Ruang Aksara

Dear Papa Tuaku

Saya tidak tahu sudah kali keberapa saya membuat tulisan untuk papa saya. Rasanya ada di rumah, dengan dia duduk di sofa di depan saya ketika saya bekerja di belakang lap top itu menyakitkan. Karna pemandangan beliau yang tengah termenung itu cukup menyakitkan buat saya, saya sering kali mendapati kesedihan di matanya.

Tapi kalau saya sering berada di luar rumah, tandanya sedikit waktu yang saya luangkan bersama beliau. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan meminta kembali hambaNya.

Sayangnya saya masih belum bisa ikhlas sekarang ini…saya jadi susah tidur kalau si papa belum mendengkur. Terkadang saya lama memandangi papa yang memejam, saya takut papa lupa bangun.

Takut Tidur

Apa yang membuatku terjaga di malam hari? Dengkur papa tuaku yang bagai alunan nina bobo. Aku dimanja dengkurnya…

Tidak ada dengkur membuatku takut tidur, papa tuaku teruslah mendengkur.

Aku takut tidur ketika papa tua tidur, aku takut kamu tidur lalu bermimpi sangat indah, lalu kamu lupa waktu, lupa terbangun, lupa aku.

Papa tua, mendengkur sajalah terus, nina bobokan aku, dan ketika pagi, tetaplah bangunkan aku dengan sapamu.

Begini saja terus.

-06042012-

 

Dan kamu tahu, beberapa waktu lalu yang biasanya saya bangun siang, tiba-tiba shubuh terbangun. Mendengar papa dan mama berceloteh, papa suka bercerita tentang dulu. Tapi lagi-lagi saya malah seperti disayat-sayat ketika tiba-tiba papa menangis pilu, bercerita tentang ia yang dilupakan.

Dear Papa Tuaku

Shubuh tadi ku dengar ia berceloteh menggebu, sampai pada suatu titik ia terisak. Isakan pilu karna sahabatnya lupa sia dia, di saat sahabat menghembuskan napas terakhir.

Aku diam, masih meringkuk di atas kasur. Rasanya ingin ku belai, ‘sudah papa, biar ku gantikan tangismu dengan tangisku, biar pilumu sayat hatiku, jangan hatimu.’

Papa tuaku, jangan menangis…aku butuh kamu tertawa memamerkan gigi ompongmu, sembari memakai topi bulu yang baru ku beli.

Papa tuak,

Aku rindu digendong kamu. Tak apalah…ku gendong kamu. Tapi jangan menangis, tertawalah bahagia.

Papa tuaku,

Aku rindu dimanja kamu. Tak apalah, ganti ku manja kamu. Tapi jangan merenung lagi, sini kupeluk dan ku dongengi derita masa kini. Derita yang ada karna air mata mu bagai sebilah pisau runcing yang siap menebas kepalaku.

Untuk papa tuaku,
kelak, nanti jangan lupakan aku, aku bisa mati.

-06042012-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s