Ruang Aksara

1000 Surat Untukmu Yang Rindunya Tak Pernah Tertuju Padaku

Dear kamu,

yang rindunya tak pernah tertuju padaku.

Bukan karna waktu yang menggebu memisahkan dengan jarak,

hanya pongah raguku, rindu yang meluap dan terlalu bergairah, dan rindumu yang tak pernah beradu pada namaku.

Untukmu,

1000 surat.

Ku tulis tangan dengan tinta rindu di atas kertas yang ku pintal dari hatiku.

Kamu…aku tahu namamu, mencari-cari arti di baliknya, tapi aku lebih suka memanggilmu rindu. Tertambat pada tiap doaku. Terangkum dalam 1000 surat.

Dear kamu,

Berkali aku ditampar. Mana ada pekerjaan yang terselesaikan kalau tidak dikerjakan, mana ada mimpi yang menjadi nyata kalau tak sekalipun terbangun, mana ada ketidak-mungkinan menjadi mungkin kalau tidak ada usaha, bagaimana rasa tersampaikan kalau tak pernah diutarakan, pun rindu, bagaimana bisa berbalas kalau tak sekalipun terucap?

Tak terucapkan, tapi teraksarakan, bukan tak tersampaikan, tengah kurangkumkan. Masih bertumpukan, tanpa alamat, selalu…tertuju padamu.

Dear kamu,
surat pertama sudah menjadi sangat lusuh. Ku tulis seminggu setelah pertama kau jabat tanganku. Di hari ketiga ketika kau racuni aku dengan mimpi-mimpimu yang menggebu, menjadikan aku pecandu.

Surat pertama yang kubuat, ku tulis tangan bertinta rindu, di atas kertas yang ku pintal dari hatiku. Sejak 7 tahun 6 bulan 11 minggu, ku biarkan tanpa alamat, hanya ada namamu.

Dear kamu,

ini surat ke 999, di tahun ke 7 aku merindumu.

Kutulis sesaat ketika kamu mengucapkan selamat malam melalui telepon. Suaramu bersemangat, dan aku membiarkan letupan embun bercucuran dari sehelai hijau pandan, melalui celah yang tersayat.

“Aku melamarnya! Kami akan menikah!”

Aku tahu kamu bahagia, dan aku tidak bisa tidak bahagia.

“Kamu benar! Tiap petualangan akan ada akhirnya! Kamu tahu maksudku, kan?”

Ya, aku tahu. Aku mengerti kamu. Petualang berumahkan alam. Petualang yang menabur tiap remah rindu, yang padaku tak sengaja tercecer.

“Sudah ku bebaskan semua putri-putri, sudah habisi para penyihir, dan ku takhlukkan para naga, kemudian ku tuntaskan segala kutukan. petualanganku sudah berakhir, tapi aku masih saja tersesat di tengah hutan yang tanahnya selalu saja basah, hujan berkepanjangan, kabut yang mencemaskan, sedang kompasku terus berputar. Tak sadar aku berputar-putar dalam langkah kesendirian, sebelum akhirnya ku temukan cahaya berpendar dalam gubuk tua. Aku tahu ia pasti penyihir! Maka siap ku hunuskan pedang, alih-alih mengutukku dengan serapah, ia melengos angkuh. kamu tahu kan, aku benci diacuhkan?”

Dear kamu,…sungguh rasanya aku ingin menyela. Benarkah sudah kau telusuri lagi hutan bertanah basah? Benarkah semua putri telah kau selamatkan? Lantas aku apa? Oh…aku bukan putri. Aku gadis bukan dongeng yang tergoda akan pendaran kotak pandora, menjadikanku dikutuk. Aku bukan putri, maka tak kau selamatkan aku, tak kau tuntaskan kutukanku.

“Maka ku ikuti langkahnya, mengamatinya menimba air, melepaskan kelinci yang terperangkap padahal bisa ku dengar perutnya meraung. Ia sekeras batu, akupun sekeras baja. Ku ikuti dia bagai buntut, bagai seekor itik mengikuti induknya. Mungkin ia jengah, maka untukku ia memberiku satu syarat, mahkota perempuan.”

