Ruang Aksara

1000 Surat Untukmu, Pandora Luna…

Aku masih ingat jawabanmu ketika aku bertanya, kenapa kamu suka fotografi?

“Karna aku pelupa! Mungkin karna aku sudah tua, jadi gampang sekali melupakan banyak hal. Mungkin waktu Tuhan menciptakan aku lupa mengup grade memori dalam otakku, jadi tidak menampung banyak ingatan. Sebagai gantinya, Tuhan mengajarkan aku fotografi, menuangkan ragam gerak dalam padat ilustrasi.”

“Agar aku tidak lupa, tidak ada yang diciptakan tanpa keindahan, bahkan puntung rokok di pinggir jalan sekalipun, atau pengemis kecil dengan rambut semrawut…Tuhan menciptakan banyak hal, banyak benda, dengan penuh kasih…segala hal yang dikasihi, adalah indah.”

Kamu perempuan pelupa yang membuatku jatuh cinta pada fotografi yang kamu cintai, tak lupa, Tuhan membuatku jatuh cinta padamu, yang memperkenalkan aku pada-Nya.

Tapi memori otakmu semakin sedikit, hingga membuatku takut, tidak ada lagi sedikit tempat untuk kamu mengingat aku. Mengingat kita. Mengingat genggaman pertama kita, ciuman pertama, atau mengingat wajahku…aku takut kamu lupa tentang kita,

Maka, tiap hari, selama kamu tertidur panjang, selama kamu melewatkan banyak hari,

Ku tulis 1000 Surat Untukmu, Pandora Luna

Ku ciptakan memori dalam kata dan ragam gerak padat. Hingga ketika kamu terbangun, memorimu yang habis di format ulang bisa segar kembali, lalu mengcopy-paste memori terlupa, juga ku ciptakan untukmu.

Untukmu, dari Prabu Ralanangan.

Banyak yang menyuruhku untuk melupakan kamu, melupakan kita. Mereka meyakinkan, sudah akhiri saja, kamu tidur terlalu lama, tidak akan bangun. Andaikata kamu bangun, tidak tahu kapan tepatnya, kamu lupa waktu, dan akan terbangun dengan kekosongan memori.

Mereka tidak tahu. Aku telah dikutuk. Aku membuka pandora, rumah Putri Bulan bernama Luna, yang mendatangkan kutukan berupa rasa bernama cinta.

 

“Kematian yang paling menyakitkan adalah kematian yang menciptakan kekosongan. Kematian jahat yang bahkan tidak membiarkanmu memiliki memori sekalipun. Artinya, kamu bahkan lupa kamu pernah di kasihi.”

Dear Pandora Luna,

Aku tidak ingin kamu membuka mata dalam kekosongan, tidak juga memejam abadi dalam kekosongan. Aku ingin kamu ingat, kamu pernah dikasihi, walaupun tidak ingat aku adalah salah satu orang yang mengasihi, setidaknya kamu tidak lupa bapak dan ibumu, media yang diciptakan Tuhan untuk menyampaikan kasih-Nya yang berlimpah.

“Aku benci Tuhan.”

“Kenapa?”

“Karna Tuhan juga pelupa! Ia lupa membuat memorimu dengan sempurna! Tuhan setengah hati menciptakanmu, sehingga kamu sering lupa namaku!”

“Kalau aku sempurna aku tidak akan jatuh cinta sama kamu, aku jatuh cintanya 100 persen sama Tuhan. Tuhan mungkin memang lupa, atau tidak…kalau aku sempurna, ia tidak menciptakan aku sebagai manusia, tapi sebagai Dia….lagipula, Ia mengatur jadwal pertemuan kita. Tuhan menciptakan kamu untuk mengingatkan aku.”

Dear Pandora Luna,

Aku tidak jadi membenci Tuhan. Karna aku lebih takut lagi kalau kamu sempurna, kalau memorimu berkapasitas lebih besar, kamu akan meningat begitu banyak hal, kamu akan bertemu banyak pria lain dan akan lebih mengingat mereka ketimbang aku.

Atau nanti kamu malah benar-benar 100 persen jatuh cinta sama Tuhan, dibanding aku yang juga tidak sempurna.

Aku sidah minta maaf sama Tuhan, aku hanya sedang kesal…maaf.

Dear Pandora Luna,

Katanya kamu masih belum bangun, aku menghela napas panjang, bertanya-tanya kapan kamu akan bangun? Tapi aku juga bersyukur karna kamu balum bangun, karna kalau saat ini kamu bangun, aku tidak ada di sana. Artinya, kamu tidak akan melihat aku.

