Racauan Nyai'

Generasi Putri Berbaju Zirah

Mungkin ini melanjutkan mata kuliah cultural studies di kampus saya sekitar seminggu lalu. DI mana dosen saya membahas tentang gender, dan akhirnya tercetuslah statement ‘perempuan bisa lebih dari sekedar di belakang kesuksesan pria hebat’. Juga membuat saya kembali berkonsentrasi pada tulisan saya ‘Dalam Kisah Perempuanku’.

Pada perkuliahan itu, saya dan teman-teman sekelas diperlihatkan video tentang dongeng-dongeng keluaran Disney. Putri-putri cantik yang terkurung, tertindas, menunggu datangnya Pangeran berkuda putih (kecuali Pocahontas dan Mulan). Mau tidak mau, disadari atau tidak, media termasuk film di dalamnya, adalah yang turut andil dalam mendoktrin mitos tentang perempuan.


“Perempuan lemah, just stay in your cage, wait until Prince Charming comes to save you, then you can kiss him, and then, you live forever ever after. End.”

Kemudian tumbuhlah kita menjadi perempuan yang pemimpi, yang menunggu datangnya Pangeran dengan Jaguar putih. pakaian necis, harum mewangi sepanjang hari, dan pedang yang telah berganti menjadi dompet tebal berisi jutaan dollar.


Yang menjadi pertanyaan dosen saya adalah, kenapa tidak ada kelanjutannya? Apa yang terjadi pada putri ketika dia hidup di Istana? Apakah menjadi Putri dan ratu akan membuat kita hidup bahagia untuk selamanya?

Kemudian hal mengejutkan terjadi pada kehidupan Lady Diana. Contoh pemberontakan terhadap kurungan emas! Bosan harus terlihat suci all the time? Bosan dengan sang Pangeran yang ternyata memiliki putri lain?


Selanjutny, skip to Royal Wedding. Kate Middleton dan Prince William. Semua mengatakan betapa beruntungnya Kate Middleton menjadi putri. Dongeng jadi kenyataan. Apa kalian tidak berpikir harga mahal yang dibayar oleh Kate? Sebebas-bebasnya sistem kerajaan masa kini, seorang putri diwajibkan berlaku sebagai seorang putri. Aturan kehidupan, terbatasnya pilihan. Pengorbanan besar demi Pangeran yang dia cintai.

Dan hey! Kate bukan berasal dari rakyat yang benar-benar jelata, miskin tiada tara! Kate berpendidikan cukup, dengan status dan ekonomi yang cukup pula. Pellisssss…nggak mungkin juga Pangeran masa kini menikahi perempuan yang berasal dari planet lain, planet kumuh. Fact!

Back to movie. Dongeng, fairytale. Sepertinya saya mulai membaca adanya pergerakan dari dongeng generasi baru. Start from Elizabeth, Shrek, Rapunzel Tangled, Alice in Wonderland, Snow White and The Huntsman, then Hanzel and Greatel : Witch haunter. Apa kesamaannya? ketika perempuan tidak lagi menunggu Pangeran berkuda putih! Perempuan berbaju zirah, angkat senjata, dan bahkan menyelamatkan Pangeran! Itu adalah impian yang dulu pernah saya sampaikan di status FB beberapa tahun lalu.

Bukan perang yang saya tekankan. Tapi perempuan yang lebih berani menyelamatkan dirinya sendiri, menyelesaikan kasus atau masalahnya sendiri, tapi tetap tidak menutup kenyataan kalau kita membutuhkan pria. Perempuan bisa memilih jalan, berkata iya atau tidak, memilih untuk diburu atau memburu. Dongeng baru ini lebih memberikan kita pilihan.

Perempuan tidak lagi menunggu pangeran yang akan menyelamatkannya kemudian memberikan ciuman. Hey! Ciuman itu berharga! Bisa-bisanya para lelaki mengambilnya begitu saja! (:P).

Well, kita mungkin nggak punya Ibu Peri seperti dalam sinetron Bidadari, tapi kita bisa menjadi peri buat diri kita sendiri. Case closed. (setidaknya untuk sekarang =D).

Dan masih ada statement baru yang menggelitik nih. Tau lagu si Kancil kan? “Si kancil anak nakal suka mencuri ketimun, ayo lekas diburu, jangan diberi ampun!”. Menurut dosen saya, mungkin ini yang menyebabkan banyak orang Indonesia hobi main hakim sendiri.

Masih kata dosen saya, dalam sebuah buku. Ada mitos yang menyebutkan kalau dalam urusan ‘kasur’ perempuan sebenarnya lebih handal dari pria. Tapi karena pria selalu ingin berkuasa, maka mereka menyebarkan mitos, bahwa perempuan cantik adalah yang memakai anting-anting. Padahal, ada syaraf di kuping yang mengatur gairah sexual perempuan. Jadi dengan anting-anting, pria berusaha menguasai perempuan. Well, ini belum teruji faktanya. So, will see…tapi sempat membuat saya kepikiran, karna saya memiliki 6 tindikan di kuping. Masing-masing 3 di kanan dan kiri. Betapa terkontrolnya gairah sexual saya? Tidak, saya rasa saya masih cukup liar berpelukan dengan kasur dan bercumbu dengan tembok!

Salam Kece,

NAD

Iklan

One thought on “Generasi Putri Berbaju Zirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s