Ruang Aksara

Tuhan – Ummayi & Arangga

Maaf, lagi-lagi saya menjadi bloggers buruk dengan tidak memposting apapun. Sejujurnya, saya sedang bertarung dengan isi kepala dan menjelang sidang skripsi yang memuakkan. Memaksa diri untuk tidak tidur, 3 hari menyelesaikan skripsi, sistem kebut semalam yang sangat tidak baik untuk dicontoh. Alhasil isi kepala saya kosong. Saya mengulang-ulang percakapan, seringnya bengong dan kebingungan. Sekarang sedang dalam tahap pemulihan, berharap saat nanti menjadi tertuduh saya setidaknya bisa berucap sesuatu.

Ini adalah sebuah cerita yang baru saya buat tapi konsepnya sama dengan tulisan yang nantinya mau saya buat seri dengan judul Tuhan. Mungkin kalau beberapa dari teman-teman suka mengikuti Tumblr saya, sering kali ada tag Tuhan, ya ini mungkin akan menjadi bagian di dalamnya. Mungkin…

Selamat menikmati tuangan isi kepalaku melalui jiwa Ummayi dan Arangga.

***

Crepúsculo Café, petang yang ceriah, kopi beraroma cinamon, asap rokok, masih tetap di pojokan dan sendiri. Penulis romance menyedihkan yang berusaha menemukan sebuah bisikan agar menulis tidak segera menjadi kejaran tunggakan beraroma materi.

Langit cerah, dengan nuansa jingga-nila saling menggoda,
sesekali mencumbu langit yang warna birunya tinggal goresan.
Berpasang muda-mudi bergandengan tangan,
Sesekali merayu, lalu lalang, penuh kemesraan.

Sebuah alunan lagu dengan ketukan yang katanya lawas mengalun syahdu. Ini juga lagu romance. Serasa menjadi pengiring kegalauan bermartabat para pengunjung kafe. Kalau kamu mau tahu, saya yang sedang bercerita ini berada di sebuah kafe milik pria yang jatuh cinta pada gadis cantik peranakan Timor Leste-Belanda. Cerita cinta nan dramatis bukan ala remaja, tapi ala kaum urban metropolis berbumbu budaya dengan keindahan dan kerusakan alam sekitar. Ergh! Sayangnya aku bukan mau cerita tentang mereka, aku mau cerita tentang aku yang tidak tahu malu mengumbar cerita ala roman picisan. Aku yang selalu sukses (katanya) menginspirasi orang dengan kata bijak, tapi tersendat permasalahan cinta sendiri! Hahaha…

Di tempat ini banyak mereka yang duduk dengan termenung, atau berpegang tangan menguatkan tanpa bicara. Seolah sebuah suara sampai di telingaku, mengisyaratkan, “kita akan baik-baik saja. Tenanglah…”, dengan sebuah senyum mengulas di bibir. Dan aku tahu, pada masanya, kisah mereka akan tersampaikan melalui surat cinta yang ku buat atas nama mereka. Demi sebuah ketulusan, ingin bertutur tentang kegaduhan rasa di jaman edan.

Empat tahun lalu, ketika kafe beraroma manis semanis romansa kasmaran ini baru merintis, aku menjadi pengunjung pertama yang duduk berjam-jam hanya sekedar memandang panorama senja yang melintas bebas. Ibarat tivi plasma, jendela besar ini adalah layar kaca media Sang Kuasa, “ini hadiah untukmu…senja spesial untuk si angkuh Ummayi.” Mungkin saja Tuhan berkata begitu padaku, tiap aku sendiri, diam, terjerumus dalam khayal.

Satu, dua, tiga, sampai seminggu. Sampai para pegawai mengenalku, menghapal kesukaanku. Sampai si pemiliki, Aji Dwipamungkas yang gagah itu sering menemani dan berkeluh-kesah padaku, sampai si chef yang sedikit tambun mampir sekedar berbagi aroma tembakau dan menciptakan menu baru khusus untukku, “kamu gadis kecil dengan perut besar!” Sampai juga para pengunjung langganan yang kerap muncul di tulisan-tulisanku dengan nama samaran. Terima kasih untuk kalian…

Tidakkah kamu gundah, sayang?
Ketika lonceng berdentang, itu saatnya aku pulang…
Bercengkrama dengan Tuhan, menyambut malam…
Kamu-pun harus bersapa sembari merekatkan jemari, dalam pejaman matamu.
Selepasnya kita bisa berdansa-dansi…

“Cepat menikah.” Kalimat sialan tiba-tiba masuk dalam kotak chat Facebook yang sedang iseng ku buka setelah setahun lebih ini tak terurus.

