Dimensi Foya / Uncategorized

Review: The Dark Knight Rises – Lagi, Tamparan Kesadaran

Beberapa jam lalu baru saja selesai nonton The Dark Night Rises untuk yang kedua kalinya. Film yang sudah saya niatin harus nonton, dan membuat si pacar tergila-gila sama film ini, setelah sebelumnya kita sempet ngobrol-ngobrol sama teman kantor dan sutradara mas Affandi Rachman. Tentang kemunculan-kemunculan tokoh baru kebanyakan…

Saran saya, jangan sekalipun kalian berpaling dari tiap scene ataupun sibuk ngobrol hingga tidak mendengarkan tiap dialog yang rasanya sering-kali bergaya sarkas mix manis, menampar kesadaran. Kalau dulu Joker hadir sebagai tokoh psikopat yang sedang bersenang-senang dengan (Gotham City) sebagai mainannya, Bane menganggap kota ini lebih serius, dan saya pun menganggap karakter Bane lebih serius sebagai sebuah hukuman yang datang dari kegelapan, sebuah hukuman yang datang dari kaum yang dilabeli terbuang oleh masyarakat. Hukuman bagi kota korup yang terlalu banyak orang campur tangan di dalamnya, new version of Franch Revolution.

Bagi saya The Dark Knight Rises ini memberikan pilihan bagi kita, mana yang menurut kalian pahlawan? Makna layaknya film Blade of Bloods yang beberapa waktu lalu juga baru saya tonton. Ketika sebuah pergerakan yang mengatas-namakan keadilan dan pemberantasan suatu yang korup justru menimbulkan efek-efek lain bagi tiap individu. Tiap keputusan ataupun langkah pastinya memunculkan efek dan situasi baru, korban atau mengorbankan, mendapat cap pahlawan atau pada akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan, atau yang lebih parah dicap penjahat. Dan sama halnya dengan Snow White and The Huntsman, Christopher Nolan pun turut menyajikan sisi lain seorang yang dicap penjahat, sisi yang membuat kita bersimpati.

Biarkan saya membicarakan tentang Tom Hardy yang membuat saya klepek-klepek di film Warrior dan again bermain apik sebagai Bane. Tom tidak berusaha menyaingi kegilaan Heath Ledger sebagai Joker, tapi pure sebagai karakter baru yang saya kenang bukan karena keganasan dan kegilaan, tapi sebagai realisasi yang selama ini dibicarakan banyak orang tapi tidak atau belum pernah dilakukan. Nada bicara, intonasi, voice changer, errgghh! Membuat saya berpikir sosok Bane adalah orang tua penyayang yang bijaksana, but then, kalimat “It would be extremely painful” justru membuat saya ngeri. Walaupun again, kalau dulu Bane hanya sebagai side-kick Poisson Ivy, dan ternyata di film inipun Bane sebagai side-kick dari Miranda Tate alias Talia, bagi saya di film ini Bane mempunyai misi tersendiri. DIa adalah pion, dia adalah raja dan ratu, joker sekaligus kartu AS.

Batman. Yes, tokoh hero yang menurut saya paling real dengan latar belakang, sisi rapuh, as real as human being. Dan ketika Bruce Wayne mengatakan kalau tiap orang bisa menjadi Batman, saya seperti terkena kutukan karena sepanjang film saya ikut tersiksa melihat aksi Bane cs, saya menjadi Batman, Bruce Wayne.

Catwoman. Anna Hathaway. Menampilkan sisi mellow dari Catwoman, lumayanlah…tapi kalau sampai film Catwoman dibuat berdiri sendiri dengan Anne sebagai pemerannya,…sejak kapan Catwoman menjadi the girl next door yang memaksakan diri tampil seksi dengan baju ketat lantaran jatuh cinta dengan pria kaya hampir beruban? Tidak ada yang bisa mengalahkan Michelle Pfeiffer sebagai Catwoman. Mungkin saya bisa mencalonkan Mila Kunis dengan mata nakalnya, yah, walaupun ia terlihat mirip dengan Miranda Tate.