Lihat betapa mudahnya si penyihir meluluhkan hati baja. Kamu si petualang yang yang berumahkan alam. Seringkali membuatku jengah dengan segala telepon berdering dari perempuan-perempuan yang kau tinggalkan remah beling, sehingga ketika mereka melangkah tersayatlah menghasilkan luka, maju mundur sama saja.

Padaku, mereka meminta disampaikan rindu atasmu. Lantas aku menjadi iri, bukan pada luka, tapi pada rindu yang pernah tertuju pada mereka. Rindu padamu yang disampaikan melalui aku. Maka, kalau sadarlah kamu, dalam tiap rindu yang ku sampaikan padamu, terselip rinduku.

Dear kamu, yang bukan lagi pangeran.

Untuknya kau persembahkan mahkota tanpa tahta, kau tinggalkan Istana dan kau bangun rumah dengan tanganmu sendiri. Kamu bentangkan nyali sebagai pondasi, yang menjadikanmu Kesatria.

“Datanglah, aku menunggumu. Terima kasih untuk semuanya.”

Dear kamu,

ini surat ke 1000, hitungan hari ke 7 setelah ku datangi kamu.

Kamu yang tampan bersumpah setia, bersama penyihir manis yang tertawa bahagia. Padanya, kau jadikan ia perempuan.

Rinduku berhenti pada bilangan ke 1000,

bukan tertulis dengan tanganku. Tapi olehnya, salah satu naga yang ku pinjam darimu, lantaran jari-jariku telah memudar.

Masih di ruang pucat pasi. Di sini tanah tak pernah basah, hujan tak pernah berkepanjangan. Di sini mentari tak pernah marah pula, selalu tersenyum hangat, mengirimkan nyala-nyala membentang berpendar-pendar memantul pada kaca, pada dinding, pada selimut, dan pada mata yang sama memudar.

Kamu tahu? Padaku naga menjadi iba. Si gadis kecil terjerat kutukan, padanya hukuman tak terbantahkan dijatuhkan, tanpa nama, tanpa jejak aku akan hilang. Namun mengibalah si naga pada dewa-dewa selama seminggu semalam, terkabullah permintaannya atasku.

Padaku, dewa-dewa memberi pena bertinta rinduku, kertas-kertas yang dipintal dari serat hatiku. Tuntaskanlah 1000 surat, tanpa alamat, tertuju pada dia yang bukan pangeran, yang sekalipun kamu berucap atas rindumu, rindunya tak pernah tertuju padamu.

Dear kamu,

rinduku tak terjamah. Seperti pada lumut di dinding, seperti pada rumah laba-laba di sudut lapuk, kayu yang tua reyot dirayapi, berderit-derit, pintu yang tak pernah bisa tertutup rapat. Seperti rumah hantu yang mengintip dari kegelapan, menggoda mata yang bergidik barang 5 menit melirik mencari-cari si pengintip, tapi engganlah masuk barang sesaat.

Dear kamu,

yang terangkum dalam 1000 surat, ditulis tangan bertinta rindu, di atas kertas terpintal dari hati.

kamu yang rindunya tak pernah tertuju padaku.

Tuntaslah rindu dalam bilangan ke 1000, tersampaikanlah padamu dalam kepudaranku.

Maka ketika kamu menyadari telah lupa menyelamatkan si gadis yang kutukannya belum kau tuntaskan, yang telah mengintip kotak pandora dengan 1000 penjaga yang murka, telah memudarlah si gadis menjadi udara.

Udara yang kau hirup dan memenuhi  rongga, udara yang yang menjadi semilir bersembunyi di dalam slimutmu, kemudian mengecupmu tanpa kau tahu.

Dear kamu,

Rinduku padamu, terangkum dalam 1000 surat, tanpa alamat, tertuju padamu,

yang rindunya tak pernah tertuju padaku.

Dari udara,

tersampaikan.

-Didedikasikan untuk para sahabat yang memiliki sedikit masa. Terselesaikanlah surat ke 1000. Rindu tanpa jarak yang belum tersampaikan. Para sahabat yang telah menjadi udara, menyerpih ketika dihirup, memenuhi kedalaman rongga. Pada mereka, yang kau tujukan rindu, kau berikan kehidupan.-

16 Januari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s