Precious of Me / Racauan Nyai'

Menangkap Keindahan Ciptaan Tuhan Melalui Photography

Robert Diniro by Heidi Slimane

Saat saya bilang mau jadi fotografer, mau nabung buat beli kamera, banyak yang bilang: “Udah, kamu cocoknya di depan kamera”, “ga cocok, fotografer itu harus tinggi, kamu mini”, “udah jadi stylist aja”, “ah! aji mumpung! Desainer iya, stylist iya, model iya!”, “ga da bakat!”. Tapi dari semua kalimat-kalimat yang sedikit banyaknya tidak mendukung, saya malah semakin kepingin..–“, mungkin karna kebiasaan, apa yang dilarang justru saya penasaran dan saya lakuin…haha!

I want my camera no matter what! Ayay!

Hal simpelnya gini aja, saya desainer, saya stylist, saya juga belajar make up. Karna belum menguasai dan belum punya kamera saya minta tolong temen buat foto. Tapi konsep di dalam kepala saya susah diterjemahkan lewat kata, belum lagi harus mengatur model, sorry to say, tapi model di Malang minim yang bisa pose dan kaya ekspresi. Kadang galakan model sama stylist-nya ataupun desainernya…–”

Jessica Florence

Yang ada, “aduh! Bukan gitu! Bukan, maksud saya gini…”. Saya nggak maksud menghina fotografer yang udah bantuin saya, justru saya mau terima kasih udah sabar bantuin saya. Tapi, segala konsep foto di kepala saya akan lebih baik kalau saya yang mengeksekusi. Karna ketika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan saya, saya tidak akan menyalahkan orang lain, belajar mencari tahu di mana kekurangan saya, apa yang kurang, dan apa yang harus saya perbaiki dan pelajari lagi. Bertanggung jawab atas ide, atas pilihan, atas keinginan saya.

Rumitnya dari keinginan saya menjadi fotografer adalah…saya mengagumi para fotografer yang bisa menangkap karakter lain dari seseorang. Misalkan fotografer wedding, sepasang, kalo dari fisik mereka tidak sempurna, tapi bukan itu yang ingin ditampilkan. Yang ditampilkan fotografer adalah perjalanan mereka, how they seen each other, bagaimana ketidak-sempurnaan membuat mereka ada menjadi kita. Jeng, jeng! Kemudian jadilah, entah itu dengan konsep tradisional, romantis atau playfull, atau juga Rock n Roll.

Atau saat saya nonton Scouted, Model Scouts, Model Special atau American’s Next Top Model. Yang saya kagumi adalah para fotografer yang terlibat mampu menangkap karakter lain dalam wajah si model, karakter yang bahkan si model itu sendiri tidak tahu kalau dia memiliki karakter tersebut. “Impossible that was me!”, “is that really me?”, “who’s that?”. Menurut saya kalimat-kalimat tersebut adalah pujian. Menakjubkan, karna si model tidak memakai riasan, dan terlihat sangat luar biasa! Bahkan si fotografer menunjukkan hasil mentahnya, sebelum di edit, saya cuma bisa… “What the hell!!! Belum di-edit! Mentah hoy!!! Fotografer gilaaa!!!!”

Atau saat seonggok sampah bergelimpangan bisa jadi foto yang sangat menampar, atau foto bapak tua membuat saya ingin menangis, foto bayi yang membuat saya nyubit-nyubit layar lap top, foto kucing dempal yang bikin saya gatel pingin meluk guling….

Bagi saya, fotografer melihat sesuatu yang dianggap banyak orang tidak indah menjadi indah. Menurut saya juga, fotografer adalah salah satu yang bisa menangkap keindahan ciptaan Tuhan. Tidak ada kata tidak sempurna, jelek, tidak indah atau menjijikan…Membuat kita melihat dunia dan segala sesuatunya dari sisi lain, sisi yang akan membuat kalian kaget, “Oh…aku ga pernah ngeh ya.”, “Ternyata kayak gini ya…”. “kok bisa ya, keliatan bagus”. Sisi yang tidak bisa kita lihat, lebih tepatnya tidak mau lihat, karna kita terbiasa menilai seseorang dari satu sisi, dari penampilan.

Then, kalau ada yang ngaku fotografer tapi berani nyalahin objek atau modelnya kalo fotonya nggak bagus, rasanya saya pingin damprat! Menurut saya tugas seorang fotografer membuat foto itu jadi kelihatan menarik, kalau terus-terusan obejknya emang udah cantik atau indah dari sananya, dan sebagai fotografer tidak bisa menunjukkan ciri khas atau karakter lain, berarti kalah sama objeknya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Yah, sayang sekali saat ini photography sedang menjadi trend. ABG-ABG dengan santai nenteng kamera tanpa tas, kesenggal-senggol sana-sini. Saya tahu kalian punya banyak uang, but please, respect-lah! Kalian cuma belum merasakan kecintaan dan keinginan seseorang yang sangat mencintai dunia fotografi, belum tahu rasanya berusaha jatuh-bangun memperjuangkan keinginan dan mimpi.

It isn’t about how beautiful the object is, it’s about captured the moment, something that they can’t see, but you see them through the camera. Let them see…let them now, those beauty came from inside…

Photos: Heidi Slimane, Jason Lee, Jessica Florence, Michal David Adams, Phil Poynter, Timmothy Lee

Salam kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s