Ruang Aksara

Kasmaran

Ini adalah cerpen yang mengawali saya ingin membuat sebuah novel dengan beberapa cerita mengenai Kasmaran. Lucunya cerpen ini muncul sembari saya membayangkan sosok salah satu fotografer favorit saya, mas Chaerul Umam. Dan lucunya lagi saat mas Umam membacanya, dia bilang, nama Risma yang menjadi tokoh perempuan dalam tulisan ini adalah nama perempuan yang paling membuat istrinya cemburu! Haha…entah kebetulan atau apapun, ini cerpen pertama yang saya campurkan dengan sedikit guyonan.

**
Dalam perjalanan saya ke Jogja, saya menemukan banyak cinta. Saya menemukan mereka ada di antara setumpuk cinta, lalu lalang, muda mudi, cinta hingga usia senja. Enak sekali dipandang mata.

Keliru kalau kamu menyebut cinta itu gombal! Macam roman picisan, Romeo dan Juliet gadungan atau cinta monyet, bahkan Galih dan Ratna. Cukup memandang saja kita akan tahu, mereka sedang kasmaran.

Mata bertemu mata, tanpa kata…kasmaran. Genggaman tangan, berjalan seiring berdua…kasmaran. Canda tawa…kasmaran. kecupan hangat, manis…kasmaran. Ya! Mereka sedang kasmaran! Kalau di film-film kartun kesukaan anak saya, disimbolkan dengan kepala burung bangau yang melengkung membentuk gambar hati.

Terkadang saya rindu dengan rasa itu. Setrum-setrum kecil menjalar di seluruh tubuh. Tersipu malu-malu kala jumpa dengan seragam putih abu-abu, makan soto di pinggir jalan serasa makan-makanan restaurant mewah. Memandang semua jadi lebih indah. Ok, terkdang sedikit percekcokan sebagai bumbunya kalau orang tua bilang…loh, saya juga sekarang sudah tua! Berarti itu saya yang bilang…

Biasanya kalau istri saya marah, saya kasih bunga boleh metik di halaman dia sudah sumringah malu-malu. Setelah itu saya disuguhi makanan rumahan, walaupun sedikit keasinan, tapi melihat usahanya dan binar antusias matanya semua masakan serasa ala masakan koki terkenal!

Tapi saya kadang cukup egois juga..kalau marah sampai berminggu-minggu cemberut, bibir mecucu. Kalau dipikir, saya jelek sekali begitu! Tanpa mecucu saja bibir saya tidak se-sexi bibirnya Brad Pitt, apalagi saya mecucu…jangan-jangan istri saya berpikir kalau dia menikahi burung unta!

Kadang itu kalau marah, sudah dibuatkan makanan kesukaan saya malah makan di luar. Cari-cari alasan, bersilat lidah. Bilang ada meeting lah, casting, syuting, swiming, padahal saya bukan artis dan saya tidak bisa berenang. Ketika pulang larut, saya mendapati si istri tertidur dengan wajah lelah di sofa ruang tamu. Aduh…suami macam apa saya ini! Saya tengok ke dapur, di atas meja makan sayur asem, lalapan, empal dan ati ayam terhidang..sudah dingin. Masakan sederhana kesukaan saya….

Saya perhatikan lagi wajah istri saya. Sepertinya ia semakin terlihat tua, garis keriput di bawah matanya semakin bertambah. Apa dia bahagia hidup bersama saya? Karena saya ingin dia bahagia, saya toh sudah berjanji kepada bapak mertua saya yang dulu galaknya minta ampun deh! Mau pegangan tangan saja tangan saya diceples! Untung tidak dilempar sandal jepit biru merk swallow kesayangannya…

Dulu saya kenal istri saya saat dia berumur 16 dan saya berumur 23 tahun. Bukan! Saya bukan om-om yang suka daun muda! Malah dulu itu saya suka meremehkan anak SMA, padahal ya, saya waktu SMA paling benci kalau dianggap remeh. Ternyata semakin bertambah umur, saya malah menjadi orang yang dulu saya benci.

