Racauan Nyai'

Indonesia Kaya, Tapi Miskin Cinta

Ini post pertama kali saya publish di Tumblr (lihat sini tulisan aslinya), dengan spontanitas dan menggebu-gebu. Ini saya post sesaat setelah banyak mendengar dan membaca generasi muda nulis “kalo pindah kewarganegaraan itu gampang, gwe udah pindah dari dulu!”. Saya jadi mikir lagi, sehebat apa sih nih orang? Hal apa yang udah dia lakuin buat Negara? Seberapa parah Indonesia mengecewakan dia? Dan…bagi saya,rakyat yang berani berkata seperti itu adalah sampah ketika dia cuma berani nyocot tanpa solusi. Lantas negara mana yang mau nambah-nambahin sampah?

Ketika kita bicara mengenai permasalahan di Indonesia, nasionalisme, sejarah atau budaya sampai kebobrokan, saya rasa kita sedang bicara tentang diri kita sendiri. Ketika kalian menjelek-jelekkan Indonesia, maka kalian tengah memperlakukan diri sendiri. Bagaimana tidak? Coba saja kalau kalian menjelekkan Indonesia ke teman bule? Yang mereka pikirkan adalah, “pantes aja bobrok, orang generasi mudanya cuma omdo tanpa bertindak dan solusi. Pantes ancur, bukannya mencintai malah merusak dan menjelekkan negaranya sendiri. Pemerintah gwe juga ogah nerima manusia bobrok kayak lo sebagai rakyatnya!”


Di Indonesia, sebagai warga negara Indonesia, sebagai rakyat Indonesia, bukankah seharusnya kita bangga karna negara Indonesia adalah negara yang paling kaya? Pulau, suku, budaya, bahasa, sejarah, potensi alam, dan lain sebagainya. Kamu lapar, ingin mempercantik diri? Indonesia itu hijau! Sawah, ladang, hutan, kebun berhamburan. Siapa yang menghancurkannya demi alasan modernisme? Lalu berserulah kita para rakyat, “Pemerintah!”. Lalu pemerintahpun sebaliknya. Jadilah pemerintah dan rakyat berperang, inilah persatuan untuk menghancurkan tanah air kita sendiri! HOREEEEEEEEEEEEEEEEEEE!

Sayapun pernah menjadi sampah yang meremehkan Indoneisa sebelum akhirnya tersadar, kita punya segalanya, kecuali satu, NASIONALISME. Kita tidak punya hati, kita tidak punya cukup kekuatan dan nyali untuk mencintai tanah air kita sendiri. Kalau kita tidak mencintai tanah air kita sendiri, lantas bagaimana tanah air mau cinta kita? Bagaimana mau all out memberikan segala potensi yang ada untuk dipercayakan pada kita? Lantas siapa yang akan mencitai tanah air kita kalau bukan kita? Tentu saja bangsa lain.

Kita terlalu sering mengeluh, mencari-cari kesalahan, mencari apa yang kurang dan tidak kita miliki. Menyepelekan potensi di saat bangsa-bangsa lain begitu ingin memilki potensi yang kita miliki. Kemudian ketika pontensi yang kita punya diakui milik bangsa lain kita mengamuk luar biasa. Kenapa tidak direlakan? Toh, bangsa lain lebih mencintai, jadi mereka pasti akan merawatnya dengan sepenuh hati. Atau sekalian saja jual Indonesia ke negara lain? Niscaya mereka akan mengolahnya lebih baik dari pada kita.

Generasi muda mengaku sebagai generasi modern berpendidikan, menciptakan teknologi, mengikuti perkembangan zaman, tapi juga tidak lupa menjadi korban perkembangan itu sendiri. Paling menjijikan adalah begitu mengelukan segala hal dari luar, termasuk budaya dan produknya. Modern adalah menjadi orang barat, kuno adalah menjadi orang Indonesia. Ergh, alangkah lebih baik kalau generasi ini tidak berpendidikan, karna meskipun bodoh tapi cerdas dan mencintai tanah airnya, ketimbang mengaku berpendidikan tapi otak dan kelakuan dangkal.

Katanya rakyat meniru pemerintah? Katanya rakyat pinter, yang goblok ko ditiru?

