Racauan Nyai'

Obsesi Go International VS Jadi Gula Dicari Semut

Jadi go international seperti menjadi obsesi, hal mewah yang katanya membuat kehebatan kita diakui. Dulu pun saya kepingin banget kayak gitu. Punya butik, jadi fashion designer terkenal sampe ke luar negri. Tapi sekitar dua tahun terakhir ini saya mikir, yang digembar-gemborkan adalah, kalau mau go international rancangan kamu harus disesuaikan dengan pasar international, yang simpel, yang minimalis, yang bla, bla, bla…sama halnya kayak musik. Memang saya nggak terlalu ngerti musik, ataupun film mungkin.

Apa yang kita buat selalu menyamai barat atau Eropa, sampai saya berpikir Indonesia adalah mini Eropa. Kalau kita menjadi seperti mereka, berusaha menjual sesuatu yang sudah mereka miliki, mana mereka tertarik? Contoh aja, kita jualan kaos eksentrik dengan tulisan Fuck, Bitch atau sebagainya. Coba liat sudah berapa banyak brand luar yang buat kaos kayak gitu duluan dengan kualitas yang lebih bagus, desain yang lebih menarik bahkan kata-kata yang lebih berani. Pasti mikir, “di negara gwe ada, ngapain beli di negara lo, di negara gwe lebih oke lagi.”

Atau kuliner. Turis datang ke Indonesia karena mengharapkan sesuatu yang berbeda. Kuliner kita jelas berbeda dengan rasa spicy kaya rempah-rempah, rasa unik. That’s why menurut saya industri kuliner lokal adalah industri yang berpotensi sukses atau malah sudah sukses tanpa perlu terobsesi menjadi go international.

Saya nulis ini sehabis bacadan terkagum sama artikel tentang Lenny Agustin. Karena saat fashion designer dan brand lokal sampe pemerintah terobsesi go international, Lenny kekeh mempertahankan akar budaya dalam tiap karyanya, bahkan prosesnya sekalipun. Bagi saya Lenny telah sukses mempraktekkan teori yang pernah dijabarkan oleh seorang teman. “Kamu mau jadi semut atau mau jadi gula?”. Lenny adalah gula yang selalu dicari semut. Karena orang luar selalu suka hal yang berbeda, hal yang unik, makanya banyak orang luar sangat suka sama kebudayaan Indonesia yang luar biasa unik dan buanyak. Begitupula Lenny yang menjadi salah satu desainer dengan karyanya yang unik. Nggak cuma sekedar jualan batik, tapi juga memahami nilai, akar budaya.

Andai saja banyak orang yang berpikir cerdas seperti Lenny, negara Indonesia ini tidak akan sebegini nelongsonya…bangsa yang terobsesi menjadi bangsa lain. Bangsa yang begitu ingin menghilangkan akar budayanya di saat bangsa lain begitu ingin memiliki budaya, pun negara. Angkat jempol bagi bangsa yang begitu ahli mensia-siakan segala hal.

Salam miris,

NAD

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s