Istri saya dulu itu kurus, walaupun sekarang juga masih kurus…apa jangan-jangan dia bener-bener tidak bahagia ya, sama saya? Sudah ah, saya mau cerita istri saya dulu! Dia itu perempuan galak banget deh…beda jauh sama gambaran calon istri yang didambakan ibu saya. Tidak bisa diam, ceria khas anak SMA…penuh rona. Manis sekali loh…matanya hitam pekat bercahaya, kulitnya kecoklatan khas pribumi, rambutnya panjang bergelombang dan kadang tidak disisir rapih, kalau tersenyum manis dengan sederet gigi rapih.

Waktu itu..dia dengan teman sekolahnya, teman prempuannya yang dulu suka digodain teman-teman kompleks saya karena cantik keturunan Belanda, peninggalan jaman penjajahan dulu kalau kata temen saya yang kalau bicara suka ngawur. Saat itu di deket halte deket kampus mereka digoda abang-abang preman yang ujung-ujungnya minta duit sambil colek-colek. Dengan wajah jutek istri saya itu memaki si preman, sungguh gagah berani! Tiba-tiba istri saya itu mengambil stick baseball di tasnya dan mengacungkannya dengan wajah emosi. Eh, itu preman-preman pada takut dan langsung ambil langkah seribu, kayanya mereka malakin wanita iblis…salah sasaran deh!

Tidak tahu kenapa kok waktu itu dia cantik sekali ya…saya melihat dua sisi darinya di waktu yang bersamaan. Sisi keras saat dia balik menjadi preman dan sisi lembut saat menenangkan sahabatnya yang sedang menangis tersedu karena takut. Dia kelihatan tulus sekali. Eh, saat itu saya memandangnya dari bus warna orange kebanggaan ibu kota…dan saya malu juga, sih…melihat ada kejahatan di depan mata tapi saya memilih diam seperti penumpang bus dan orang-orang lainnya yang pura-pura cuek sambil ngomel gara-gara jalanan macet si komo lewat. Kalau di pikir saya sama sekali tidak gentle deh!

Kayaknya saya memang jodoh, nih….main ke rumah temen saya yang saya bilang suka ngomong sembarangan, istri saya sama sahabatnya itu lewat di depan lapangan basket. Mulai de,h temen saya bersiul-siul menggoda. Ih, saya kok punya temen bisa norak banget gini sih! Kalau ada lakban sudah saya lakban mulutnya nih, anak! Sayang waktu itu adanya bola basket, kalau saya lempar bisa-bisa ibunya yang orang Batak itu ngamuk-ngamuk sama saya sambil melempari saya dengan ulekan.

”Sssst! Norak banget sih, lo! Lo pikir lo sekeren Mas Boy dicatatan si Boy?!” Teman saya itu mecucu sambil memainkan jambulnya yang dipaksa mirip sama mas Boy, yang ada semakin mirip Emon.

“Talita itu cantik sekali….peninggalan jaman penjajahan itu! Sebelum kita dijajah lagi, sebaiknya kita jajah duluan!” Kata teman saya dengan logat Bataknya. Bener kan, dia ini suka sembarangan banget!

”Lo pikir dia barang ape?! Sembarangan kalo ngomong!” Ujarku sambil menempeleng kepalanya. Jambulnya langsung lengser.

”Eits! Jambul ini aset! Jangan dibuat rusak! Nanti aura mas Boi-nya hilang, kawan!” Ia membenarkan jambulnya yang mulai loyo.

”Alah! Kau itu malah mirip sama Emon! Pantasnya kau pakai lip stick dan jalan megal-megol sperti bebek!” Terkadang tanpa sadar logatku mengikuti logat Bataknya. Temanku itu mecucu lagi. ”Kalau yang satunya itu siapa?”

”Itu Risma. Sahabatnya dari Talita dari SD. Galak sekali dia itu! Kalau digoda sedikit saja sudah melotot! Tidak manis dia itu!”

Tapi menurut saya manis sekali malah. Sejak saat itu saya jadi rajin nongkrong di rumah teman saya itu. Sesekali bawa camilan biar ibu teman saya tidak curiga dan melotot terus kalau menyambut saya. Seminggu saya cuma mengamati dari jauh, akhirnya saya coba kenalan. Kebetulan deh, sore itu mereka bersepeda ria melintas di depan lapangan basket yang tak jauh dari rumah teman saya.

