Racauan Nyai' / Ruang Aksara

Di Balik “Dalam Kisah Perempuanku”

“Dalam Kisah Perempuanku” adalah proyek novel saya sejak kurang lebih 2 tahun lalu. Mengangkat ragam perempuan, karna saya begitu jatuh cinta pada sosok perempuan, pada sosok saya.

Bagi saya ketika mencintai seseorang maka terselip juga perasaan sebal, iri, benci dan ketidak-setujuan. Sama seperti ketika kamu bersahabat, kamu tidak akan membenarkan ketika sahabatmu salah bukan? Atau iya saja ketika kalian tidak sependapat? Maka cinta yang seperti itulah yang saya miliki.

Seperti ketika saya mempertanyakan emansipasi atau menghujat aborsi. Atau ketika saya mempertanyakan kepada kaum ibu, perempuan yang sempat terkurung tradisi, mengapa masih saja membuat tersudut dengan tudingan ‘perempuan!’?

Perempuan itu memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang indah, tapi dalam tiap keindahan sudah tidak tabu lagi terdapat juga suatu yang mengerikan, layaknya keindahan mawar, tapi tetap semerah kelam dan berduri. “Dalam Kisah Perempuanku” adalah refleksi diri saya sebagai perempuan.

Dalam “Aku…Perempuan”. Ini adalah pertanyaan pertama saya sebagai perempuan terhadap sesama perempuan. Bagaimana bisa mencintai diri sebagai perempuan kalau sesama perempuan saling menyudutkan, saling menjatuhkan?

“Kupu-kupu Biru” bisa dikatakan favorit saya. Penggabungan dari dua orang yang kehadirannya nyata, bisa saja kalian temukan di samping anda. Teman-teman perempuan yang kalian sebut jalang, wanita murahan, pelacur. Menjadi salah ketika seorang pria lugu mengulurkan tangan, memandangnya tidak dengan napsu, kalian menuduhnya menggunakan tipu daya. Ini adalah bentuk kekaguman saya pada perempuan yang berani menjual tubuh. Sungguh, tidak dengan mata uang aku melihat kalian.

“Perempuan Ke dua”. Bentuk protes saya. Kenapa harus selalu pria yang kita hujat dalam hati yang terbagi dua, tiga atau empat? Di dalamnya, kita, perempuan juga telah melibatkan diri. Bukankah perempuan jugalah yang merenggut kebahagiaan perempuan lain?

“Perempuan Plastik”. Tidakkah lucu bagaimana kita berserah diri menjadi korban kapitalis? Tuhan menciptakan kita dengan kulit dan daging, dempal, dan memuaskan. Kenapa kita lebih memilih untuk menjadi plastik?

Yah, sementara ini saya masih berusaha mem-boosting semangat mengalahkan penyakit kronis penulis yang sering menggerogoti mood! (–“)

Menjadi perempuan adalah sebuah tantangan dan kebanggan di saat yang sama. Ketika kita sudah menerima dan mensyukuri, maka emansipasi perlahan akan undur diri, tergantikan dengan toleransi dan saling menghargai sesama manusia.

Preview “Dalam Kisah Perempuanku” bisa dilihat di sini

Salam kece,

NAD

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s