Racauan Nyai' / Uncategorized

Berijasah VS Berilmu

Cukup lama saya mencari tahu untuk apa saya kuliah, selain mengikuti keinginan papa yang kepingin lihat anaknya jadi sarjana. Selama berproses saya menjalani kuliah, mengamati teman-teman saya dan menemukan banyak fenomena. Terutama yang terkait dengan ‘wajib belajar 9 tahun’, ‘pendidikan itu penting dan bla, bla bla…kenyataannya semua mengalami pergeseran menjadi ‘wajib berijasah bagi yang mampu.

Ketika lulus kuliah sarjana akan mulai dibingungkan dengan mencari-cari pekerjaan. Mengamati banyak teman yang larut dalam euforia kesarjanaannya dan nilai-nilai yang didapatkannya, beberapa minggu mengkaitkan hal-hal sepele dengan teori dari ilmuan-ilmuan yang didapat dari buku. Selang beberapa minggu kemudian pembicaraan entah bertemu langsung atau di media jejaring sosial berupa keluhan tentang pekerjaan. Makanya saya seringnya menjauhkan diri dari mereka yang sedang senang-senang ‘anget-enget tai ayam’, enggan juga bertanya sebelum mereka memulai pembicaraan nyerempet.

Persepsi dan pandangan atau keputusan tiap orang berbeda-beda, dan itu sangat dihalalkan, karena tiap orang memiliki kondisi dan situasi berbeda dalam hidupnya. Tapi dalam hidup saya dan banyak kawan yang saya temui sependapat, sekiranya 85% lah…kuliah itu sebuah sistem yang ketika dijalankan imbalannya adalah prestis, gengsi, pandangan wah dari lingkungan sosial, cieee…cieee sarjana dari teman, ucapan minta traktiran, mendapatkan nilai, mendapatkan ijasah yang berdampak pada kekempesan tabungan; tapi digadang-gadang akan berpengaruh pada kesuksesan pekerjaan.

“Nanti pasti yang diliat IP”, “nanti kalian ditanya skripsinya mbahas apa?”, “IP segitu ga cukup kerja di perusahaan”, bla….bla..bla….

Hegemoni yang menarik yang telah mendarah daging….

Proses menjadi sarjana itu sendiri cukup panjang. Pertama-tama harus lulus Ujian (inter)nasional, mengikuti berbagai jalur yang ujung-ujungnya wani piro karna kalian berhadapan dengan segenap kerabat pejabat birokrasi kampus, kalau sudah masuk kuliah kalian menempuh banyak SKS, tertidur di kelas, mendengarkan dongeng bercerita tentang kehidupannya atau kalau kalian beruntung gossip tentang kakak tingkat, usaha memasukkan pacar ke dalam kelas dan dosen tidak akan tahu kalau kampus kalian adalah kampus bergengsi yang satu kelas muridnya numpuk numpang ngadem, usaha nitip absen, membuat makalah atau tugas, menjawab pertanyaan saat ujian, presentasi a.k.a diskusi atau debat pendapat, mengikuti lembaga kalau kalian aktif kemudian mengikuti aksi atau demo mogok makan atau justru demo masak; dan segenap kegiatan lain dijalani setidaknya untuk merealisasikan julukan ‘agent of change’.

Kemudian dihadapkan pada skripsi. Kalau kalian aktifis pecinta lingkungan ini akan sangat memberatkan kawan! Berapa banyak kertas yang terbuang percuma bahkan tanpa dilirik? Berapa banyak pengorbanan pohon sia-sia? Entahlah…Bercumbu bersama lap top atau komputer, menolak hasrat untuk cangkrukan di kafe gaul, berjalan-jalan mencari inspirasi karna dalam hal satu ini entah kenapa jamban enggan menjadi teman saya. Dalam tahap ini saya bersyukur hobi main karna dari main ini teori menjadi realisasi dan menemukan banyak teori, kira-kira 85% ilmu dan pengetahuan saya dapatkan dari hasil ngobrol di warung kopi bahkan obrolan dengan tukang becak sekalipun.

Setelah itu tahapannya adalah pengajuan judul, proposal, seminar, bimbingan, penelitian, bimbingan, penelitian, jadi skripsi, beli konsumsi, sidang, revisi, mengurus berbagai macam kepentingan (=menguras tabungan), yudisium (wisuda fakultas), kemudian wisuda satu angkatan dari berbagai fakultas dengan memakai jubah hitam dan topi buntut ala cendikiawan (lebih asyik kalian bercerutu), dan voila! Jadilah kalian sarjana!

**

Dalam kehidupan sosial, tanpa ijasah (apapun itu) kalian akan dianggap tidak berpendidikan. Memang benar, dalam artian kalian tidak pernah di didik oleh para pendidik berpangkat dan berijasah dalam sebuah ruangan, tidak juga pernah mengeluarkan banyak uang untuk menebus nilai. Lantas apakah jika tidak berijasah tidak berilmu? Pada kenyataannya semakin tinggi pendidikan, semakin banyak kelas-kelas masyarakat tidak bermoral dan pelit ilmu, kecuali ilmu korupsi yang dibagi lewat media.

