Racauan Nyai'

Rindu Menjadi Manusia

Picture: Favim.com

Saya masih ingat betul pesan papa saya: “Adek, kalo kamu jadi orang media, jadilah media yang memanusiakan manusia.”

Hemm…begini maksud papa saya: Kalian perhatikan kan, gimana kejamnya media? Setelah memanjakan, membuai, kemudian menina-bobokan, tapi kemudian dijatuhkan. Profesi media sering kali dilakukan tanpa hati, tidak berperikemanusiaan, tidak manusiawi, tapi berdasarkan kepentingan, kepentingan orang yang punya kuasa, orang yang punya duit.

Papa saya kepingin, pekerjaan apapun yang saya lakukan, tetap menghargai orang lain, jangan tinggalkan rasa perikemanusiaan saya, karna tidak ada yang tahu, siapa tahu suatu saat saya membutuhkan orang-orang yang (seandainya) pernah saya jatuhkan.

Pesan papa saya kembali dikatakan oleh seorang teman. Membuat saya bertanya, sudahkah saya memanusiakan manusia-manusia di sekeliling saya?

Manusia, makhluk sosial. Yang namanya bersosialisasi itu pasti ada komunikasi, dan komunikasi terbaik adalah face to face kalo menurut saya. Dan tentunya kita paham betul, teknologi sedang menggila dan berubah menjadi jahat, membuat ketergantungan, manja, segala komunikasi yang sifatnya langsung disepelekan karna sudah ada hanphone, chatting, dan sebagainya.

Apa hubungannya sama judul di atas? Begini…saya rindu betul bangun pagi ditepuk pipi sama papa, dengar teriakan momski (walaupun kadang masih, errr…sering.), bukan dengan suara televisi atau alarm HP.  Saya kangen surat-suratan, entah ya…bukan karna unsur romantisnya juga kayak Cinta sama se-Rangga, tapi rasanya ada usaha yang terlihat dari tulisan tangan. Seperti usaha saya waktu SD yang mau jd Cupid-nya temen sampe rela buat surat cinta. Rindu hati damai tanpa kepancing emosi gara-gara ada temen yang berantem-pacaran-selingkuh-mandi-nungging di media jejaring sosial. Rindu mengkode gebetan dengan tatapan mata ala Gerhana #eeeuuuuhhhh

Saya rasa kebergantungan manusia sama alat komunikasi dan teknologi ini malah bikin manusia nggak bangga jadi makhluk sosial, tapi lebih bangga jadi ‘A-Tek’ a.k.a Anak Tekhnologi.

Pernah nonton film Wall-E? Atau I Robot? Film-film dengan pesan: Ketika manusia mulai sangat tergantung pada teknologi, maka manusia mulai menyingkirkan hal-hal yang membuat mereka menjadi manusia, menjadi makhluk hidup. Maka teknologi mengambil alih otak dan hati. Ingin mengambil posisi manusia di mata Tuhan? Entahlah…Mungkin makhluk lain lebih layak disebut makhluk hidup ketimbang manusia yang akhir-akhir ini semakin heart-less, mind-less, job-less, love-less (halah!).

Tidakkah kalian rindu bersosialisasi? Tidak hanya dengan sesama manusia, tapi juga sesama makhluk hidup lainnya? Tidakkah kalian rindu rumput? Bau air hujan yang jatuh ke tanah? Tidakkah kalian rindu tertawa bersama sambil main congklak, bekel, lompat tali, bersepeda; bukan tertawa bersama di chat Blackberry? Bukankah peluk itu lebih hangat dari hashtag pukpuk atau peluk atau kusuk-kusuk? Tidakkah rindu mempersempit jarak dengan kaki? Atau buat yang galau…rindu itu bukannya lebih nyata kalau disampaikan dengan nyali? Dikatakan, bukan di sms-in, dll…

Tidakkah kalian rindu menjadi manusia?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s