“Hell shit! Haha!” Jawabku sembari tertawa, “di mana Put?”

“:D
Di Mataram masihan. Dengar-dengar kamu kembali ke ibu kota?”

“Iya, sedang menyapa suasana lama. Menjadi sumpek dalam ruang sumpek, budrek! Haha.”

“Kapan ke Jogja? Kita berjumpa di sana?”

“Entah, biar nanti percayakan sama jodoh.”

“Jodoh? Kamu siap jadi jodohku?”

“;),…”.

Oh…Putra Punakawa. Dua tahun lebih mudah dariku, tapi ku akui sejak dua tahun ini ia semakin matang dan dewasa. Kalau aku berlari demi menghindari temu dengan seorang yang ku kasihi dan memupus rasa, Putra berlari dari para gadis gila yang mengejarnya. Haha! Dia layaknya pria idaman tiap gadis dan mertua. Mapan di usia ke-26, rupawan cukuplah, dewasa bisa menyesuaikan situasi dan kondisi…kalau kamu coba memahami, boys will always be boys! Tapi ku jamin, bahagialah gadis yang bisa menjadi pendamping hidupnya. Karena hatinya sekokoh tebing, keyakinannya tak cukup diterpa angin hingga bahkan badai sedang takhluk padanya, dan dia pandai memeluk sampai kamu merasa nyaman berada dalam hidupnya. Dan sayangnya, aku terlalu takut akan kenyamanan yang sempat ku kecap bersamanya.

Empat tahun lalu lalu ya?…gumamku. Hemmm…

Empat tahun lalu, empat tahun lebih muda pulalah aku. Empat tahun lalu adalah pertama kalinya aku melibatkan diri dalam dunia jurnalistik, media tepatnya, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menerbitkan sebentuk novel roman hasil melihat, mendengarkan, merasakan, hingga menimbulkan pergulatan gila dalam kepalaku sendiri. Aku berdebat, berdialog, dikepung emosi hinga sensitif tingkat tinggi; itu semua dalam kepalaku.

“Kamu seperti pemuja erotis!” Kata Bu Ria, editorku selama dua tahun ini.

“Nop, aku pemuja Jogja dan segala isinya. Termasuk prianya! Haha.”

Itu juga empat tahun lalu, pertemuan dengan bu Ria yang hingga kini masih menjadi tempatku meluapkan segala keluh kesah. Tentang kuliah yang ku tinggalkan, beribu alasan pelarianku, sampai pria yang membuat isi otak ku bergairah lantaran mereka lebih menarik untuk ku tulis timbang menjalin sensasi hubungan romantisme atau sekedar hasrat badaniah pria dan wanita.

“Kamu frigit!”

“Tidak, tapi aku virgin.”

“Oke! Aku selalu kalah dalam adu kata ini, tapi kamu selalu kalah dalam hubungan percintaan mu sendiri!”

“Kenapa bisa? Aku mengalah, memilih untuk tidak menyakiti mereka. Kan dari awal sudah ku beri tahu kalau aku tidak semanis karakter yang ku tulis.”

“Mengalah…cih! Kamu itu penakut, mundur tanpa melakukan apapun kecuali berdalih ‘ini demi kamu’.”

“Oke, aku takut.”

Aku penakut. Picik. Ku pasrahkan saat peluk mereka menjadi begitu hangat, terperangkap dalam alur romantisme. Tapi kemudian, entah apa aku menjadi perempuan yang terlalu banyak perhitungan seperti perempuan urban kebanyakan. Pekerjaan yang akan mengalah, kerepotan-kerepotan lainnya dalam rumah tangga, belum lagi ikatan antara dua keluarga besar. Ergh! Aku memang bukan perempuan emansipasi, tapi aku juga perempuan yang masih belum rela atau tepatnya takut memasuki alam baru sementara alam tempatku berpijak perlahan menutup diri.

Hahh…Ku desahkan napas cukup panjang. Tapi kalau saja aku dan kamu tidak terhalang dengan sebentuk batasan yang lama menjajah isi kepala bangsa yang gampang dipecah belah lewat isu agamis ini, mungkin aku akan dengan senang hati mengikutimu…bukan begitu Arangga? Bagiku, saat petang begini, di sampingku tetap kamu. Berceloteh apapun akan selalu ada degup berkepanjangan di jatungku. Kamu bercerita begitu banyak hingga isi kepalaku penuh sesak, mungkin tidak lagi tersisa tempat untuk cerita lain. Mungkin…

Berceritalah Arangga, akan ku dengarkan sambil memejam…tenang, tak akan kamu ku tinggalkan…

**

“Halo…”.

