Racauan Nyai'

Kita, Generasi Pembully, Generasi Pembunuh?

Bullying menjadi hal yang sangat memprihatinkan buat saya, karena efeknya sangat beragam, terutama pada psikologi seseorang. Tapi bagi saya, bullying yang paling memberikan efek menyiksa adalah bullying dengan kata-kata yang menjatuhkan secara mental.

Ini kedua kalinya saya membahas masalah bullying, kali pertama adalah melalui Tumblr saya. Saya menyeterakan bullying dengan meremehkan, dengan efek-efek berkepanjangan yang dihasilkan keduanya. Seperti lingkaran setan, keduanya melahirkan calon-calon pembully dan korban bullying baru setiap harinya.

Artikel Tumblr : Setiap Hari Kita Mem-bully, Setiap Hari Kita Meremehkan

Rasa ingin lebih menonjol atau mendapatkan perhatian lebih dari orang lain menjadi wajar dimiliki manusia. Tapi sering kali yang menjadi jalan pintas untuk membuat diri terlihat lebih baik adalah dengan membully orang lain, atau meremehkan orang di sekitar kita. Keduanya menjadi cara yang dipilih untuk menutupi kelemahan, yang tanpa disadari memamerkan habbit jelek seseorang.

Saya tidak membela diri dengan ingin menunjukkan kalau saya orang bersih, polos yang tidak pernah membully. Karna sadar atau tidak sadar saya telah melakukannya, bahkan pada diri saya sendiri. Dan dengan menyadari ini setidaknya saya bisa meng-kontrol kebiasaan saya membully dan meremehkan seseorang.

Mungkin saya adalah salah satu dari banyak orang yang menyadari bahwa menjadi korban bullying, dan diremehkan orang itu menyakitkan. Kemudian seperti biasa, akan ada pilihan. Apa saya akan melampiaskan perasaan sakit ini dengan balik membully dan meremehkan orang lain? Atau mencegah orang lain untuk merasakan hal yang sama?

Bagi saya, bullying merupakan salah satu alat yang ampuh untuk membunuh seseorang, yang dimulai dengan penyiksaan.

Seperti, kalian mengatakan pada seorang gadis kalau payudaranya kecil, gadis itupun mengoperasi payudara-nya agar terlihat lebih besar.  Dia kembali dan kalian mengejeknya dengan sebutan payudara palsu dan sebagainya. Atau kalian mengejek seseorang, kemudian orang itu mengalami depresi, tidak memiliki sandaran dan memilih obat-obatan terlarang, kemudian dia bertobat, tapi bahkan kalian tidak memberinya sedikit tempat untuk berkata ‘maaf’, kalian sibuk memojokkan-nya, menganggapnya sampah, hingga akhirnya ia memilih mengakhiri hidupnya. Saya pikir masalah selesai, tapi tidak, karna kalian kembali menyudutkannya karna mengakhiri hidup adalah perbuatan bodoh. Lalu kapan ini akan berhenti?

Kita terbiasa menilai orang lain dari penampilan, sering kali lupa, ada yang lebih tersakiti dari kita ketika ciptaan-Nya diejek. Rasanya, ketika saya sengaja atau tidak sengaja mem-bully, saya bertanya-tanya, sudah berapa orang yang saya bunuh? Sudah berapa orang yang saya dorong untuk menggugat Tuhan? Sudah berapa orang yang saya hancurkan demi menutupi kekurangan dan ketidak-mampuan saya?

Terkadang kita atau mungkin hanya saya, menakuti sesuatu yang saya anggap lebih hebat, dan bisa mengancam keberadaan saya, hingga saya memilih jalan sebagai pembuli atau si tukang meremehkan untuk menjatuhkan orang itu. Pembunuhan yang sangat terencana, bukan? Membiarkan ketakutan-ketakutan menguasai diri saya…lihat! Saya atau kalian bahkan tidak mampu mengalahkan monster-monster yang akan memakan hati saya, dan saya sudah sok kuasa menjelekkan orang lain? Puh!

Yah ini pemikiran saya…suatu saat akan berubah atau akan berkembang, i’ll tell you…

Selamat menikmati hidup anda.

Salam kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s