Racauan Nyai'

Gelar, Simbolisasi Menghargai Pahlawan?

Pagi-pagi tumben betul saya terbangun jam 5, gulung-gulung di kasur. Pingin merem lagi nggak bisa karna papa nyetel TV dengan suara super, dan yang disetel adalah acaranya seorang Ustad yang kepingin banget dianggap kalau dia lucu, alim sebagaimana gelarnya, konyol, rada endel, suaranya keras kalo ngomong, jago akting nangis (setidaknya bagi saya dia keliatan akting, you knowlah..jaman sekarang orang alim sama selebriti nggak ada bedanya). Trus channel diganti jadi acara politik, membahas tentang gelar Pahlawan Nasional yang rencananya akan diberikan untuk Bung Karno dan Bung Hatta, karena ternyata gelar Proklamator itu tidak ada peresmiannya. Kira-kira begitulah.

Yang dibahas seputar rakyat yang sudah sepantasnya melupakan imej buruk tentang mantan Presiden Soekarno. Saya seneng tuh, waktu sesi telepon nggak tahu sama Mentri siapa (maklum nggak pake kacamata jadi burek); jadi si presenter kalo nggak salah nanya, apa pantas atau patutkah pemberian gelar tersebut pada mantan Presiden Soekarno? (bagi saya ini pertanyaan bodoh yang dijawab dengan cerdas), “sangat pantas, malah terlambat.” Kira-kira begitu jawabannya.

Di situ juga membahas tentang, kira-kira mantan Presiden Soeharto pantas nggak? Katanya masih harus dipertimbangkan. Tapi rakyat sepantasnya melupakan (saya pikir memaafkan lebih pantas), dan pak Harto juga sudah memiliki gelar Bapak Pembangunan. Dan memang itulah yang telah dilakukan beliau untuk negara ini, membangun.

Bicara tentang sisi baik dan buruk seorang Presiden pasti ada, toh mereka juga manusia. Tapi sekiranya rakyat itu tidak bisa sepenuhnya menyalahkan presiden. Melihat acara tadi saya jadi ingat kata-kata pak Jati, keponakan dari pak Karno yang beberapa bulan lalu saya jumpa di rumah singgahnya di Singosari, “Pemimpin itu tidak boleh sepenuhnya menurut dan memenuhi keinginan rakyat, kalau nuruti bisa hancur negara ini! Wong rakyat itu bisanya cuma mangan, manak. Pemimpin itu tugasnya mensejahterakan bangsa. Kalau bangsa sejahtera, rakyat pasti ikut senang dan sejahtera pula.” Begitu kira-kira. (Intermezo paling menyenangkan adalah ketika beliau mengatakan kalau skripsi itu kapitalis! Bwahahahahahaha!)

Hemm…coba dirunut lagi…sebagai seorang pemimpin, jujur sebelum saya mencoba belajar tentang sejarah dan budaya Nusantara saya tidak suka sama pak Karno, dengan alasan istrinya banyak! Haha…sebagai anak nggak tahu apa-apa banyak juga doktrin yang membawa serta saya tidak menyukai beliau. Sampai akhirnya saya mempelajari sendiri, memahami sendiri, kemudian membaca beberapa catatan beliau termasuk buku tebal yang akhirnya tidak berani saya lanjutkan baca. (errrr…). Kemudian pak Harto. Sebaliknya, saya sangat mengagumi pak Harto. Tatapan matanya teduh, badannya gembul (dulu saya sering membandingkan beliau dengan Sinter klas ._.), bersama Ibu Tien rasanya saya tentram. Sampai akhirnya ketika dewasa saya sedikitnya mendengar banyak cerita dan banyak membaca tentang masa ketika beliau memimpin, baru tahulah saya bahwa pemikiran saya sempit.

