Dimensi Foya / Uncategorized

Review: Snow White and the Huntsman

Baru saja nonton Snow White and the Huntsman dan membuat saya bernapas lega, setidaknya tidak melenceng jauh dari bayangan saya mengenai Putri dalam dongeng memakai baju zirah, fight for her life. Sebelumnya, nikmati dulu trailernya sekaligus mengingatkan saya bagaimana euforia waktu saya menikmati film ini sekitar sejam lebih lalu.

Film baru beberapa menit di mulai sudah membuat saya merinding, bagi saya Rupert Sanders cukup memberikan bumbu sejak dimulainya film. Membuat saya membayangkan, ketika Gandalf, Aragorn, Legolas dan Gimli sedang berperang di Middle Earth maka Snow White berada di belahan bumi lain sedang memperjuangkan kemanusiaan yang masih mereka miliki. Sedangkan, para kurcaci di sini saya lebih maknakan simbol dari karakter kesetiaan yang dimiliki Sam pada Frodo serta ketulusan keduanya menempuh perjalanan berat untuk menghancurkan cincin.

Dari poin 1-5 saya berikan angka 4 untuk film ini. Bagi saya pesan kemanusiaan di film ini jauh lebih berarti, terutama tamparan untuk perempuan yang terobsesi pada kecantikan fisik. Beauty is pain, and too much pain really can kill you before it torns you and people around you.

Ravenna

Karakter Ravenna the evil Queen yang kalau kalian pikir digambarkan sangat bringas, Rupert menggambarkannya sebagai kejahatan yang terbentuk oleh efek kejahatan yang pernah dilakukan manusia sebelumnya. Kejahatan yang telah diperbuat manusia pada sesama dapat membuat orang itu menjadi lebih kejam, dendam merupakan makanan lezat bagi setan yang ada dalam diri manusia.

Ravenna played by Charlize Theron

Sangat baik dimana film ini tidak berpihak. Sedingin apapun dan sekejam apapun masih ada sisi manusiawi dalam diri Ravenna, ia masih menangis, ia masih terbayang dengan masa lalunya, membiarkan dirinya termakan dendam. Dan tokoh si adik, Finn, yang setia pada Ravenna walau sejahat apapun. “Beauty is my power”. Ini seperti suara pada iklan-iklan yang mengatas-namakan feminisme. Kecantikan fisik yang dipuja-puja dengan alasan untuk menakhlukkan mereka yang pernah merendahkan kaum perempuan, yang pada akhirnya dikalahkan oleh kekuatan yang dimiliki oleh inner beauty perempuan lainnya. Bukan tentang yang tua mengalahkan yang muda, tapi siapa yang mampu bertahan menjadi diri sendirilah yang akan bertahan, dan bagi mereka yang hidup dalam kepalsuan suatu saat akan tumbang.

Bangsawan atau Kesatria tampan tidak berperan banyak di sini. Seperti menganut kepercayaan, bukankah Putri boleh tidak menikahi Pangeran? Bolehkah Putri menaruh hati pada pengawal kasar yang pemabuk? Anggap saja ia jelmaan bad boy masa kini versi jauh lebih terhormat, yang mempertaruhkan nyawa untuk suatu hal yang ia percaya. Pria sebagai manusia yang walaupun jatuh berkali-kali, menangis, putus asa, memilih jalan yang salah, menyakiti orang di sekitar, tapi kemudian bangkit lagi. Yang jelas butuh ciuman dari dua pria berbeda untuk membangkitkan sang putri. Ah…so lucky u Kristen Stewart!

Sisi gelap, sounds, karakter, hampir menyerupai Lord of the Ring (LOTR), sedangkan yang berbau fantasy-dongeng yang lebih menghibur mata mengingatkan saya akan Aslan, akan Narnia. Sayangnya, dialog-dialog yang saya dengar kurang mengena, terlalu ala Amerika. Saya tidak menemukan keindahan dan kekelaman yang menjadi satu dalam bahasa-bahasa pada LOTR, ataupun kejujuran dan menggugah layaknya Narnia. Ibarat campuran kolosal dan fantasy yang melempem begitu karakter berbicara, terutama Snow White. Yang cukup membuat saya bertanya-tanya adalah adegan dalam trailer dimana Ravenna berteriak dan seketika kaca pecah, none. Dan ketika Snow White ditemukan mati memakan apel, berbeda dari yang ada di trailer.

Yang saya anggap bermain sangat apik dalam film ini adalah Charlize Theron sebagai evil Queen Ravenna. Totalisan Charlize membuat saya menaruh iba pada Ravenna, tampi juga menimbulkan kengerian dengan dinginnya tatapan mata dan gaya penuturan, serta dialog yang menurut saya paling mengena dimiliki oleh tokoh Ravenna.

Sedangkan Kristen Stewart membuat saya kecewa dengan menampilkan Snow White yang lebih mengingatkan saya pada Bella Swan di Twilight. Saya berharap karakter asli Snow White yang innocence, penuh belas kasih, rapuh tapi dengan pencampuran versi dark berkembang menjadi karakter kuat, dengan tatapan kestaria akan ditampilkan apik; nyatanya hanya…ya, begitu saja. Seperti, kalau Charlize berubah menjadi Ravenna, Snow White berubah menjadi Bella Swan ala Kristen Stewart.

Pujian lain saya rasa layak disampaikan untuk efek pada film yang pergerakan dan detilnya sangat halus dan menghibur mata. Chris Hemsworth sebagai huntsman yang menyimpan kepedihan tapi pada akhirnya berhasil menemukan kembali jiwa kesatrianya. Juga jangan lupakan suara seksi narator yang membuat saya merasa didongengi. Lalu penyampaian pesan, ketika bertemu dengan sekelompok perempuan, yes, sebuah desa yang dihuni para perempuan bukan lantaran mereka benci pria, tapi karna para pria berjuang atau menjadi korban peperangan. Para perempuang yang mengorbankan perasaan serta wajah demi mendapatkan ketenangan hidup. And of course Ravenna’s gowns!

Yang saya harapkan adalah ketika Snow White berkata: “You can’t have my heart”, akan ada tambahan: “But you can have my love or my mercy.” Haha, sekedar harapan saya. Dan yang menyebalkan beberapa potongan yang membuat film sangat terasa melompat adegan, cih! Nggak pinter motongnya!

Selamat menonton, atau kalian punya tanggapan berbeda?Monggo…

Salam kece,

NAD

*Foto diambil dari berbagai sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s