Langsung deh saya dan teman saya itu mengikuti dari belakang dengan sepeda bebek warna hijau kinclong kepunyaan teman saya yang suka diam di tempat tanpa komando.

Saat saya hampiri, bener deh, istri saya yang masih calon itu pasang tampang judes. Aduh, jangan-jangan nanti saya dilempar stik baseball-nya lagi! Tidak apa deh, saya beranikan diri duduk di sampingnya.

”Hai…” Dia cuma melihat tangan saya dengan pandangan seolah-olah saya ini kuman. ”Umam”.

Agak lama, baru deh jabatan tangan saya dibalas. ”Risma.” Dengan segera dia menarik tangannya kembali. Walaupun cuma sebentar, tapi sumpah deh, saat itu saya merasakan sengatan listrik! Jantung saya deg-degan seperti mau copot! Untung deh, saya tidak melamun lama-lama terus ngiler di depan dia.

Nah, sejak itu saya sering deh, jemput dia. Kadang pinjam mobil Peogeot tua milik bapak saya. Tapi Risma tidak terlalu suka jalan-jalan pakai mobil, dia lebih suka pakai vespa saya yang bernama si gembul atau CB saya yang namanya Maria. Tadinya sama adik saya yang suka ingusan mau dikasih nama Maria Marcedes, tapi kayaknya norak banget deh! Kesannya saya kayak ibu-ibu pecinta telenovela.

”Eh, ajarin aku naik motor donk, Mam…”. Ya, jelas saya mau lah! Namanya juga lagi kasmaran. Tapi saya kena omel bapaknya yang galak itu, deh! Gara-gara si Risma sempet nyungsep gitu, kaki mulusnya jadi berdarah-darah. Kalau tidak ada ibunya yang baik hati itu mungkin saya sudah dilempar sendal jepitnya dan diarak warga terus diiket, di lemparin batu sama bocah-bocah kecil yang setia mengikuti saya sambil berkata, “orang gila, orang gila!” Ih! Anak-anaknya siapa sih, bandel-bandel banget! Mana ada yang mirip adik saya itu, ingusan dan pake baju kegedean.

Saya tidak menyerah! Kalau saya sudah punya keinginan, kata ibu saya, saya nih keras banget! Jadi walaupun ibu saya bilang tidak suka sama si Risma dengan banyak alasan…mulai dari bapaknya yang orang biasa lah, padahal menurut saya, bapak saya juga orang biasa, bukan tukang sulap ataupun artis seperti Rano Karno. Atau gaya berpakaian Risma yang kadang sembarangan, dan kadang ada bekas cat minyak, soalnya saya suka mengajak dia ke rumah setelah dia memberikan les untuk bocah-bocah yang suka melukis sembarangan.

Coba deh ibu saya ini melihat Risma kalau lagi mengajari murid-murid kecilnya itu dengan sabar, kadang walaupun usianya masih 16, ABG banget gitu…dia itu suka berpikiran lebih dewasa dari pada saya. Makanya saya tidak segan kalau curhat sama dia. Saya paling suka deh, motret dia kalau lagi melukis! Wajahnya serius banget, kadang kepalanya sampai miring-miring memperhatikan apa yang kurang dari lukisannya. Dia itu mandiri deh! Umur segitu sudah bisa menghasilkan uang sendiri, kalau saya dulu seumuran dia masih ongkang-ongkang di rumah. Kata ibu saya hardolin! Dahar, modol, ulin! Buat beli rokok aja suka malakin bapak saya, terus buat biaya hidup si Maria sama si Gembul, biaya ngapelin cewek-cewek, beli film buat kamera tua saya yang sekarang udah dipajang di kotak kaca. Pokoknya saya umur 16 tahun itu masih ngegandol orang tua. Sampai-sampai sama kakak perempuan saya dibilang anak mami.

Padahal kakak saya itu lebih-lebih lagi deh! Yang ke salon, shopping, tripping, ajojing, beli anjing yang suka pup disembarang tempat dan aduuuhhh…air liurnya itu, loh! Kadang saya pikir kakak saya beli anjing gila ini di mana sih?! Kok jelek banget! Pipinya memble, bantet, gembrot lagi! Tidak kalah genit dari kakak saya, setiap minggu ke salon. Padahal mau dipermak kaya apa aja dia tidak akan terlihat cantik! Anjing tetangga saja sampai ilfeel deh sama anjing kakak saya yang dinamai Casandra.