Lalu ada Pak Habibie, ada Gus Dur, ada Ibu Megawati, dan sekarang ada SBY. Pak Habibie yang dianggap terlalu lembut, Gus Dur yang nyentrik hingga masa terakhir kepemimpinannya yang harus dipaksa keluar dari Istana Presiden, Ibu Megawati yang mbuh kah dan hobi jalan-jalan juga belenjes, ada juga pak Beye yang sebenernya pingin jadi penyanyi dan plintat-plintut nggak ngerti karepe iku opo…–”

Dari kesemuanya, Pak Karno dan Pak Harto adalah dua sosok yang menurut saya paling berpengaruh. Keduanya mendapatkan tuduhan sebagai orang yang terlibat dalam aksi brutal PKI. Pak Karno yang menjual opium peninggalan Belanda, pak Karno yang mengeluarkan Indonesia dari PBB dan sejenisnya, pak Karno yang dibilang lamban dalam mengambil keputusan kemerdekaan dan sebagainya. Lalu Pak Harto yang bertanggung jawab akan hilangnya banyak orang di masa kepemimpinannya, pembredelan sejumlah media, sejumlah kerusuhan etnis maupun demo mahasiswa.

Bagi saya rakyat Indonesia adalah rakyat yang hobi ikut-ikutan. Ketika tidak ada yang membongkar, diam saja menikmati padahal tahu ada yang tidak beres. Hobi melupakan jasa seseorang, dengan pikiran selalu menderita, menjadi satu-satunya yang paling dikecewakan dan tersakiti…rakyat yang menyedihkan, bangsa yang tidak punya identitas. Jadi kalau kamu bilang Yahudi adalah bangsa besar yang tidak punya negara, maka rakyat Indonesia adalah kelompok besar yang memiliki negara tapi tidak memiliki kebangsaan. Maka yang teringat adalah sisi buruk.

Menjadi lupa akan jasa seseorang sudah menjadi tabiat yang sepertinya dihalalkan secara massal, hingga tiap mantan presiden dilegalkan untuk dihujat. Bagi saya, ketika menjadi seorang presiden, akan ada konsekuensi, akan ada pengorbanan, akan ada masa dimana ia dihadapkan pada keputusan mengorbankan negara atau sejumlah rakyat, cara baik yang prosesnya bisa berabad sedangkan rakyat semakin buas minta dikasih makan atau cara yang dianggap tidak beradab atau kotor tapi selama ditutupi dan rakyat bisa kenyang dan senang.

Ketika dulu saya berani menghujat mereka, saya total tidak memandang mereka sebagai manusia, tapi sebuah gelar, sebuah kekuasaan, sebuah politik. Sampai sebuah pertanyaan bernada tantangan melayang di kepala saya, hujat mereka! Maka beranikah kamu menerima tantangan untuk meneruskan gelar mereka? Berani kamu menjadi presiden?

Kemudian nyali saya menjadi ciut. Saya teringat dengan SBY yang baru menjabat kemudian rakyat mulai demo harga BBM dan dibilang tidak membawa perubahan apa-apa, apalagi dituduh sebagai penyebab terjadinya bencana. Pula pak Harto yang tak hanya dihujat rakyat dan dipaksa turun mahasiswa pada akhirnya, tapi kehancuran hati serta pikirannya dengan konflik keluarga perkara perebutan harta dan tahta apalagi ketika ditinggal mati oleh sang istri tercinta, atau Ibu Megawati dengan dendam kesumat akibat perlakuan segenap rakyat kepada ayahanda yang setelah berjuang kemudian berubah gelar menjadi pesakitan dan terusir, atau Pak Habibie yang seberapa cerdaspun beliau tetap tak memuaskan rakyat, juga Gus Dur yang dimasanya berhasil meredam segala konflik mengenai perbedaan justru dihujat karena dia berbeda dari segi pemikiran ataupun fisik; dihina karena kekurangannya. DAN INILAH DEMOKRASI DI INDONESIA! DARI RAKYAT UNTUK RAKYAT!

