Precious of Me

Tertawa, Menangis Kemudian – #PinkRibbon

Dulu saya selalu dibilangin, “jangan ketawa kenceng-kenceng” atau “jangan terlalu bahagia, karna abisnya pasti nangis.”

Dan itu kalimat yang telak menampar saya kemarin malam. Setelah bergembira dengan permainan Truth or Dare yang dipaksa jadi Dare, permainan yang sudah 3 hari ini selalu saya mainkan dengan peserta tetap sahabat saya Febe, dan teman Sumuk, Ulul. Malam kemarin di Legi Pait, bertambah peserta Oky, mas Aji, Bagas dan Ronny. Mulai dari pertanyaan berbobot sampai seputar selangkangan!

Tawa melepas beban setelah seharian berkutat dengan skripsi, begitu saya pikir. Tapi baru saja mendudukkan pantat ketika sampai di rumah, ada sms masuk:

“Innalillahi Wa Inalillahi Roji’un, telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang Ratih Safitri Retno Handayani jam 23.30 malam ini.”

Almarhum adalah sepupu saya, anak dari adik mama saya, biasa saya panggil Nino. Sewaktu dia SMA dan saya SD, kami tinggal bersama di rumah saya. Kemana-mana saya ngintilan dia, main ke manapun dia ngajak saya walaupun saya rewel. Saya magang di Trans 7 dia carikan saya kosan februari 2011 lalu. Saat itulah saya tahu dia terkena kangker payudara, dan sebelah payudaranya diambil. Ditubuhnya ada coretan-coretan, dia juga tidak diizinkan mandi.

Awal tahun kemarin saya ke Jakarta, rapat kantor Ceritamu.com. Seperti biasa saya tinggal bersama bude saya di Kemandoran. Suatu kali dia datang, habis chek up katanya, kabar negatif karna kangker belum bersih  dan malah meyebar ke paru-paru, ternyata itu yang buat dia batuk-batuk.

Nggak lama saya balik ke Malang, cerita ke mama. Beliau yang dulunya pernah mengasuh merasa super-duper bersalah, menangis, belum lagi tidak bisa ada di samping mba Nino, karna papa pun tidak memungkinkan untuk ditinggal. Selang beberapa lama dikabarkan mba Nino masuk ICU. Selang-selang sudah bersarang ditubuhnya. Dan semalam sepupuku sayang mengembuskan napas terakhir, dan lagi-lagi saya tidak ada di saat kematian orang terdekat saya. (jujur saja ini menjadi hal paling saya benci, kenapa saya harus pindah ke Malang)

Hal pertama yang saya lakukan adalah berteriak memanggil mama saya. Jangan harap saya orang yang paling tegar kalau berhadapan dengan kematian, bahkan mama saya yang beberapa waktu lalu menangis melihat anaknya kesakitan tampak lebih tegar daripada saya. Hari ini almarhumah dimakamkan di Joglo.

Sudah tidak ada rasa sakit lagi walaupun saya masih syok, tapi yang lebih saya khawatirkan adalah dua ponakan kecil saya yang kehilangan ibu mereka. Jelasnya sebuah tamparan dan motivasi saya untuk terus melangkah, karna bagaimanapun keduanya atau salah satu dari mereka akan saya bawa. Saya tidak akan biarkan hal-hal ‘negatif’ membuat mereka jatuh.

Sabar…tunggu saatnya, kamu ikut tante..;)

Salam #pinkribbon

NAD

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s