Aneh deh, si Casandra ini kalau ada Risma nurut banget. Padahal kalau sama saya itu dia menggonggong terus seperti anjing gila yang kelaparan. Kakak saya itu sampai-sampai kagum sama si Risma, minta di temenin ke salon lah…beli mainan atau makanan anjing. Pulang-pulang si Casandra pakai rok tutu, tau kan? Rok balet itu loh….saya sebal banget melihatnya! Casandra itu malah semakin jelek saja! Kok jadi kayak anjing banci deh….

Lama-lama nih si ibu saya luluh juga….dia takhluk deh sama masakannya si Risma. Yang belum takhluk itu bapaknya si Risma, kalau saya memulangkan anaknya lewat sedikit saja dari jam malam, langsung deh pasang wajah angker. Kalah sudah buto ijo!

Dipersingkat, hubungan saya sama Risma itu lamaaaaaaa banget! Dia itu sabar menghadapi saya. Kadang kalau kumat sifat sok kegantengan saya, saya suka coba-coba deketin perempuan lain. Tapi Risma selalu memaafkan saya. Kata ibu itu hebatnya perempuan! Mudah memaafkan, tapi bukan berarti mudah melupakan juga loh….

Suatu kali ada kejadian yang membuat saya jadi sedikit tobat. Malam itu hujan deras, sebenarnya saya sudah janji menjemput Risma dan mengajaknya makan malam di rumah saya. Ibu saya juga sudah pesan suruh cepat, ibu tidak sabar memberikan oleh-oleh batik dari Jogja buat Risma. Tidak tahu kenapa ibu saya jadi suka mendandani Risma dan memberikan aksesoris dan pakaian aneka ragam.

Bukannya cepat menjemput, saya malah asyik bermesraan dengan selingkuhan saya. Namanya Tita. Teman kerja saya yang memang cantik dan terkenal dengan susu mbok Darminya! Kalau dijejerkan dengan Risma, sudah kayak tante dan keponakan balitanya.

Beberapa kali si Risma menghubungi telepon genggam saya, waktu itu masih segede ulekan, saya bilang saya masih di jalan. Ternyata Risma datang ke studio foto saya dengan basah kuyup dan menenteng sebuah lukisan besar yang dibungkus plastik. Dia mendapati saya sedang asyik berpegangan tangan dengan Tita, waktu itu saya Cuma bisa melongo.

Tanpa berkata apa-apa Risma berlari meninggalkan studio. Saya mengejarnya di tengah hujan. Kalau kalian ada di sana, pasti berpikir ini lagi syuting sinetron deh…kayak film-film India. Saya panggil namanya, Risma tidak menoleh. Dia pasti marah sekali saat itu. Tiba-tiba sebuah mobil, saya masih ingat plat dan wajah orang yang menabrak Risma itu. Saya juga masih ingat bagaimana saya memukuli pria mabuk itu! Goblok sekali! Dalam keadaan hujan lebat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk berat!

Sungguh saya menangis di depan pintu UGD. Orang tua Risma dan orang tua saya datang, tak lupa kakak saya dan Casandra. Aduh! Melihat Casandra saya jadi semakin jengkel! Saya pikir bapak Risma akan langsung mendamprat saya, tapi tidak… beliau menggenggam tangan saya, memberikan kekuatan kepada saya. ”Risma perempuan yang kuat, percayalah…”. Saya semakin menangis tersedu-sedu mendengar kalimat itu. Ya, Risma-ku adalah perempuan yang kuat, bahkan lebih kuat dari aku! Berulang kali aku menyalahkan diri sendiri.
Bapak Risma duduk di sebelah saya, bersandar pada tembok dan duduk bersila. Saya masih menenggelamkan kepala di antara kedua lutut, terisak. ”Risma selalu bangga padamu Umam.” Saya terdiam, masih dengan posisi yang sama. ”Dia selalu pulang ke rumah dengan riang, bercerita hari-hari yang dilewatinya bersamamu. Apapun yang ku katakan tentangmu tetap tak membuatnya berhenti percaya kepadamu.”

