Uncategorized

Belajar Menghargai Lewat Film Little Thing Called Love

Terlepas dari bahasanya yang terdengar aneh, Thailand saya akui memiliki sense movie yang bagus, terutama horor dan komedi romantis. Yang saya bahas ini adalah film drama romantis berjudul Little Thing Called Love. Entah kalian sudah pernah nonton atau belum, film ini serasa menampar saya, mengingatkan saya dengan kenangan masa remaja yang kini sering kali saya sepelekan.

Little Thing Called Love menceritakan tentang percintaan remaja SMP yang polos dan lucu. Tokoh Nam (Pimchanok Lerwisetpibol, jangan tanya berapa kali saya salah nulis namanya, dan saya nggak tau cara bacanya gimana) yang jatuh cinta sama kakak kelasnya Chon (Mario Maurer, anak muda satu ini tampan dan sepertinya sedang berjaya di perfilman Thailand, karna Chila adek tingkat saya di kampus naksir berat sama nih anak, dan punya beberapa film isinya dia semua!).

Nam di sini diceritakan sebagai salah satu anak perempuan polos, ceroboh, berkulit hitam yang bisa dikategorikan dalam geng anak ‘buruk rupa’. Buruk rupa? Yeah, kalian pasti bakalan ketawa hina kalo ngeliat aksi Nam dan teman-teman buruk rupanya yang konyol-konyol, dan sumpah, bentuk mereka aneh-aneh! Haha…

Teman-teman satu geng-nya ini membantu Nam untuk mendapatkan perhatian Chon dengan panduan sebuah buku. Mulai dari merubah penampilan Nam, berusaha membuat kulit Nam menjadi lebih putih, akhirnya malah berubah jadi kuning (–“).

Persahabatan konyol ini benar-benar mengingatkan kita arti persahabatan yang sebenarnya. Seperti ketika Nam akhirnya bertransformasi menjadi gadis cantik dan menjadi idola, sesaat Nam sempat melupakan sahabat-sahabatnya demi mendekati Chon. Marah? Tentu! Tapi sahabat selalu ada, selalu memafkan, juga mengingatkan, dan akan menjadi orang yang tertawa dan menangis bersama hingga akhir.

Alur demi alur dimainkan secara pas, dengan penempatan gambar yang sesuai serta setting yang mencerahkan mata. Warna-warna senja, scene yang kita rasa ‘lebaaaayyyyy!’ tapi itu memang terjadi pada masa remaja, hal-hal kecil yang kita lupakan, yang kita anggep nggak penting ternyata kita pernah membuatnya menjadi penting.

Seperti saat mendengarkan pokanan bercerita, kalian pasti seringnya berpikir, “idih! lebay banget sih! Masih anak kecil juga, cinta monyet!”. Kemudian tersadar, dulu kita pernah berada di sisi ponakan kita itu. Sakit hati super duper saat kita sedang kebingungan, malah dibilang monyet..krik!

Intinya, dari berbagai cara yang dilakukan Nam untuk menarik perhatian Chon, akhirnya Nam sadar ia belum melakukan hal paling penting yang harusnya ia lakukan sejak lama: mengungkapkan perasaannya. Itu juga yang disadari Chon saat Nam sempat jadian dengan sahabatnya.

Inilah yang membuat judul Little Thing Called Love dirasa sangat mewakili apa yang ingin disampaikan oleh sutradara dan penulis naskah Wasin Pokpong. Tiap detil yang ada dalam film ini serasa sebagai tamparan, berisikan nilai-nilai dan memori dalam bentuk simbol ringan, manis tapi mengena. Sepanjang film ini saya banyak mengeluarkan kata-kata: Oh iya ya…gwe banget!, iya! dulu gwe kayak gitu!, ya ampun malu banget!, iiih, jadi inget jaman dulu!, dan sejenisnya.

Saya menyimpulkan, perasaan terhadap lawan jenis ataupun persahabatan di usia pra-remaja adalah saat-saat rasa-rasa itu masih real, pure, polos. Belum dicampuradukkan dengan berbagai hal yang justru, ketika dewasa, rasa-rasa seperti itu mulai berlebihan. Kalian tahu? Rasa pada masa itu lebih dari sekedar cinta monyet. Bahkan lebih berharga karna inilah pertama kalinya kita belajar melakukan usaha, belajar berkorban, belajar pamrih, dan sebagainya.

Bukan hanya perasaan bernama love aja yang sepertinya ingin disampaikan melalui film ini…begitu banyak hal, dan kalian lebih baik menampar diri kalian sendiri. 😉

Oh iya! Tokoh yang paling mbanyol adalah guru Inn yang diperankan oleh Sudarat Budtporm. Saya tidak tahu bagaimana orang ini bisa menjadi sangat…aduh, hina betul pokonya!

Iklan

7 thoughts on “Belajar Menghargai Lewat Film Little Thing Called Love

  1. Soal bahasa, saya suka sama film Hello Stranger (2010), film asal Thailand, ceritanya menarik. Namun seketika mood nonton buyar ketika mereka mulai melafalkan kalimat, malah terdengar lucu. Pdahal pas adegan tegang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s