Ruang Aksara

Malam

Kamu pernah membuka-buka hasil tulisan lamamu, kemudian menemukan satu cerita yang bahkan kamu lupa pernah menulisnya. Bukan menceritakan tentang dirimu, tidak seperti tulisanmu yang biasanya. Saya pernah. Ini adalah ‘Malam’ yang bahkan saya lupa pernah menulisnya. Tertanda 15 Desember 09.

Malam

Seperti malam-malam sebelumnya, aku seperti patung lilin tersudut di himpitan berpasang-pasang Adam dan Hawa. Kalau kamu bertanya apakah aku iri? Tidak…aku memilikinya, selalu memilikinya di sampingku..
***

Ketika itu hujan lebat, aku menemukannya tergolek..aku pikir dia sudah tanpa nyawa. Aku membalikkan tubuhnya. Kulit kuning pucat dengan raut menahan sakit, aneh, masih saja bisa ku tangkap cantik di wajahnya. Aku mengangkat tubuhnya yang ringan…terus ku bawa, akhirnya sampailah aku ke rumah sederhanaku yang telah lama kutempati bersama ibuku.

“Bu!!!”. Teriakku sambil setengah menggedor pintu dengan kewalahan.

Ibu membuka pintu, seketika beliau terkaget melihat apa yang ku bawa malam itu.
***

“Kalau saja kau tersiksa bersamaku, tinggalkan aku di tempat pertama kali kau menemukanku.” Katanya suatu malam ketika tiba-tiba ia berdiri di sampingku yang tengah memperhatikan bulan yang tampak kuyu.

“Kalau saja aku tersiksa, telah lama kau terbaring di sana…terguyur hujan. Atau kubiarkan saja orang lain yang membawamu entah ke mana saat itu.”
***

“Masih saja kau rawat gadis aneh itu di rumahmu! Sudah kau tutup kuping itu dari gunjingan tetangga kanan kiri?!” Seorang sahabat karibku bertanya dengan rasa enggan. “Kenapa tak kau bawa saja ke kantor polisi? Biar dia kembali pada keluarganya.”

Aku menoleh pada sahabatku, menatap matanya dalam, lalu menunduk. memperhatikan aspalan tanpa arti.
***

Malam itu, seperti biasa, ia menyediakan secangkir coklat hangat di meja tempat biasanya aku berkutat dengan buku-buku tebal. Terkadang ia memainkan gitar, melantunkan lagu-lagu lembut, ketika melihat sorot lelah di mataku. Aku menikmatinya…

Malam berikutnya kudapati ia membantu ibuku membuat kue di dapur. Mereka bercanda-canda, lalu ia menyapaku hangat. Ku sodorkan setangkai mawar merah untuknya, matanya berbinar indah diiringi senyum lebarnya. Ia membuatku semakin jatuh cinta.
Malam selanjutnya…
Ia tergolek di tempat tidur, seperti tak bernyawa. Wajahnya tak bahagia. Ku genggam erat tangannya, ku bisikkan banyak alasan yang mau membuatnya segera kembali. “Jangan dengarkan apa kata mereka..bukan kamu yang akan mati tergolek di jalan itu ketika aku tak membawamu. Tapi aku yang akan mati ketika aku melepaskanmu. Maafkan aku yang begitu egoisnya menahanmu begitu lama dalam jeruji ini.”

Malam itu,
aku tertidur di sampingnya. Lelap begitu dalam…Tanpa kusadari ia terbangun, berlari menerobos lebatnya hujan malam itu. gaun putihnya basah, tak dihiraukannya…

Malam itu juga,
Kutemukan ia tergolek di tempat dengan temaram lampu yang hampir redup. Di kelilingi kunang-kunang…
aku membawanya sampai ke rumah saederhanaku yang tampak sepi dengan tembok putih pucat…

Ibuku membuka pintu dan tampak lama memandangku…

**

Photo : Chaerul Umam
Model : Ruth Dian Kurniasari (@rrdk_ , http://dewidraupadi.com/)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s