”Pak…tebak…siapa yang mengambil foto saya ini?” beliau mengulang kata-kata Risma. Saya langsung membayangkan Risma yang sedang merangkul bapaknya dengan manja, dan memperlihatkan selembar foto. ”Ini Umam yang motret. Apa saya terlihat cantik? Kata Umam saya cantik sekali…”. beliau lalu mengeluarkan foto dari sakunya dan menyerahkan kepadaku.

Di dalam foto itu…Risma dengan senyum khasnya dan mata yang teduh. Rambutnya yang dipotong pendek terbang dipermainkan semilir angin. Saat itu menjelang senja, matahari bersinar cerah menimbulkan siluet seperti berlian yang jatuh dikulitnya.

”Saya tidak bisa menyangkal lagi, Risma bahagia bersamamu.”

Entah apa yang menggerakkanku. Aku bersujud di depan bapak Risma sambil memohon ampun, ”maafkan saya! Sungguh, maafkan saya!….Seumur hidup saya akan membahagiakan Risma, seumur hidup saya akan selalu menjaganya!”

Beliau menggenggam tangan saya dan mengelus kepala saya. Saya bisa merasakan air mata jatuh di atas kepala saya. Tak lama dokter keluar dari UGD, wajah kami semua tampak tegang. Aku dan bapak Risma langsung berdiri dan menatap dokter dengan wajah cemas. ”Dia sudah melewati masa kritis.”
Aku kembali bersujud syukur. Tuhan benar-benar telah begitu banyak memberiku kesempatan. ”Allahu Akbar!!! Terima kasih ya Allah!!!”

***

Setahun kemudian saya melamar Risma dan kami menikah. Hari itu, saya semakin kasmaran….saya tatap mata Risma. Bola mata kirinya sepintas berkilat, ku hadang sinar matahari yang menyakiti matanya. Risma tersenyum. ”Aku tidak apa-apa.”.

Ku kecup mata kirinya. ”Aku akan segera mencarikan dokter yang paling hebat untuk menyembuhkan matamu. Tidak akan terasa sakit lagi.”

”Kamu adalah dokter yang paling hebat untukku. Satu mata tidak dapat melihat, tapi aku masih memiliki satu bola mata dan juga mata hatiku untuk merasakan cintamu.” Ku genggam erat tangannya.

Tidak….pernikahan kami memang tak semulus jalan beraspal. Apalagi saat Risma mengandung anak pertama, keuangan kami sempat seret. Studio foto saya menjadi korban kerusuhan antar partai. Yang tersisa hanya abu dan reruntuhan yang sebagian gosong terbakar.

Dalam keadaan hamil besar, Risma kembali mengajar lukis. Dia menggunakan taman belakang rumah sebagai tempat mengajar. Untunglah karir fotografiku tak benar-benar berakhir, Medi, temanku yang sering ku bilang sembarangan itu, menawariku pekerjaan di majalah fashion yang cukup ternama. Majalah itu kepunyaan sepupu Talita yang kini menjadi istrinya. Sungguh tak habis pikir, akhirnya Talita dan Medi akan menikah. Ternyata selama beberapa tahun mereka berpacaran, dan sudah sejak lama Talita menyukai Medi.

”Bang Medi keren sih…terus dia itu baik…suka beliin Tita es krim dulu. Sekarang es krimnya diganti sama makan malam yang romantis! Biar Cuma makan soto di pinggir jalan, kalau sama Bang Medi jadi kayak di restaurant mewah!” Ujar Tita tanpa malu. Wah…ini baru namanya cinta. Tita yang begitu cantiknya dan berasal dari keluarga berada mau menerima Medi yang dulu kere, apa adanya. Dan lagi-lagi…saya merasakan itu. Tanda-tanda kasmaran di mata keduanya.

Percakapan-percakapan ala Galih dan Ratna, saat itu Rangga dan Cinta belum seterkenal sekarang apalagi Radit dan Jani. ”Abang…mudah-mudahan nanti Tita cepat hamil ya! Kalau anak laki-laki semanis abang! Jambulnya juga kayak abang, kayak mas Boy!” Aisssh! Pembicaraan manis kinyis-kinyis seperti sepasang muda-mudi. Jambul loyo itu masih menempel di kepala si Medi. Padahal Ongky Alexander sudah berganti menjadi cepak.

