Racauan Nyai' / Ruang Rupa

Haruskah Tenun Ditampilkan Dalam Tampilan Modern Agar Diakui Secara Internasional?

Pertanyaan ini langsung tak terbendungkan di kepala saya setelah membaca sebuah artikel di Viva News (lihat sini). Dalam artikel tersebut dikatakan:

Menurutnya, tenun Indonesia harus ditampilkan dalam kemasan adi busana modern siap pakai. Chossy yakin, dengan cara tersebut tenun akan mendapatkan pengakuan dan penghargaan di tingkat internasional.

Entahlah, saya merasa ada yang salah dengan susunan kalimat di atas. Saya semakin skeptis dengan gembar-gembor yang menyatakan ingin membawa perangkat/peninggalan budaya seperti batik dan tenun agar diakui secara Internasional. Kalimat di atas seolah membuat saya sebagai pelaku budaya Indonesia haus akan pengakuan, sementara saya sendiri bisa saja mengakui tapi belum tentu menghargai.

Seperti sebuah ketakutan yang sudah saya ungkapkan sebelumnya: Ketika batik mendunia, masihkah menjadi budaya Indonesia? Ketika itu entah batik, songket ataupun tenun ingin diperkenalkan ke mata dunia, kemudian harus menyesuaikan diri dengan menjadi modern, diperlihatkan dalam tampilan bergaya Eropa atau negara-negara lainnya, lalu di mana letak Indonesianya? Dari mana dunia tahu kalau itu adalah bagian dari budaya Indonesia? Dari designer yang membuat? Dari pekerja yang menenun kain? Dari masyarakat yang berkoar kalau itu milik kami?

Cih! Indonesia itu bukan sekedar darah apalagi KTP sebagai warga negara bung! Lagi-lagi ‘pusaka budaya’ dilacurkan untuk menjadi pemuas gaya hidup, dilacurkan untuk menjadi korban keganasan kapitalis dan tetek bengeknya yang bernama budaya pop dan budaya massa. Memang harus diakui secara Internasional dulu baru kita mau mengakuinya sebagai budaya kita? Lantas kalau mereka mengakui (yang seharusnya) budaya kita sebagai budaya mereka kita akan kembali berseru, ‘ganyang!’.

Kalau kita tidak menghargai dan menyadari budaya kita sendiri, bagaimana dunia mau peduli? Bisa saja mereka mengakui tenun atau batik sebagai pernagkat dan hasil budaya mereka, toh apa yang kita tampilkan mengatas-namakan kemodern-an, ke-Eropaan, ke-Baratan. bahkan motif tenun dan motif batik ataupun songket saja kita tidak hapal betul, apalagi latar-belakang adanya batik dan tiap motifnya.

Kalau mau ambil untung sendiri, atau kalau mau eksis sendiri, sudah saya katakan, berhenti mengatas-namakan Indonesia!

Salam kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s