Racauan Nyai' / Ruang Rupa

Kenapa Harus Pake Model Bule Terus?

Blackheart by Maria Agnes

Menjadi jurnalis fashion pastinya saya mengamati majalah ataupun brand Indonesia, atau yang setidaknya mengatas-namakan diri sebagai brand Indonesia. Sepanjang yang saya amati, lookbook ataupun artikel di majalah fashion menggunakan model bule, minimal Indo. Seperti yang saya pertanyakan di atas, kenapa?

Mungkin maksud hati ingin memperlihatkan kalau brand Indonesia atau majalah Indonesia bisa atau cocok juga dikonsumsi ‘bule’. Menurut saya, jadinya malah, brand saya lebih apik dipakai ‘bule’, atau majalah saya cocok dikonsumsi oleh ‘bule’. Dan parahnya membuat, Indonesia yang tidak Indonesia. Indonesia yang tidak punya taste Indonesia. Indonesia yang krisis identitas.

Monstore

Kalau kata beberapa teman yang ngakunya fotografer katanya model Indonesia tidak memiliki taste yang menjual seperti ‘bule’. Ini bisa jadi baik atau buruk, why? Bagusnya, karena perempuan atau pria model yang sangat Indonesia dari segi fisik memang bukan benda untuk dijual. Jeleknya, karena menunjukkan ketakutan mereka yang mengaku fotografer karena tidak mampu menjadikan apa yang menurut mereka ‘tidak bagus’ menjadi bagus. Atau mereka telah termakan mitos kecantikan yang dibuat oleh mereka yang disebut imperealis.

Cotton Ink

Ini yang menjadi salah satu sebab saya berani bilang Indonesia bakalan susah mau disebut sebagai salah satu negara mode, karena kita nggak punya identitas sendiri. Apa yang kita punya adalah apa yang kita contoh dari orang lain tanpa memodifikasi, hanya melabeli ‘ala Indonesia’.

Lihat saja bagaimana brand-brand lokal didominasi oleh trend-trend dari luar. Misalkan ketika trend di sana mengusung minimalis, gaya urban yang katanya disesuaikan untuk orang Amerika, sederet brand lokal mengikuti trend tersebut, seragam tanpa eksplorasi, dan MEMBOSANKAN! Spring, winter, autumn… tidak ada yang berpikir untuk membuat sesuatu yang sangat Indonesia dari ujung sampe ke ujung lagi. Fungsinya hanya sebagai gaya.

Balik lagi ke model bule atau aktor bule. Saya tidak membuat statement mereka yang bule dan tinggal di Indonesia bukan orang Indonesia, mereka bebas mengaku orang Indonesia. Tapiiihhhh pppuuuhhhliiiiisssss, bisa nggak kasih kesempatan buat yang aseli Indonesia? Bukan Endonesah?

Anyway, saya nggak lagi mau menyelesaikan permasalahan atau pertanyaan di atas? Saya lagi tanya.

Salam kece,

NAD

 

Iklan

7 thoughts on “Kenapa Harus Pake Model Bule Terus?

  1. ya, sama seperti pertanyaan saya tentang iklan2 di Indonesia yg cenderung menggunakan model bulu atau orang indo.
    jadi, orang Indonesianya kemana??
    atau jangan2 periklanan Indonesia sudah dikuasai orang diluar Indonesia?

    • kenyataannya, bukan hanya periklanan yang dikuasai, tapi juga media. Karna sekarang ini kita tengah mengalami yang namanya efek imperialisme budaya. Dan pertanyaan terbaru, ketika kita tahu apa yang sedang terjadi, apa yang akan kita lakukan? Diam saja atau bertindak dengan cara cerdas?

  2. memang sudah banyak yang dikuasai (atau menggunakan kata yg lebih ironis: dijajah).
    yang jelas, adalah suatu keniscayaan kita memilih bertindak secara cerdas jika kita memang “benar-benar sadar dan peduli” akan hal ini.

  3. menurut saya model bule uda popesional, dan enak untuk di foto
    kalo model indo. belom apa” aja uda tarif tinggi dulu.
    trus apa” ga boleh sama pacar nya…

    huuft

    di ajak kerja model lokal kadang rada susaaah ….
    untung saya uda ada beberapa model lokal yang bs di ajak foto dan mereka pro smua..

    jadi saya sekrng suka model lokal … hehehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s