Kelahiran anak pertama laki-laki saya sungguh membawa berkah. Keluarga kecil kami tak lagi kesulitan financial, Risma mengingatkan saya untuk tetap hidup sederhana. Menabung dan beramal demi masa depan anak-anak kami. Katara, Girda, Daria dan Alena. Dua putra dan putri. Lengkap sudah kebahagiaan kami.

Rumah selalu diisi tawa riang, terkadang pertikaian kecil sekedar berebut mainan dan gula-gula kapas. Akan semakin gaduh bila pasangan Tita-Made dan kedua anak kembarnya datang. Entah mengapa Katara selalu merasa rambut Medi seperti sarang burung, sehingga ketika Medi tertidur Katara akan meletakkan burung pipit kecilnya di atas jambul Medi.

***

Saya mengecup kening Risma. Saya angkat tubuhnya dan memindahkannya ke dalam kamar. Saya intip kamar keempat anak-anak saya yang semakin bertambah besar dan sudah hobi merusak perabotan dan juga menangisi anak tetangga. Aih, kalau tidur manis sekali. Katara yang jail dan hobi mengigau sambil berjalan, Girda yang masih hobi ngompol dan suka menggambar disembarang tempat, Daria yang suka sekali memanjat pohon dan pagar atau mengejar ayam dan juga Alena yang selalu hobi makan dan terjatuh dari tempat tidur. Kalau dipikir….anak-anak saya memiliki keanehan yang luar biasa.

Saya kembali ke dapur, perut saya berbunyi minta diisi. Segera saja saya ambil piring dan menyendokkan nasi dengar takaran bukan untuk manusia biasa. Ah, semua tampak enak! Tiba-tiba istri saya sudah berdiri di pintu dapur. ”Mau kubuatkan coklat hangat?”

”Suatu kehormatan kekasihku….”.

Saya suka sekali memandang punggung istri saya. Tak lama ia meletakkan dua cangkir coklat hangat di meja dan duduk di bangku sebelah saya. Ia memperhatikan saya makan dengan lahap. Ya, ia akan selalu senang saat melihat saya dan anak-anak lahap memakan masakannya. Dia bahagia….

Setelah piring kosong, tangannya dengan sigap mengambil piring dan bersiap mencucinya. Saya mendekatinya, memeluk pinggangnya dari belakang. Aromanya terasa sangat manis. ”Maafkan aku…”.

”Untuk apa?”

”Membiarkanmu tertidur di sofa dengan posisi yang kurang enak, pelit senyum, dan selalu membuatmu kelelahan. Aku selalu egois, dan menganggap akulah yang paling bekerja keras di rumah ini.Maaf…”

”Sudah ku maafkan dan akan selalu ku maafkan….”. Ia berbalik dan menatap mata saya. ”aku juga minta maaf, terkadang menjadi penuntut yang menyebalkan…”

Akan selalu ada jalan keluar….saat saya memutuskan untuk menikah, saya dan Risma sudah memikirkan tentang setiap konsekuensinya. Membuktikan cinta kami ini akan membutuhkan waktu selamanya, dan selamanya kami akan bersama. Pasti akan ada saatnya saya bosan, saya ingin kembali melajang. Yang saya lakukan hanya mengingat masa dulu, memori indah yang mengikat saya dan Risma. Perjalanan panjang dan penuh kerikil yang telah kami tempuh.

Ah….saya jadi rindu rumah. Seandainya saya bisa membawa keempat anak saya kembali mengunjungi Jogja. Katara sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk memasuki dunia perkuliahan, Girda akan mengikuti kompetisi melukis tingkat Nasional, Daria malah menjadi rebutan kawan-kawan fotograferku dan Alena bersemangat sekali berlatih vokal. Saya jadi teringat, setiap Minggu kami akan berkumpul di rumah mendengarkan Alena kecil melantunkan lagu-lagu jazz favoritnya dengan memainkan piano. Menurun dari siapa ya bakat anak-anak saya itu?

Di depan saya melintas sepasang kakek dan nenek, tampaknya mereka sedang bernostalgia sambil berjalan-jalan sore. Cinta sampai usia senja. Saya dan Risma-pun begitu…kami akan melewati semuanya bersama. Saya merindukan Risma….aroma tubuhnya, masakannya, tawanya….