Alfred. untung saja tidak ada adegan mengenaskan, karena saya pasti sudah menangis dengan parahnya! Melihat Alfrd sedih saja saya sudah mulai berkaca-kaca! Well, film ini menempatkan sosok Alferd sebagai ayah.

Ini adalah poin-poin lain yang menarik untuk saya:

  • karakter bernama Robin, atau siapapun lah dia, polisi muda yang pertama kali tahu tentang Bane padahal komisaris Gordon tidak pernah menyebut Bane. Atau ketika dia membunuh dua orang yang seharusnya bisa ia mintai keterangan, dan ketika Miranda mencalonkan diri membantu dalam pencarian bom, dia di sana. Atau ketika dua kali usaha penyelamatan yang bocor, a.k.a dua kali si pengkhianat memberi info dan kecurigaan saya tidak jatuh pada Miranda. Ia bahkan bisa tahu kalau Bruce Wine adalah Batman, dan dialog-dialognya cukup mengganggu, seolah dia benar-benar tahu perasaan Bruce. Saya masih ragu kalau dia adalah Robin karena di komik orang tuanya mati di sirkus seperti dalam film Batman & Robin (atau mungkin kalian tahu versi lain? Entahlah, yang jelas bagi saya dia seperti the new Harvey Dent.
  • Film ini banyak menyindir kemajuan tekhnologi, acara amal kaum elite, atau masyarakat suatu bangsa yang terlalu larut dalam euforia kemenangan hingga lupa untuk waspada, dan juga masyarakat yang hobi memberikan label atau stereotipe.
  • Dialog Alfred: “Seseorang akan bangkit dari kegelapan, kegelapan melahirkan sesuatu”. Terdengar seperti…sebuah pembalasan? Ya, anggap saja hukuman.
  • Dialog: “Ini bursa saham, tidak ada uang yang bisa kalian curi di sini” | “Lalu kenapa kalian semua ada di sini?”
  • Waktunya menyindir mereka yang mengatas-namakan lambang keadilan! Seolah atau selalu membuat masyarakat percaya kalau mereka tengah mengejar pelaku sebenarnya, sosok nyata. Apakah ada yang nyata?
  • In the end kita tidak benar-benar butuh sosok pahlawan, kita hanya butuh seseorang untuk dipersalahkan ketika keadaan menjadi buruk.
  • Dialog Bane dengan nada suara yang membuat saya merinding: ” I am the league of shadows, i’m here to fulfill Ra’s Al ghul’s destiny!”
  • Saya mengharapkan film ini lebih brutal, seperti ketika adegan Bane mematahkan tulang punggung Batman. Tapi ketika banyak anak-anak dalam film, kita semua tahu pasar film ini.
  • Sosok anggota dewan dalam perusahaan Wayne dan sosok polisi berwajah Asia yang juga terdapat dalam dua film sebelumnya.
  • Dialog bane: “orang dengan status seperti mereka berhak melihat perubahan zaman dan peradaban baru.”. De javu dengan 2012?
  • “Kami datang bukan sebagai penakhluk, tapi sebagai pembebas masyarakat untuk mengendalikan kotanya, agar jangan ada campur tangan dari orang luar.”
  • “Polisi akan bertahan kalau mereka sudah belajar membela keadilan sejati.”
  • “Kelahiran seorang anak, memulihkan keseimbangan dan peradaban.” Teringat akan sebuah ramalan dari hero tanah Jawa yang legendaris?

Film yang mengumbar tentang kebobrokan bukan hanya sebuah kota, tapi juga jaman. Manusia-manusia korup yang membuat lambang hukum dan keadilan menjadi simbol penindasan dan kebobrokan. Kalau Bane adalah hukuman yang diperlukan bagi Gotham City, siapa atau apa yang nantinya akan menjadi hukuman di dunia kita yang bobrok ini?

Foto: Google, Comicbookmovie

Iklan

One thought on “Review: The Dark Knight Rises – Lagi, Tamparan Kesadaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s