Kalau mau menyalahkan lebih baik berkaca dulu. Rakyat, media, pemerintah turut menjadi faktor yang menyebabkan indonesia bobrok. Pemerintah, mahasiswa dan bahkan media juga adalah rakyat. Invasi westernisasi dibiarkan lewat begitu saja, tabok duit langsung angguk kepala. rakyat Indonesia lebih cinta duit ketimbang Tuhan atau negara.

Mari kita bicara soal bidang saya lumayan memahami, bidang yang saya cintai. Fashion. Saya sangat mengagumi saat ini karna pergerakan brand dan designer lokal sangat pesat. Sayangnya, kebanyakan brand lokal ini berusaha terlihat seperti tidak lokal. Dan konsumennya, yaitu kita, masih saja meremehkan produk lokal. Padahal brand-brand luar negri banyak yang mempercayakan membuat produknya di Indonesia, tapi lucunya, dapat dipastikan hampir 90% barang luar yang beredar di Indonesia adalah KW alias palsu.

Penyakit rakyat Indonesia salah satunya adalah copy-paste. Makanya kalo kenalan sama orang ati-ati, takutnya itu bukan kepribadian asli, tapi copy-paste.
Sebelum kalian gembar-gembor tentang kecintaan kalian akan batik, Anna Avantie sudah melakukan itu lebih dulu tanpa gembar-gembor, tapi dengan aksi. Jessica Alba sudah lebih dulu menunjukkan aksi sementara kita masih mengangap batik adalah kuno. Sebelum kalian gembar-gembor tentang cinta produk lokal, Bagteria sudah mendunia, SUE.GD sedang menapaki jalan, begitupula dengan brand-brand lain. SIapa yang membuka jalan bagi mereka? Bangsa lain.

Kemudian ketika Agnes Monica ingin go International. Ingat tidak bagaimana kita mencemooh mimpi indahnya? Ingat bagaimana kita meremehkan kemampuan Agnes? Sekarang apa yang terjadi? Kita sedang sibuk-sibuknya menjilat Agnes, memuji-muji. Bahkan tanpa diminta Agnes terus membawa ke-Indonesiaannya!

Saat ini Indonesia sedang kerajingan K-Pop. Mengcopy-paste tapi tidak tahu diri! Laki-laki membancikan diri demi bisa populer, perempuan jual tampang demi populer. Copy-paste setengah-setengah. Di saat penyanyi, boyband atau girlband Korea dan jepang digembleg selama bertahun-tahun dan mengasah bakat juga dengan bekerja keras, kita menjadikannya instan, dan begitu bangga mengakui hal-hal instan.

Dunia model. Begitu banyak brand lokal, pelaku fashion, model lokal dan fotografer fashion. Siapa yang dipilih? Kualitas luar.

Brand dan fotografer fashion maunya memilih model bule. Alasannya lebih menarik dan mereka cantik. Kulit putih, rambut dan mata warna-warni. Akhirnya model dengan wajah pribumi tersingkir. Tapi lalu dipertanyakan eksistensinya…saya bingung, kalian yang menyingkirkan tapi kalian yang mempertanyakan.

Saya jadi bingung sekali saat teman-teman saya mempertanyakan, minta dicarikan teman yang cantik buat dijadikan model. Saya ini mengartikan cantik itu abstrak banget loh…saya bukan sarjana Matematika yang bisa bilang 1+1=2, atau orang ahli Sejarah yang bilang Presiden pertama itu Soekarno. Jawaban saya tentang cantik itu bertele-tele. Ragam…apalagi kalo ditanya cantik orang Indonesia itu gimana? Yang pantas jadi model itu gimana?

Sudah pasti saya jawabnya panjang x lebar dengan beribu alasan! Kalo mau jawaban simpel, cantik itu kodratnya perempuan.Ganteng itu ya laki-laki. Tapi karena jaman sekarang sangat beragam, cantik juga bisa laki-laki dan ganteng juga bisa dimiliki perempuan.