Telepon genggam saya yang sudah semakin canggih bergetar, saya pandangi layarnya, panggilan masuk dari Katara. Beberapa detik saya pandangi banyak tombol di sana, mana yang harus saya pencet untuk menjawab panggilan?

”Assalammu’alaikum?”
”Wa’alaikumsallam.” Jawab Katara di seberang sana. ”Lukisan ibu sudah datang! Eang mengantarnya langsung!”
”Wah, mana eangmu?”
Tak lama suara berat itu menjawab. ”Apa kabar anakku? Sayang sekali aku tidak bisa menyerahkannya langsung.”
”Tidak apa…seharusnya bapak tak perlu repot-repot mengantar. Kan bisa dikirim atau saya saja yang mengambilnya.”
”Ah, aku sekalian menemui cucu-cucuku. Aku rindu sekali! Rindu kepadamu dan Risma juga tentunya…”.
“Besok saya kembali ke Jakarta, bapak tunggu saja ya…saya juga rindu pulang…”.
“Ya, sampaikan salamku untuk Risma.” Lalu suara berisik, sepertinya anak-anak saya berebutan untuk berbicara di telepon.
“ayah! Bilang sama mama kami rindu sekali! Bilang kalau permainan piano Ena semakin baik!” Suara Alena
”Bilang mama, aku sudah pandai menjahit! Dan kemarin fotoku masuk majalah!” Daria…
”Bilang mama, aku akan menjadi pelukis handal seperti mama!” Girda…
”Bilang mama, aku sayang mama…”
”Kami juga sayang mama” Suara Daria, Alena dan Girda secara bersamaan, gaduh sekali!
”Iya, iya…bilang kami sangat menyayangi mama. Bilang pada mama aku meminta do’anya. Semoga aku lulus tes di Universitas yang aku mau.” Akhirnya Katara berhasil menyelesaikan kata-katanya tanpa diganggu.
”Ya, ya…akan ayah sampaikan. Kalian jangan merepotkan kakek! Jangan nakal! Jangan lupa mengganti perlak Girda…”
”Ayah! Aku sudah berhenti mengompol 3 hari lalu!” Sahut Girda diiringi cekikikan kedua putri saya.
”Ya, baiklah…tapi kan ada baiknya berjaga-jaga.”
”Ayah…”
”Ya, anakku Katara..”
”Lukisan ayah yang dibuat ibu indah sekali…”.
”Apakah masih baik kondisinya?”
”Hanya sedikit bekas terbakar di bagian ujungnya. Selebihnya masih baik.”
”Baiklah…besok ayah kembali. Jaga adik-adikmu dan juga kakek. Ayah mencintai kalian semua.”

Saya pandangi sepasang muda-mudi yang sedari tadi mengingatkan saya akan masa-masa kasmaran saya. Embun dan Senja. Telah cukup lama saya mengenal Senja, seniman muda asal Malang yang pernah mengadakan pameran fotografi perdananya di galeri milik saya di jakarta. Sesekali pertemuan, ia selalu saja berceloteh tentang gadis yang dicintainya. Sekelumit perjalanan yang tidak mulus akhirnya membawa mereka dalam sebuah kebersamaan.

Dan akhirnya saya mendapatkan kehormatan untuk melihat gadis senja secara langsung. Menurut saya, dia adalah gadis kedua yang paling cantik dalam jingga senja setelah istri saya. Tentu saja Senja akan berpikiran lain…

Saya tak berhenti memotret keduanya, bagaikan ada daya magnet yang menarik saya untuk terus mengabadikan setiap moment kebersamaan mereka. Lihatlah Risma, mereka sedang kasmaran seperti kita dulu. Oh, tidak! Sampai detik inipun saya masih selalu kasmaran!

Ah…memang tak ada yang sesimpel, seindah dan semanis cinta. Serumit apapun jalannya, saat kita benar-benar yakin…seumur hidup-pun tak akan menjadi masalah untuk bisa membuktikan kebenarannya.

