Ruang Aksara

Sweet Side of Life – Diary Pemimpi

Cinta itu luka. Mungkin sebenarnya bukan luka, dan bukan cinta juga. Bagaimana kalau kita memposisikan luka sebagai bukti dari sebuah pembelajaran, bukti kita pernah berproses, bukti kita pernah hidup. Sedangkan cinta adalah bubuk ajaib yang menyembuhkan luka.

Lalu apa atau siapakah aku? Anggap saja aku partikel kecil, seonggok remah yang beterbangan di langit. Siang, malam, petang, fajar, hujan sampai kemarau aku di sana…aku memandangi kalian, dekat ataupun dari kejauhan. Kalian adalah makhluk manis, tapi kadangan bisa sangat menjengkelkan, terlebih menakutkan. Tapi aku mengerti kenapa Tuhan sayang kalian…

Aku tidak menyebut ini sebagai luka, tapi pilihan. Kami memilihnya, untuk bersama, setidaknya dulu…Aku cinta, entah aku jatuh atau aku hanya sedang bermimpi.

Muhair, bukan pria idamanku. Tidak tampan, tapi dia terlalu manis hingga kadang aku sakit gigi. Dia tidak menawariku emas 24 karat, tapi ia menawakan dirinya. Dia tidak membacakan puisi, tapi ia memeluk dan mengecupku. Ia mempertemukanku pada Tuhan, sebentuk zat yang dulu ku anggap kehadirannya hanya mitos nenek moyang belaka, sama seperti keagungan Zeus.

“Bi, saya tidak meminta kamu jadi wanita bercadar yang berdiam di rumah. Jadi koki, jadi guling, apalagi cuma untuk reproduksi. Saya butuh dan ingin kamu jadi pendamping saya Bi…”.

“Bi…apa mimpi kamu?”

“Bi, mimpi saya terdengar muluk, tapi saya ingin menjadikan tanah air kita ini nyaman ditinggali untuk cucu-cicit kita.”

Mu…aku pikir menjadi seperti sekarang, menjadi Bita Iskandar, menjadi seorang wanita karir yang sukses adalah impianku. Tapi setelah aku menjadi itu, aku ragu apa hanya itu? Apa aku wanita yang tidak pernah berpuas diri Mu? Apa itu yang membuatmu pergi dariku Mu?

“Ndoro ayu…ini rumah kita!”

Mu…matamu berbinar. Seperti keinginanku, jendela besar, pintu kaca dengan beranda mungil yang langsung menatap senja. Keinginan kita, rumah kayu sederhana dengan pekarangan yang bisa menyalurkan hobi baruku. Rumah kita Mu…

“Saya harus pergi! Kamu tahu kan, Bi seberapa pentingnya ini?”

Mu…apa salahku tidak ku pertenyakan, apa aku bagian dari mimpimu?

“Kita harus pergi Bi! Mereka sedang mencari saya, Muctar juga Idam. Mereka sudah tahu pergerakan kami Bi! Kamu lebih baik ke Jogja, tempat opa-oma mu lebih aman!”

Mu…rumah impian kita luluh lantah. 6 bulan lalu ku lihat puing-puingnya berserakan. Bunga-bungaku kering, tomat merah kesukaanmu yang ku rawat susah payah membusuk. Rumah kita seperti rangka keropos Mu…

“Kita bisa pergi jauh Mu! Kita bisa pergi ke luar…”

“Bi! Kamu tahu saya nggak suka sama bangsa penjajah tai itu! Mereka mau jadikan kita budak! Kalau kita hidup di sana, sama saja kita mengemis! Saya lebih baik mata di sini!”

“Oke, kita bisa hidup di sini, atau kota lain. Kemanapun yang penting kita sama-sama Mu! Aku butuh kamu! Kamu bilang juga butuh aku, aku mau dampingin kamu…kita udah janji Mu…Jangan lari lagi…”

“Bi…kamu sudah tahu impian saya…”

“Dan aku tidak pernah berada di dalamnya”

Kamu bahkan tidak menatapku Mu…kamu berlalu, tergesa pergi bersama kawan-kawanmu…mereka yang merupakan pemimpi yang sama seperti kamu. Mereka yang menjadi bagian dari mimpi kamu. Mereka yang menganggap aku wanita murah karena darahku telah tercampur dengan darah yang kalian sebut penjajah. Tahukah kamu Mu…suatu ketika mereka yang bernama pribumi mengobrak-abrik rumah opa, menelanjangi mami, berbulan kemudian lahirlah aku Mu…

“Mu…don’t leave, i’m begging you…”

Mu…sejak kapan kamu tidak pernah menatapku?

“I’m pregnant…aku hamil Mu…anak kamu…anak kita…”

Suaraku habis Mu, tepatnya kekuatanku yang habis.

“Mu…”

Mu…namanya Sekar Prinanti. Usianya 2 tahun kini. Kalau ada waktu, datanglah bermain dengannya. Dia memanggil sahabatmu dengan sebutan ayah. Tiap minggu ia mengunjungiku yang dipikirnya lelap dalam rumah semut raksasa. Saat besar, dia akan mengerti apa arti tiada. Berbahagialah Mu…

-3Juli2012-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s