Dinilai secara fisik, cantik Indonesia saya realisasikan dengan kecantikan Kinaryosih, Lola Amaria, Dian Sastro, Kirana Larasati, Yati Pesek, Nunung, Dewi Ayu, Fitria Tropika, atau…Oscar Lawalata? Personil SMASH?
Ganteng itu yang Dwi Sasono, Tyo Pakusadewo, Ario Bayu, Fedy Nuril atau…Mita The Virgin? Kaya saya ini ya kadang ganteng…

Tapi kebanyakan bilang cantik itu yang kaya di iklan…putih, rambut lurus, idung mancung, bla, ba, bla…ini sama dengan pemilihan cantik dalam dunia film. dipilih yang bule, ngomong bahasa Indonesia aja kaga bisa. Namanya pemilihan Putri Indonesia, ngomongnya pake bahasa Inggris. Apa ini menandakan kalo yang nggak bisa bahasa Inggris itu bego?

Sedih saya, liat sinetron tuh bule pada susah ngomong, nangis ditetesin air mata dan muka dibuat keriput…tapi tetep aja banyak yang doyan. Secara bule, secara ganteng, secara cantik…bego mah urusan laen..jadi jangan salahin, jangan protes kalau banyak yang oprasi plastik atau oprasi kardus.Karena kalian sendiri yang menekan mental orang-orang itu menjadi mental plastik dan kardus! Itu adalah imbas dari kebijakan kalian.

Saya menjadi salut melihat orang luar mengartikan cantik itu sebagai sesuatu yang luas…kekaguman mereka pada kecantikan Asia, tapi tidak juga menjadikan mereka lupa akan ‘cantik itu pirang’ =D. Mereka membuka kesempatan bagi ragam kecantikan untuk memenuhi dunia mereka. Menghargai ragam. Itu yang buat saya salut…

Jangan kaget kalo ada model berkulit hitam seperti Eboni, Naomi, Iman, Tyra Banks, dll. Penyanyi Beyonce, Solonge, dll. Heidi Klum saja menikah dengan langgengnya sampai sekarang dengan Seal.  Gimana Liu Wen, Lucy Liu dan lain-lain membuat mereka tergila-gila karna kecantikan yang khas Asia. Lalu sekarang pemain dalam Slumdog Millioner’. Fahrani yang mondar-mandir sebagai model brand luar. Agnes Monica dengan kekuatannya bisa sampai sekarang ini. Ini berkat bantuan siapa? Berkat bantuan kita sesama orang Asia atau sesama orang Indonesia yang asik mencemooh, lantas cemooh itu menjadi dukungan…

Pastinya sudah tahu gimana rusuhnya dunia sepak bola Indonesia akhir-akhir ini? Nggak habis pikir sesama Indonesia cuma beda propinsi atau daerah ribut man! Udah rusuh kebanyakan supporternya egois, sok bisa…coba suruh main noh di tengah lapangan kalo nggak empot-empotan.

Lebih lucu lagi ketika saya mendapati di Twitter ada yang mengatakan, mereka akan peduli kalau sepak bola Indonesia sudah dibenahi, sekarang ini lebih peduli dengan sepak bola negara lain. Kalo semua orang berpikiran sama, lantas siapa yang akan membenahi? Trus kalo sudah sukses kalian baru mendukung? Cih! Kalau sudah sukses nanti nggak butuh dukungan kalian yang tukang ikut trend kondom.

Kalau kita terus mempertanyakan, coba deh sekali-kali berkaca, siapa penyebab ini semua? Nah..kalau udah ngaca, kalian bakal menemukan jawabannya, menemukan pelakunya…

Rasa Nasionalisme itu bukan cuma untuk 17 Agustus. Basi! Indonesia dari dulu ampe sekarang nggak ada merdeka-merdekanya…lepas dari mulut buaya, masuk dalem mulut T-Rex, jatoh ke pulau Komodo kelaperan.

Yang nindas juga rakyatnya sendiri, yang kelaperan yang miskin rakyatnya sendiri. Yang protes rakyatnya sendiri, yang menghina rakyatnya sendiri….yang mempertahankan, yang mencintai, yang memperjuangkan siapa donk?

Please, jangan biarkan untuk yang kedua kalinya saya menjawab bangsa lain…

(Photos taken Google)

Salam kece,

NAD

Iklan

2 thoughts on “Indonesia Kaya, Tapi Miskin Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s