Cinta bukan suatu hal yang malu untuk diakui, malah kita harusnya bisa angkat kepala karena kita memiliki cinta. Cinta tak perlu ditakuti kehadirannya, justru cinta akan memberimu keberanian. Cinta bukan tentang bagaimana cara untuk membahagiakan pasanganmu, cinta adalah ketika kalian saling menatap dan menangkap bahagia itu nyata. Cinta bukan tuntutan, bukan alibi, bukan juga untuk dipersalahkan….

Saya letakkan setangkai bunga matahari di atas gundukan tanah dengan sisa-sisa bunga kering. Saya baca ukiran nama di atas keramik yang sedikit berdebu. Risma Aleta binti Pradana.

Hey, kekasihku….apa kabarmu? Oh, jelas sekali aku merindumu. Jogja ini, kota kesukaanmu. Tempat kita berbulan madu…sekarang saya sudah mengerti, mengapa kamu begitu mencintai Jogja ini, tempat kelahiranmu. Tempat kau mulai mengenal seni lukis… aku bertemu banyak orang hebat! Dan banyak orang kasmaran..hahaha…

Lukisanmu sudah sampai di rumah…aku belum melihat hasil perbaikannya, tapi yang kudengar dari Katara sepertinya baik-baik saja. Hanya sedikit luka bakar bekas tragedi dulu.

Anak-anak titip salam. Pasti kau tahu apa yang ingin mereka sampaikan. Kamu telah memberiku anak-anak yang hebat! Ada kemajuan, sudah tiga hari Girda tidak mengompol. Entah apa yang dimimpikan anak itu! Ia semakin pandai melukis…suatu saat ia akan sehebat dirimu. Alena, dari mana bakat menyanyinya itu berasal?! Satu-satunya lagu yang bisa kumainkan lewat piano adalah ampar-ampar pisang! Kau bahkan selalu merengut tiap aku bernyanyi, Casandra saja benci suaraku!

Katara, dia selalu dewasa sepertimu. Dia mulai menyukai fotografi, mengikuti jejakku. Dia tampan sekali, aku sampai bosan menjawab telepon dari anak-anak gadis yang dialihkan ke telepon genggamku! Anak itu semakin kurang ajar saja…Dia pikir aku mesin penjawab telepon! Katara serius sekali dengan pendidikannya, itu bagus..jangan sampai bodoh seperti ayahnya ini…

Daria…dia ahli sekali di depan kamera. Dan dia juga semakin pandai menjahit. Tapi aku khawatir sekali…dia sangat galak terhadap laki-laki! Bahkan di depanku, saat pengambilan raport, dia melempar seorang anak laki-laki dengan stik baseball-nya! Aih! Mirip sekali denganmu! Akan susah baginya untuk mendapatkan pacar…Alena saja sudah ada yang mengapeli…

Ah…aku tak ingin menghalangi mereka untuk mengenal lawan jenis. Aku ingin mereka dapat leluasa merasakan kasmaran…aku tahu mereka mtidak akan menyalah gunakan kepercayaanku, terutama Daria. Ia gadis yang mengerikan!
Ini bunga matahari kesukaanmu…sesuai janjiku. Setiap tiga bulan sekali aku akan mengunjungi Jogja dan setangkai bunga matahari setiap kunjungan. Maaf, tidak bisa langsung mengunjungimu…

Beristirahatlah dengan tenang, aku mencintaimu kekasihku….Terima kasih telah memberikan kehidupan yang indah. Walaupun aku tidak dapat mencegah kepergianmu, aku tahu kamu selalu setia bersamaku…

Saya mengecup nisan yang terpasang kokoh di atas pembaringan terakhir Risma. Ya…dua tahun lalu Risma meninggal dunia. Tak disangka, kecelakaan yang dulu dialaminya berefek panjang, gumpalan darah beku menyumbat otaknya. Tak apa…dengan begini ia tak akan merasa kesakitan lagi.

Dia yang telah pergi, akan selalu ada ruang di hati….

 

Ditulis pada Minggu, 2 Mei 2010

Iklan

2 thoughts on “Kasmaran

  1. saya sangat kagum dengan kelincahan anda berbahasa dan mengolah kata serta kuat dalam bercerita. sehingga enak dibaca . Selain itu anda begitu bagusnya menulis sehingga saya tidak bisa menebak sebelumnya bahwa Risma sebenarnya sudah meninggal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s