Untuk bisa menyandang label berpendidikan kalian harus sekolah formal dan mendapatkan ijasah, segala hal yang kalian lakukan akan dinilai berdasarkan nilai, entah nilai mata uang atau nila 1-10/A-F yang tertera di kertas. Untuk berilmu, rajib-rajinlah berdiskusi dengan banyak orang dari kelas manapun, bergelar apapun, profesi apapun sampai yang tidak berprofesi; cangkrukan, menjadi pendengar yang baik, kemudian berdiskusi, sembari membaca buku-buku, kemudian berbagi. Berilmu tidak meminta nilai, tapi berproses seumur hidup, mencari mana yang tepat dan tidak tepat, menyesuaikan dengan situasi, kondisi serta kemampuan.

Dengan berpendidikan, seorang mahasiswa butuh pengakuan, lewat skripsi dan ijasah juga gelar. Sedangkan menjadi berilmu seseorang tidak butuh pengakuan, tapi butuh berbagi, menjaga kualitas diri dengan terus memperbaiki diri, bermoral, berbudaya. Rasa-rasanya menjadi sarjana seperti sedang menjalani gaya hidup (–“).

Kembali lagi ke realitas, kita diharuskan bekerja untuk menghasilkan nilai yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang kalau dulu adanya primer dan sekunder———–baru tersier, sekarang primer dan sekunder juga bergelar tersier. Semuanya serba nilai dan untuk menghasilkan nilai atau setidaknya terlihat bernilai. Memiliki ijasah kualitas kita dianggap telah teruji, dan seringkali digunakan untuk mencemooh mereka yang ‘tidak berpendidikan’. Karna lagi-lagi selalu ada kelas yang tercipta: kelas senior-junior, kelas tua-muda, kelas bos-bawahan, kelas yang baru kerja-sudah lama kerja, kelas karyawan baru-karyawan lama, kelas anak magang-karyawan tetap. Dalam hal ini yang memiliki kelas di atas dihalalkan untuk sedikit atau banyak berbuat ngawur kepada kelas yang di bawahnya. Seperti juga yang terjadi dengan pemerintah dan rakyat jelata, juga pengusaha dengan rakyat jelata, mahasiswa semester awal dan mahasiswa veteran.

*”SELAMAT DATANG DI LINGKARAN SETAN!!!”  Ucap saya kemudian pada bayi-bayi yang baru lahir. – intermezo

Konsep berijasah dan berilmu menjadi sangat kontras, membuat saya berpikir betapa butuhnya manusia akan pengakuan dan dinilai dengan angka. Betapa butuhnya manusia menyandang gelar dan disebut penguasa. Lalu apa yang akan terjadi kemudian kepada generasi di bawah saya? Pada anak-anak saya?

Mungkin ada baiknya saya tawarkan, “saya lebih suka anak-anak dan keturunan saya berilmu ketimbang berijasah ataupun berpendidikan. Berada di sekolah formal ataupun tidak itu pilihan kalian, karena bukan saya yang harus kalian hadapi atau takuti, tapi lingkungan dan masyarakat yang merasa mereka harus dilibatkan dalam kehidupan kalian. Dengan berilmu kalian bisa berusaha dan berefek mendapatkan nilai mata uang, tapi berpendidikan dan berijasah tujuan adalah nilai efeknya ya nilai juga. Kalian ingin membuat pekerjaan dan lapangan pekerjaan atau kalian ingin bekerja menjadi bawahan atau atasan ya pilihan kalian. Yang jelas saya bukan orang gila nilai.”

**

Ini adalah berbagi isi kepala versi saya, menuangkan unek-unek, isi kepala, emosi, rasa hina, dan sebagainya. Mungkin saya prihatin dengan sistem pendidikan negara yang super bobrok. Suatu saat, mungkin saja, ketika bangsa ini sudah lebih berbobot Ujian Nasional akan berisikan budaya, kewarganegaraan, sejarah dan bahasa lokal alih-alih Matematika, ekonomi, bahasa asing yang akan lebih baik ditempatkan dalam ujian internasional. Atau mungkin ketika calon mahasiswa atau siswa dididik sesuai kemampuan dan apa yang mereka suka: Pingin jadi arkeolog tesnya kebudayaan dan sejarah, mau jadi sastrawan tesnya bahasa indonesia dan mengenai kesastraan, mau jadi atlet tesnya lempar tebing dan sebagainya. Lebih baik lagi tiap hal ditekankan untuk dipahami bukan dihapalkan, pakai rasa jangan hanya dengan logika, mungkin nantinya generasi selanjutnya tidak hanya disibukkan mencari agama dan bertanya-tanya keberadaan Tuhan.

Semoga…

mari belajar dan berbagi, mari berproses dan berilmu, mari berbudaya dan bermoral, mari menjadi manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Salam naas,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s