Sampai ujung haripun demokrasi tidak akan pernah mampu memuaskan keinginan segenap rakyat Indonesia. Rakyat tak pernah salah, rakyat selalu menjadi korban, dan bla, bla, bla….rakyat begitu menyedihkan…..

Hahhh…..Inilah yang baru saya sadari beberapa detik sebelum menuliskan kalimat-kalimat di atas…saya sedih akan diri saya sendiri…

Ah! Dan tak lupa masalah gelar tadi juga menghadirkan ibu dari korban Tragedi Trisakti. Mahasiswa mana yang tidak diceritakan legenda kepahlawanan ini? Ibarat mengulang Peristiwa Rengasdengklok dimana pemuda memaksa pak Karno untuk memproklamirkan kemerdekaan. Yang terjadi? Ketidak-sabaran pemuda membawa pada sebuah fatamorgana kemerdekaan dengan sejumlah pakta tetek bengek pun kembalinya Indonesia dalam naungan organisasi penampungan penggila kekuasaan macam PBB, UNESCO dan sebagainya! Lalu apa yang terjadi ketika mahasiswa menurunkan dapuk kekuasaan Pak Harto? Kesejahteraan? Keinginan rakyat yang terpenuhi? keinginan mahasiswa yang terpenuhi?

Si ibu mengatakan sesuatu yang saya tangkap sebagai, bukan perkara gelar sebagai pahlawan beserta embel-embelnya, tapi setidaknya ada kepedulian dari Pemerintah. Lalu saya bertanya, apakah rakyat juga tidak seharusnya ikut peduli? Bukankah mahasiswa melakukan segala aksi demi rakyat? Bukankah rakyat seharusnya ikut berpartisipasi dalam menjaga keluarga para korban?

Anyway, setelah menonton tadi saya langsung meracau di Twitter. Sekedar berpendapat singkat. Kira-kira seperti ini:

Saya rasa mereka yang dulunya berjuang demi negara tidak mengharapkan gelar pahlawan, kepikiran saja pasti tidak! Yang ada saat itu pasti bagaimana nasib anak-cucuk ku kelak, keselamatan anak dan cucu, harga diri Nusantara tercinta, tanah kelahiran yang diperkosa. Kesedihan itulah yang membuat nenek moyang mengobarkan semangat juang, demi darah daging dan tanah kelahiran yang telah membantu mereka hidup.

Penghargaan bukankah sebuah simbol? Pun gelar, sebuah simbol yang kini dikenal dengan citra, barang mahal dan prestisius? Lagi-lagi sebuah produk gaya hidup yang bukan budaya asli Nusantara dilestarikan dan berkembang biak hingga subur. Pengakuan versi masa kini.

Bagi nenek moyang, atau yang disebut pahlawan, sebuah penghargaan dan pengakuan yang sejati adalah ketika perjuangan mereka dipahami. Ketika dipahami maka akan menjadi sebuah tindakan, setelah sebelumnya menjadi dasar dari pola pikir yang telah mendarah daging, tidak hanya menjadi jiwa tapi juga rasa. Ibarat Pancasila yang percuma kalau dihapalkan, pun para pahlawan yang percuma dihapalkan namanya satu-satu kemudian diberikan gelar karena sesungguhnya mereka telah mendapatkan gelar paling abadi di sisi Tuhan, kemudian gelar sebagai ajang pamer menjadi kepercumaan.

Seberapa banyaknya gelar yang diberikan pada mereka yang telah mengorbankan nyawa hingga kita bisa menikmati duduk santai di kafe, percuma…yang menjadikan mereka dilupakan dan tidak dihargai adalah ketika anak cucuk tak bermoral, tak pula berbangsa, tidak berjiwa dan tidak memiliki rasa.

Dan inilah hari dimana kita, cucu dan anak dari pejuang mendeklarasikan diri sebagai manusia predator, manusia tak bermoral, tak berbangsa, tak berjiwa apalagi memiliki rasa.

Salam Pancasila,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s