Ku pandangi wajah setengah Londo yang bisa dibilang agak mengingatkanku dengan tokoh film Jepang tentang mafia pelajar SMA. “Ya?”

“Boleh saya duduk di sini?”

“Hemm…silahkan kalau kamu punya kepentingan, dan sebutkan saja kepentingan kamu dulu, setelah itu akan aku pertimbangkan apakah kepentinganmu terhadapku cukup penting hingga aku boleh membiarkan kamu duduk di depanku.”

“Hahahaha….”. Gelak tawa yang membuatku jengah, tidak ikut tertawa, aku sedang dikejar garis kematian, tidak butuh gangguan dari makhluk menarik dipenuhi tatto macam dia. “Maaf, tapi saya bartender di sini. Saya ingin berbincang sebentar kalau tidak menggangu, dan akan menjadi lama kalau ternyata kehadiranku malah membuat perbincangan ini menjadi lama.”

“Baiklah, silahkan duduk.”

“Oke, nama saya Arangga Mukti.” Katanya, aku menjabat tangannya. “Ummayi”. Matanya kemudian memberi isyarat bagi Rano, seorang server di sana untuk membawakan sesuatu. Dan ternyata sesuatu tersebut berupa beberapa cangkir ramuan minuman.

“Aku dengar minuman favoritmu adalah teh atau campuran minuman yang didominasi susu?”

“Ya.”

“Nah, karena kamu pelanggan asing pertamaku…”.

“Maksudnya?”

“Kamu pelanggan tetap pertamaku, yang pertama kali mencicipi resep minuman buatanku, dan yang pertama memesannya berulang-ulang.”

“Oke, lalu?”

“Dari keempat minuman ini, mana yang paling kamu suka? Aku ingin kamu mencicipinya. Ini akan menjadi salah satu menu terbaruku, dan akan ku namai dengan namamu.”

“What? Serius? Lo bakalan masukin nama gwe di menu gitu?”

“Itu kalau kamu ngizinin sih…”. Ah! Senyum mu membuat mata coklatmu berbinar, dan akan ku ingat itu pria separuh Londo dan (tebakan ngawurku) Jepang!

“Hemmm…”. Satu per satu ku cicipi. Cangkir pertama adalah susu dengan rasa vanila khas kafe ini, salah satu kesukaanku. Tapi di dalamnya ada campuran lain, seperti adonan puding kental sebelum dibekukan dalam kulkas. Cangkir kedua teh masih dengan sentuhan vanilla, tidak hanya dari bau tapi juga rasanya, hingga masih terasa saat dikecap seperti saat mengecap es krim. Cangkir ketiga adalah adonan minuman kental seperti yang pertama, hanya saja berwarna coklat benar-benar seperti puding rentan yang pecah ketika diaduk sangking lembutnya, lalu ketika terbelah terdapat taburan strawberry juga coklat yang lebih cair, ini lebih mengejutkan dari rainbow cake! Dan cangkir terakhir adalah sejenis strawberry cair tapi aku masih bisa merasakan buahnya, seperti menggigit strawberry kemudian daging di dalamnya meleleh di lidah, temperaturnya yang cukup panas semakin membuat minuman ini lezat.
“Oke, pertama aku ceritakan dulu tentang minuman-minuman ini, tapi saya harap setelahnya kamu tidak akan men-judge ataupun takut sama saya.” Aku semakin memperhatikan jauh ke dalam matanya. “Tiap minuman saya buat sambil menebak-nebak seperti apa kamu,…seperti apa sosok Ummayi. Jadi diam-diam saya amatin kamu.”

“Lalu, apa yang anda temukan?”

“Kamu…perempuan yang sangat keras hati, lebih suka mengamati dan mendalami, lalu…sedikitnya, mereka menjadi kamu. Tapi ada sisi kamu yang tidak bisa dikalahkan,… perempuan angkuh dengan pisau tajam bersembunyi di sela langit-langit, ambisi. Kamu…”. Saat itu kamu berpaling gugup, sepintas menyadari energi angkuh yang sengaja ku pasang sambil lalu, kemudian dengan sengaja aku menarik kamu untuk menyelami. Apa kamu bisa menemukan sesuatu pada lingkaran gelap ini?

“Aku rasa…cukup.”