Kamu pernah bilang ingin menjelajah dunia, melihat banyak ciptaan Tuhan yang indah. Aku juga pernah bilang, ada yang tidak indah, bagian dunia yang dilanda kekeringan dan peperangan. Kamu bersikeras itu bukan ciptaan Tuhan, itu ciptaan manusia.

Manusia lapar karna ada manusia yang serakah dan pelit. Tuhan menciptakan bentangan sawah subur dan tanah gembur, hutan hijau penuh misteri dan warna-warni. Manusia menjadi gelap mata, serakah, pelit dan tidak peduli!

Sawah subur, tanah gembur, ditimpa beton-beton dan semen. Menimbulkan partikel kotor berwarna hitam yang mencemari udara, membuat racun bagi paru-paru, partikel kotor yang melukai isi langit hingga membuatnya menangis sambil mencerit-jerit. Butir tangisnya yang tak henti menjadi tak tertampungi, amber meluap merendam apa yang bisa direndam. Lalu manusia marah dan menyalahkan Tuhan, padahal manusia yang melukai isi langit.

Siapa suruh juga menyiksa hutan? Hingga segala isinya tidak lagi berpihak. Padahal kalau manusia bersahabat dengan makhlum tetumbuhan hijau dan raja pohon, mereka akan senang hati meminum air mata langit, menggoda langit dengan nyanyian peri hutan hingga mereka sumringah.

Juga jangan salahkan matahari yang melulu emosi, memerah panas dan mengkerontangkan tanah gembur, hingga sawah menjadi tak subur. Matahari hanya marah, karna rumahnya, langit, dibuat menangis sampai menjerit karna perih lukanya.

Sementara tanah yang masih menggembur dan sawah yang masih subur terus dihantam beton dan semen. Lambat laun beton dan semen jatuh cinta pada tanah gembur, merekapun bersetubuh, berorgasme hingga getarnya merobohkan fondasi pijakan.

Sementara juga pada tanah gembur dan sawah subur, diberikan Tuhan pada manusia, yang masih tersisa…manusia kikir, serakah, pelit, enggan berbagi! Kemudian saling maki. Baik Tuhan itu ciptakan manusia sangat pintar,…pintar juga menciptakan benda-benda yang bisa merusak. Menciptakan benda-benda untuk menciptakan perang. Memandikan tanah gembur dengan darah dan serapah.

Perang itu buatan manusia, Prabu…manusia pelit, serakah, enggan berbagi…

Tuhan itu orang tua yang paling baik…membiarkan manusia, anak-anak Nya memilih jalan dan hidup yang mereka inginkan. Tuhan sedih, tapi tidak ingin menjadi orang tua cerewet yang melarang ini itu. Isi langit, juga isi laut dan darat begitu mencintai Tuhan…mereka membela Tuhan dalam amarah dan perih…

Kamu dilukai, kamu marah…apa mereka tidak boleh?

Iya Pandora Luna-ku…mereka hanya sedang marah, saat cerah mereka akan tersenyum manis menggoda. Aku sudah rasa…karna pada semilir yang iringi perjalananku, mereka senantiasa membelai pipi dan menari-nari bersama helai rambutku. Tapi tenang saja, aku tidak jatuh cinta pada semilir, karna sudah ada kamu, semilir sudah tahu dan mengerti. Terkadang juga mereka main ke tempatmu, membisikkan salamku, mengecupi pipi dan dahimu, lalu bernyanyi agar kamu bermimpi indah dalam tidur lamamu.

“Prabu…Prabu…”. Kamu panggil aku terus berkali-kali.

“Biar aku tidak lupa lagi memanggil namamu.”

“Tidak apa kalau kamu lupa, aku sudah janji untuk mengingatkan.”

“Janji?”

“Janji.”

“Caranya?”

“1000 surat tulis tangan. 1000 hari, dan dengan sihirku, kamu akan terbangun!”

“Bagaimana kalau aku tidak juga bangun?”

“Maka aku akan menikahimu ketika kamu sedang tertidur. Kamu tidak akan tahu ketika aku mengecupmu, kamu pasti akan sangat kesal sekali karna tidak merasakannya!”

“Kalau begitu aku akan bangun!”

Dear Pandora Luna,

Besok hari ke-1000, aku habis berguru pada alam. Tetumbuh hijau, semilir, akar-akar, matahari, tanah gembur, sawah subur, semua isi alam mewarisiku sihir. Sihir untuk membangunkanmu.

Jangan buka mata dulu, sebelum matahari memejam, aku berada di sisimu mengucap mantra. Maka bukalah matamu. Tidak apa kalau lupa.

Sudah ada 1000 surat untukmu, Pandora Luna-ku.

Untukmu, dari Prabu Ralanangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s