Uncategorized

Wedding Dress : Cinta Ala Ibu & Anak

Bravo! Sineas Korea memang ahlinya membuat film mengharu-biru! Dan sejauh ini, Wedding Dress adalah yang paling membuat saya menangis khusyuk sampai tersengal-sengal, seolah saya adalah tokoh yang sedang mengalami apa yang ada di film.

Wedding Dress bercerita mengenai hubungan ibu dan anak, seorang wanita single parent, Go eun ( Song Yun Ah) dengan Jang So Ra (Kim Hyang Gi).  Goe Eun bekerja sebagai designer Wedding dress, disibukkan dengan banyak pernikahan yang harus ia tangani, membuat sedikitnya ia sering meninggalkan So Ra, menitipkannya pada keluarga kakak laki-lakinya yang sangat baik. So Ra tumbuh menjadi anak yang tertutup dan memiliki phobia, saya nggak tau apa namanya, seperti botol minuman, So Ra tidak mau bertukar dengan orang lain, atau juga sendok bekas orang lain, menurutnya kotor dan akan membuatnya muntah. Hal ini jugalah yang menjadi konflik, karna sang ibu menganggapkalau begitu So Ra tidak akan bisa hidup dengan orang lain.

Saya suka film ini karna segala yang disajikan sesuai pada porsinya. Karakter tiap pemain yang menempatkan posisinya dengan baik, kalian juga tidak akan menemukan pemain yang terlalu tampan ataupun terlalu cantik dengan pakaian yang terlalu mewah. Tidak banyak terdengar kata-kata bijak, karna yang ingin disampaikan telah ada dalam bentuk visualisasi tiap adegan, hubungan sebab akibat yang berkesinambungan, setiap laku adalah petunjuk yang akan membawa kalian pada kejadian selanjutnya.

Kwon Heong-Jin sebagai sutradara sepertinya ingin membuat kita terperangkap dalam kehidupan dua tokoh sentralnya, istilahnya membuat kita kepo! Sangat jeli ia memasang para pemeran, terutama Song Yun Ah dan Kim Hyang Gi sebagai pasangan ibu dan anak, terutama Hyang Gi, saya dibuat takjub bagaimana anak sekecil itu bisa bermain sangat natural?!

Sebab-akibat yang saya sebutkan seperti: akibat Go Eun sibuk dengan pekerjaannya, So Ra menjadi pribadi yang tertutup, juga dengan pemikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan anak lain, tanpa menutupi ia masih memiliki sifat alamiah anak-anak. Seperti usahanya untuk tabah, bayangkan anak sekecil itu mengetahui kalau sang ibu akan meninggalkannya menyusul sang ayah, yang bisa dilakukannya adalah menikmati saat-saat bersama ibu, menuruti permintaan ibu. Di sisi lain So Ra lari dari masalah dengan teman-temannya, tapi demi sang ibu So Ra rela meminta maaf dan kembali berlatih balet. So Ra berusaha menghadapi ketakutan-ketakutannya. Di saat lain So Ra pun masih merajuk, meminta ibunya tetap tinggal, jangan mati.

Menurut saya karakter pada So Ra masuk diakal. So Ra bukan karakter anak-anak yang tidak tahu apa-apa, dia tahu, lari, pura-pura tidak tahu, lalu belajar menghadapinya. Karakter yang wajar ada pada anak-anak dengan single parent.

Go Eun, sosok ibu yang berusaha menikmati sisa waktunya bersama sang anak. Karakter kekanak-kanakannya kadang muncul, proses alamiah yang terjadi pada manusia dihadirkan dengan sangat baik. Kim Myeong-Gok sebagai karakter kakak, ia berhasil menjaga karakternya sebagai karakter bapak dan ayah yang berwibawa dan penyayang. Jeon Mi-Seong, sebagai kakak ipar, pribadi yang lembut dan penyayang, namun dalam prosesnya ia menjadi pribadi yang kuat bahkan bisa juga menjadi keras demi Go Eun dan So Ra.

Kim Ye-Ryeong sebagai salah satu yang agak antagonis, sosok kakak yang egois dan keras. Tapi bukan anatagonis berlebihan, sebuah kesalah-pahaman, ketidak-harmonisan hubungan kakak-beradik. Kim Yeo-Jin, salah satu karakter lucu, bos Go Eun yang cerewet, walaupun begitu ia adalah salah satu sahabat setia Go Eun. Kemudian Lee Ki Wo, karakter guru bodoh yang polos, teman So Ra yang membantunya agar So Ra bisa ikut resital ballet.

Wedding Dress saya gambarkan sebagai memori yang divisualisasikan secara singkat. Yang kurang hanyalah sosok almarhum ayah So Ra yang cuma dicertakan mulut, seperti ada potongan memori yang hilang, hanya diceritakan dari mulut ke mulut.

Salah satu adegan favorit dari banyak adegan adalah ketika Go Eun mengajarkan So Ra bermain sepeda. Saya menemukan makna hubungan ibu dan anak ataupun ayah dan anak. Seperti ketika ayah/ibu mengajarkan kita bermain sepeda, seperti itu jugalah mereka mengajarkan kita tentang hidup. Orang tua memegangi ujung sepeda dari belakang, memberi semangat, “ayo, jangan khawatir ayah/ibu memegangimu, aku ada di belakangmu”. Tanpa sepengatahuan kita, mereka sudah melepaskan kita, tanpa sepengetahuan kita, kita sudah mengayuh sepeda sampai ke ujung tanpa bantuan ibu/ayah.

Ini ada trailernya, penyajiannya sangat tidak menarik, berbeda dengan filmnya!

Selamat menangis, salam kece,

NAD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s