Ku tarik tubuhku, bersandar pada sandaran sofa empuk berwarna merah marun. “Boleh aku pilih dua? Saya suka dua terakhir. Atau kamu bisa pilih di antara keduanya.”

Setelah itu, setelah hari itu, kamu tak pernah lagi menampakkan diri. Entah apa aku terlalu menakutimu? Toh, aku tak terlalu peduli, atau…mungkin belum. Tapi sejujurnya, aku menanti, racikan penyegar lidah yang kamu bilang akan dibuat atas namaku. Maka itu aku sering kali mengamati deretan isi menu.

**

Matahari perlahan surut, warna biru memencar, jingga sedang menitiki lokasi tempat nantinya ia akan berpendar. Mataku memandang jalan sepi di luar jendela raksasa. Sedikit yang lalu-lalang, dan sedikit pula yang hari ini mampir. Apa kafe ini telah kehilangan pamornya? Apa kafe ini butuh pamor? Apa yang kafe ini butuhkan Arangga? Ku tatap kursi di depanku, perlahan ada kehadiran Arangga di sana tengah membolak-balikkan buku kumpulan foto Malang Tempoe Doeloe, kota kelahirannya yang selalu bangga diceritakan. Pria campuran Londo-Jepang, dengan nama Jawa serta logat Malangan yang kadang tak mampu ditinggalkannya.

**

“Sudah ku putuskan!”

“Apa?” Ku tutup setengah kepala lap top, mencoba mencari tahu lewat mata coklatnya yang berbinar.

“Aku mau tambahin tatto Tugu Malang di tangan kiriku.”

Aku tersenyum. Apapun aku suka. Sudah ku sampaikan, sekali tatap dia adalah tipe pria kesukaanku, kecuali kulit putihnya yang susah sekali dihitamkan. “Apapun Ngga…aku pasti suka asal kamu nggak bikin tatto kelabang atau lop-lopan.”

Arangga berpindah duduk di sampingku, memperlihatkan gambar Tugu. Lingga dan Yoni, sebentuk kesakralan yang selalu saja ditabukan, hingga membuat manusia selalu penasaran layaknya Adam dan kasus buah khuldi.

“Ini di sini.” Katanya sambil menunjuk pergelangan tangan kirinya, agak menyamping.

“Nice.”

Kusandarkan kepalaku pada bahunya. Lagi, mendengarkan ceritanya tentang kota kelahirannya, kenakalannya, keinginannya, mimpi-mimpinya. Apapaun itu, selama berada di sampingnya, selama ia tetap berbinar seperti saat ini, maka aku menjadi yang paling bahagia.

“Ma…”.

“Ya?”

“Mungkin aku akan pergi.”

Ku tarik kepalaku. “Kamu bicara soal kematian lagi ya?…”

Sebelum aku bicara panjang lebar Arangga mengecup pipiku, “bukan.”

“Lalu?”

“Ke kota lain…atau negara lain.”

“Kamu…mau cari keluargamu?”

Arangga mengangguk. Aku hanya mampu menghela napas. Toh akupun tidak bisa menahannya untuk tetap di sisiku, dia bukan milikku. Sepanjang yang kami tahu, kami tengah berbagi kasih. Betapa kami saling peduli, perjuangannya akan melebihi Romeo dan Juliet. Berada di sampingku, akan selalu membuatnya terluka.

“Sudah pikirkan mau mulai dari mana?” Ku alihkan pandanganku.

“Mulai dari menjadikanmu istriku Ma…?” Ada ragu dari nada suaranya, dan ada sebuah ketakutan dalam diriku. Cukup sebuah tapi terlalu besar.

Ku gamit lengannya, kemudian menyelipkan jemariku di sela jemarinya.

“Kita ini…bisa apa ya, Ngga?”

Arangga balik menggenggam jemariku erat. Tidak berkata apa-apa. Menakuti permintaannya akan terlalu muluk dan menakuti akan menyakitiku perlahan, membuatku pergi tanpa kata. Membuatnya lagi-lagi kehilangan orang yang dicinta. Lalu dalam hati berdo’a…Tuhan…maka jadikanlah Bethariku bahagia, seperti ia memintaku bahagia. Kalaupun aku tidak baik-baik saja, maka jadikanlah ia baik-baik saja. Aku tahu ia tengah berdo’a, karena kebiasaannya menggenggam salib yang tergantung di dadanya, karena aku terbiasa mendengar suara hatinya.

“Kita akan baik-baik saja, kan Ngga?”

“Selalu Bethari-ku…”.

 

– Selamat menanti kisah selanjutnya,

Salam kasih,

XOXO

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s