang termakan hasutan putri licik memerintahkan pasukan untuk mencari si penyihir, membunuhnya dan membawa kembali pangeran ke kerajaan.

Baik penyihir dan pangeran terkaget-kaget dengan kedatangan sepasukan kerajaan ke gubuk kecil mereka di pinggir hutan. Dengan paksa menarik pangeran untuk pulang, memporak-porandakan rumah kecil mereka. Pedang terhunus bersiap menembus jantung si penyihir yang pasrah. Mungkin saja ini memang akhir hidupnya.

“Rosemary!” Pangeran pun menjunjung pedangnya dengan gagah berani. “Siapapun yang menyentuhnya, akan berhadapan denganku!”

Pertarungan yang sengit terjadi. Pangeran melarikan Rosemary ke dalam hutan kelam, sama seperti si tabib yang menyelamatkannya. “Pergilah. Jangan kembali. Aku mencintaimu, tak peduli ini sihir atau kutukan.”

Hutan kelam menelan keberadaan Rosemary. Sementara pangeran telah mati. Pasukan memilih untuk berbohong, menudingkan kesalahan pada Rosemary yang dituduh membunuh pangeran. Kebencian negri dan kerajaan padanya semakin memuncak. Namun hutan kelam bukanlah hutan yang bisa dimasuki sembarang orang.

Favim.com-8939

Maka diceritakanlah turun-temurun mengenai kisah si penyihir jahat. jangan kau sebutkan namanya karena ia akan menghampirimu dan menghabisi nyawamu. Jauhi hutan kelam, karena di sanalah ia berada. Ia akan memangsa hatimu. Mengulitimu.

dream-girl-moon-rubbit-surreal-Favim.com-172096

Padahalah tahukah kamu? Berada jauhpun…lewat hutan kelam. Rosemary si penyihir tengah melindungi kerajaan dan negri yang ia cintai. Dengan harapan suatu saat mereka memahami kasihnya yang tak bersyarat. Di saat itulah sang penyihir bisa mendapatkan ketenangan dalam kematian yang telah tertuliskan syaratnya. Mati dengan dikasihi.”

Dongeng dari Bumi untuk pelangi – Rekam Imaji

Salam kasih,

NAD

 

Sumber foto: Favin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s