Racauan Nyai'

Kita Bukan Indonesia, Tidak Berhak Mengklaim Budaya Indonesia

Itu adalah kesimpulan saya terhadap diri saya sendiri. Saya tidak berhak mengklaim sesuatu yang bahkan tidak saya pahami benar, sok memiliki, sok tahu mengenai itu.

Kalau dipikir, budaya adalah sesuatu yang membentuk kita. Yang kita jalani, yang kita terapkan sehari-hari. Tapi pada kenyataannya, segala budaya yang diklaim, dalam bentuk batik atau tari tradisional, dari 1-10 orang paling banyak 2 orang yang paham betul dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Batik, ini cerita lama. Mulai diterapkan pemakaiannya oleh pegawai alias para pekerja di hari tertentu, ketika batik katanya diklaim Malaysia. Setelah itu ramai-ramai industri fashion ‘mengusik ketenangan’ kain-kain tradisional. Tapi tetap, mereka dan kita buta akan makna batik sesungguhnya.

Yang perlu kita semua tahu, Afrika pun punya batik. Tanpa perlu melakukan berbagai cara dan usaha dunia sudah tahu batik Afrika. Kenapa? Karna mereka telah menjadi orang Afrika yang se-Afrika mungkin, menerapkannya. Maka apapun budaya yang mereka miliki, mereka tidak butuh pengakuan orang lain karena dalam jiwa mereka telah tertanam nila-nilai dan direalisasikan dalam kehidupan.

Saya sudah berpikir matang ketika saya berani bilang: cara melindungi budaya lokal adalah dengan menutup pintu dari segala yang berbau asing. Kalau ada yang berpikir ini adalah cara bunuh diri, bagi saya itu pemikiran bodoh. Karena tanah yang kita pijak ini adalah Syurga dimana bangsa lain dengan senang hati menginjak harga diri dan identitas kita demi mendapatkan Syurga yang kita punya. Kita punya bahasa, musik, sejarah, legenda, film, garmen hingga bahan makanan.

Kalau saja kita memahami itu semua, kembali pada kearifan budaya lokal, menerapkannya pada kehidupan, maka kita akan mengenai Indonesia. Stop talking about Justin Bieber called Indonesia as random country, stop calling Malaysia as Malingsia, stop telling how stupid people because they do not know about Indonesia except Bali. Mereka adalah orang asing yang wajar tidak mengetahui Indonesia, yang tidak wajar adalah ketika kita mengaku Indonesia tapi nyatanya kita hanya seonggok daging yang sekedar buang kotoran di tanah Indonesia. kalau kamu benar-benar Indonesia, then be it! Tanpa perlu sesumbar dunia akan tahu dengan sendirinya.

Ketika kita sudah memahami menjadi Indonesia, maka silahkan buka pintu bagi asing yang ingin bertamu. TEGASKAN KALAU MEREKA HANYA TAMU. Tamu yang sewajarnya, dimana mereka berpijak di situ langit di junjung. Tamu yang permisi kalau ingin menitipkan barang, tamu yang permisi kalau ingin menumpang tinggal, tamu yang tahu tentang nilai-nilai dan budaya dan menghormatinya. Kita sebagai tuan rumah juga harus tahu cara menanggapi tamu. Kita ramah-tamah, kita bisa saja memberi, kita bisa saja berbagi, tapi kita tidak bisa dibodohi. Jangan berteriak maling ketika kamu membuka pintu rumah selebar-lebarnya bagi orang asing hanya karena mereka memberi sekantung permata dan berlian.

Kalau saja, ketika saya muda dan masih mengalami masa dimana ujian nasional atau ujian kenaikan kelas sampai penerimaan sebagai mahasiswa, saya dihadapkan dengan soal ujian budaya, sejarah Indonesia, bahasa daerah, PPKN/Kewarganegaraan, maka saya tidak akan sebuta ini pada negara saya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s