Uncategorized

Dari Tegang Ala The Raid Ke Ngantuk Ala HI5TERIA

Kemarin saya dan pacar saya rencananya cuma nonton The Raid, saya sudah yakin banget ini film udah mateng dari berbagai aspek. Tapi baru aja keluar berapa langkah dari 21, si pacar nengok gatel ke banner film HI5TERIA, jadilah kita balik lagi beli tiket. (–“) Mungkin menuruti kata pepatah, if you want something, just do it before it’s too late!

Oke, first movie. Saya senang akhirnya ada lagi film Indonesia yang pemainnya keliatan real. Tahukan betapa film-film Indonesia dipenuhi wajah pria-pria blasteran berwajah bersih, yang kalo lalet nemplok bisa ngesot jumawa. Di The Raid Iko Uwais lagi happening banget, which i think he’s the face of Indonesian real man.

Nonton film ini saya juga jadi bertanya-tanya, “mengapa sekarang?”, mungin si Iko Uwais pertanyaannya udah kejawab sementara saya masih mencari-cari cerita dalam film ini sampai saya menulis ini. Kalau kalian kepingin banget nonton, jangan sampai mengalihkan sedikitpun pandangan dari tiap adegan, atau kalian akan melewatkan momen seru berdarah-darah! Makan saja pop corn anda tanpa perlu tahu atau melihat pop corn siapa yang anda makan. Just watch it!

Kamera yang berpindah-pindah sedikit memusingkan, gaya bela diri Iko Uwais yang Indonesia banget bagai si Pitung versi modern, darah yang bener-bener merah (yippie!!!) bukan pink, action yang bener-bener action, music scoring dari Linkin park yang bener-bener yahud pas banget! Lalu…saya mulai pusing dengan kamera yang pindah-pindah sembari tetap mencari sebuah cerita, kemudian di antara adegan bag-big-bug 2 lawan 1 sama si Mad Dog yang bener-bener mad dan sangat dog, ‘is that Donny Alamsyah?’ atau mungkin saya salah melihat stuntman atau Donny Alamsyah hanya korban photoshop?

Dari segitu banyak karakter adalah si tokoh Mad Dog yang membuat saya acung jempol! Bravo! Walaupun keganasannya membuat para penonton termasuk saya tertawa, tapi Yayan Ruhiyan sukses berperan sebagai penjahat yang rada diem, misterius, polos, songong, bengis dan sebagainya. Juga kawanan pria kulit hitam, mungkin Papua atau sejenisnya, saya merasa seperti pembunuhan karakter! Hahaha!

Kalau kamu tanya saya The Raid ceritanya tentang apa? Saya nggak tahu, kecuali kalo kamu tanya genre, jelas ini film action. Atau mungkin ini film yang harus ditinton 2 kali agar kita bisa bener-bener ‘ngeh’ cerita film ini? Who knows? Yang jelas saya tidak terlalu suka di tengah film penonton tepuk tangan seolah ini malam penghargaan #eh, maksud saya, kalian bisa berteriak, ketakutan, nangis, marah, tapi tepuk tangan….

Oke, dari penonton film yang rame beralih ke yang sepi, sesekali diiringi backsound ‘Afika!’ dan sound bocor dari studio sebelah-lalu mengalunlah suara Cherrybell- HI5TERIA. Mungkin sekitar 10-15 orang yang nonton malam itu, saya cuma Bismillah supaya jangan tiba-tiba jadi ramai. TETTTOOOTTTT! Tidak terjadi keramaian apapun, hanya saya yang sekali dua kali kaget dengan trik musik scoring dan hantu yang tiba-tiba.

Baru kali ini saya dan pacar saya yang pecinta film mulai mengalami kebosanan baru beberapa menit film diputar, dan parahnya, sangat buruk, kita berdua merasa sia-sia mengeluarkan duit buat nonton film yang setahu saya promosi via media jejaring sosial cukup heboh. Film yang tidak menarik membuat saya sibuk dengan Twitter dan BBM.  Jadi, kalau ada yang bilang HI5TERIA bikin kamu mimpi buruk, itu benar! Nikmatilah tiket yang sudah kamu beli, setidaknya kursi bioskop empuk dan kamu bisa bobo-bobo ayam, anggap saja piknik.

HI5TERIA yang bergaya omnibus seperti film TAKUT awalnya membuat saya cukup histeria dan bersemangat. Seorang Upi yang biasanya terkungkung dalam film bergenre rebel, Rock n Roll, dan Vino bastian banget, akhirnya keluar dari kepompong dan memberikan jalan bagi sutradara muda untuk berkarya. Sayapun melihat review konsep di blog pribadi Upi, dan cukup ngeri.

Oke, film dibuka dengan Pasar Setan. Tik, tik, tik, tik….beberapa menit saya melihat pacar saya matanya merem-melek walaupun dia tidak pernah kelihatan melek. Tik, tik, tik,…saya berbisik, ‘yank, udah ketebak’, pacar saya ngangguk, maksa melek. Kemudian keanehan suara music scoring yang “JENG JENG’ membabi buta, but then nothing happen. Film kedua Wajang Koelit, yang mengingatkan saya akan film TAKUT, konsep urband legend, mitos masyarakat daerah. Saya tidak tahu apa guna kamera di film itu. Kecewa, karna dengan konsep bagus Chairun Nissa sebagai sutradara tidak bisa mengolahnya dengan sesuatu yang bisa membuat penonton yang sedikit itu menjerit, mengalahkan suara Cherrybell!

Kotak Musik. Sebuah film yang tampaknya digunakan sebagai alat ceramah, kemuakan para hantu yang sering tidak dipercayai kehadirannya oleh masyarakat modern. Good view di film ini hanya Luna Maya. Lanjut Palasik, lagi-lagi urband legend, hantu kepala terbang yang mungkin kalian tahunya sebagai kuyang, hantu yang katanya suka makan janin atau bayi-bayi. Good view dari film ini jelas Poppi Sovia. #thx #bye

Saat saya pikir film sudah selesai sangking bosannya merajalela, ternyata masih ada Loket. Intinya hantu yang dihantui hantu. Saya interest aja karna si model Indonesia Ichi Nuraini cuku bagus memainkan peran ketakutannya. tapi tetap film ini tidak membuat saya histeris.

Yang bagus dari film ini adalah nyali orang-orang yang terlibat di dalamnya, termasuk para pemerannya yang berakting cukup bagus.

Entah saya yang bebal atau gimana, dua film yang saya tonton masih belum membuat saya ber-euforia. The Raid, mungkin karna saya orangnya pecinta cerita, jadi The Raid yang minus cerita bikin saya merasa kehilangan sesuatu. kalau HI5TERIA jelas saya kecewa.

Pandangan orang beda-beda, mungkin kalian bisa menemukan apa yang belum saya temukan, dan membaginya dengan saya. 🙂 Selamat menonton.

Salam kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s